Ia, hari ini adalah hari kamis. Pada jadwal pelajaran tertempel dibinder kuliah tertulis ada kuliah pukul setengah delapan pagi. Binder aku masukkan kembali ke dalam tas yang tidak pernah rapi. Karena sesak dengan barang-barang dan sudah usang, terlihat dari warnanya telah memudar dimakan waktu.
Sedikit kurang menarik untuk mengikuti perkuliahan hari ini. Dan Jam phonsel menunjukkan angka setengah delapan pagi. Keterlambatan ini mengusik kesantaian, mengingat pentingnya formalitas presesesnsi dan pengetahuan baru. Kegusaran saya rasakan tersebut tidak timbul berlebih, sebab teringat bahwa kebiasaan sang dosen pengampu mata kuliah ini sering terlambat. Kalau sedang terlambat tidak tanggung-tanggung bahkan bisa sampai satu jam. Sangat berbeda dengan kontrak-kontrak kuliah diawal yang hanya 15 menit.
Permasalahan keterlambatan tidak pernah sekalipun mengundang persolan. Mahasiswa senang bersantai tanpa tugas berfikir, sedang dosen biasanya mempunyai kesibukan lain lebih padat. Sudah selayaknya bagi saya untuk setia menunggui sampai datang keterangan bahwa ada halangan tidak hadir. Kemudian kita baru bubar meninggalkan kampus setelah ada kepastian.
kekosongan waktu biasa dimanfaatkan mengobrol sesama mahasiswa. Isinya mencangkup persoalan ruang lingkup pendidikan, sampai masalah sosial kaum proletar. Tidak akan ada habisnya selama pokok perbincangan seperti itu, selama berkumpul pasti ada mulut terbuka memulai perbincangan.