Selasa, 06 Januari 2015

DIBODOHKAN OLEH BERITA

Seberapa sering kita melihat, membaca, dan mendengar sebuah berita. Entah itu dari orang lain atau media, apakah kita benar-benar meyakini akan hal tersebut atau sekedar menganggap sebagai angin berlalu saja. saya harap kita seperti yang terakhir. Berita memang tidaklah salah, hanya saja juga tidak sepenuhnya benar.

Jurnalis sebagai pencari dan pengemas berita sampai ditampilkan ke tangan publik memiliki banyak sekali keterbatasan. Pertama adalah keterbatasan waktu untuk mencari berita yang dibatasi dengan deadline. ( Sebelumnya perlu saya garis bawahi berita saya maksud adalah kasus). Tekanan deadline telah membatasi kemampuan para pencari berita untuk mengkonfirmasi maksimal seluruh kalangan terkait. Istilahnya cover both site.


Kedua ketika berhadapan dengan narasumber langsung, seorang jurnalis akan diberi informasi terbatas, diarahkan, atau malah disesatkan. Informasi terbatas diungkap narasumber untuk menutupi kebenaran tengah ditelusuri jurnalis. Gambaran paling mudah tidak ada satu orangpun diindikasikan bersalah rela mengakui kesalahan diruang publik dan diadili masyarakat. Karena memang tempat pengakuan kesalahan paling etis dalam adat di kita adalah peradilan. Sedangkan masalah diarahkan biasanya identik dengan upeti kepada wartawan supaya membranding kasus, atau kompres. Langkah diambil jurnalis biasa menempatkan si pembayar menjadi sosok pahlawan. (cara kaya jurnalis).

Sedikit cerita, pernah pada tanggal 18 desember 2014 saya mendapat tugas mata kuliah untuk tandem bersama salah satu media cetak lokal di kota S. Kepentingan saya kala itu cuma mengambil foto dari liputan sang jurnalis saat liputan dilapangan. Dua hari sebelumnya salah satu lembaga pemerintahan didemo besar-besaran dan dapat dipastikan pula tidak ada media kecolongan untuk meliput. Hari ini (18/12) saya bersama salah satu jurnalis X ditelfon untuk meliput acara instansi diatas. Sampai disana tanpa pikir panjang langsung saja saya jeprat-jepret memfoto banyak-banyak di tengah keberlangsungan acara sampai selasai. (hasilnya bisa di lihat di blog iskakhakiki.blogspot.com bagian sampang). Begitu mau pulang tiada saya sangka mendapat uang saku sebesar RP dari wanita paruh baya berseragam dinas. Senyuk kecut menhampiri diriku dengan sedikit gerutu oleh wajah permediaan kita ditengah ucapan kata terimakasih. Padalah jelas-jelas di kantor ruang tamu media tempat tandem tertulis AJI. Menurut hemat saya berdasarkan film frekuensi serikat pewarta paling suci di banding PWI.

Ketiga, ketika informasi sudah tertuangkan dalam tulisan oleh tim Redaksional dianggap belum benar bila tidak sesuai keinginannya. Kebenaran berita menurut redaktur apabila sebuah berita ditampilkan semenarik mungkin untuk mengundang pembaca bereaksi. Caranya penggunaan dan pemilihan kata-kata bombastis, tidak peduli apakah itu sebatas persoalan sepele maupun besar. Belum lagi pembatasan berita harus dipaksakan oleh keterbatasan ruang halaman maupun durasi dari media bersangkutan. Inilah mengapa para konsumen berita fanatik benar-benar terbodohi oleh fakta-fakta ciptaan media. Kecenderungan kearah pembodohan itu disebabkan oleh besarnya ketertarikan kita akan jurnalisme negatif. Asumsinya masih berfikir berita jelek adalah informasi bagus untuk kita baca sebagai jendela dunia. Saya berani bertaruh apabila sebuah berita setiap satu narasumber diberi ruang penuh untuk berbicara dan para redaktur tidak menginterfensi. Pembaca tidak sudi untuk mengetahui duduk persolan masalah. Selama ini berita-berita hanya mengambil petikan, kata-kata, penuturan yang dianggap menarik bisa disampaikan ke publik.

Bukankah apa yang kita baca adalah mencerminkan bagaimana bentuk kepribadian seseorang. Sudikah jika diri kita menjadi manusia penuh duga, prasangka akan kebenaran masih dalam tataran ambigu.

Media tidak hanya berisi berita, ada ruang kolom gagasan-gagasan orang lain bisa kita baca. Sama-sama pembodohan lebih baik kita memilih membaca bagian ini. Dalam ruang kolom, opini, esai dan berbagai gagasan lain di media umumnya akan dipaparkan berbagai data dan fakta mendekati kebenaran. Sebab jauh penulis sebelum menyampaikan gagasan lebih dulu mencari banyak literasi pemikiran, pengalaman diri sendiri, maupun orang lain.

Catatan penting supaya tidak lagi terbodohi oleh pemikiran orang lain berhati-hati pada solusi-solusi ditawarkan. Ingat kembali bahwa solusi disini bukan lagi bentuk terbaik menimbang pada sistem demokrasi sedang kita anut.

Membuka jendela dunia itu sangat butuh untuk memperluas wawasan akan banyak hal akan dan persoalan. Berita yang dimuat oleh media-media massa boleh untuk dijadikan referensi tambahan, bukan utama. Sebab untuk saat ini kebenaran paling mendekati kebenaran bisa di jadikan rujukan utama adalah hasil penelitian maupun jurnal-jurnal terverifikasi. Jadi sebaiknya simpan kembali ideologi kita akan fanatisme media, tokoh, ideologi-ideologi dianggap populer pada masanya atau hal-hal kekinian.

Kamar kontrakan Graha Trunojoyo B7
06-01-2015


iskak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar