Bagiku untuk hari ini mungkin nilai adalah sesuatu yang amat penting. Hanya saja penting pada artian tidak sampai memasuki garis zona degradasi. Fungsi nilai bukan lagi sebatas tanda grade kapabilitas seseorang juga berguna untuk garis pengaman lancaranya berproses sampai akhir. Jadi, apabila ada seseorang memiliki nilai bagus memiliki kemungkinan bahwa apa yang ia peroleh bukan menggambarkan keadaan sebenarnya.
Semester kemarin saya timbul perasaan tersentil setelah menyaksikan apa yang alah satu teman kuliah alami. Dia orangnya aktif memang, banyak bicara, dan selalu mengkomunikasikan hal-hal remeh-temeh kepada dosen, tidak menutup kemungkinan juga menyangkut masalah pribadi. Naluri gelitik karena ada perbandingan tidak sesuai. Waktu itu apa yang saya lakukan dengan meremehkan pengetahuan dimiliki akan suatu mata kuliah bida jadi saya berdosa. Biarlah, toh faktanya ketika ditanya dan berbicara aplikasi, konsep terkanding di mata kuliah tersebut sangat kurang memuasakan. Tiba-tiba saja mengapa ketika pengumuman hasil ujian semester IPKnya sempurna. Cerita semacam ini hampir menyelimuti diseluruh institusi pendidikan tanah air.
Menilai fenomena ini tidak bisa juga saya memukul rata bahwa setiap dosen berlaku demikian. Walau penilaian atas dasar subjektivitas telah menaruh nila setitik dalam belangga susu. Asal suka dapat A, asal kenal semua bisa saja, andai sampai dikecewakan siaplah memikul sengsara. Alhasil iklim penilaian dari dosen mengarahkan pembentukan budaya mahasiswa kurang sempurna sebagai akademisi.
Revolusi bisa jadi tidak akan pernah terwujud satu hari. Pasalnya disana ada paradigma, tradisi, budaya, dan serapan pikiran kurang sehat. Baiklah disini ada kesamaan benang merah bagi semua dosen, guru, dan kiai. Mereka selalu menginginkan apa yang telah diajarkan tersampaikan dan bisa diterima dengan baik. Akan menjadi nilai tambah apabilaa mahasiswa, murid, atau santri bisa mengamalkan, dan menjalankan ajaran.
Permasalahan sosial seperti penyadaran subjektivitas dosen dalam menjalankan proses penilaian akhir belajar jauh lebih sulit. Ibarat di tataran tingkat pendidikan lebih rendah, seperti permasalahan bagaimana sesungguhnya kompetensi seorang pengajar kelabakan ketika akan UNAS saat menjadi penentu kelulusan. Dosen Yuliana Rahmawati pernah mengatakan apa yang kita sampaikan belum tentu membuat seseorang berubah sebab ini persoalan sosial. Unsur perubahan rata-rata didasarkan atas kesadaran dari diri sendiri.
Jebakan pemutusan asumsi, pendapat, atau opini seringkali diambil bahkan sengaja dipilih melalui kata tidak akan pernah selesai jika semua persoalan dikembalikan pada diri sendiri. Ternyata hemat saya tidak, saat kita berbicara mengenai pandangan buruk, padahal asumsi kita waktu itu sudah benar. Dasarnya kembali kepada proses selektifik untuk menampilkan respon. Darimana asalnya respon? Respon berasal dari buah pengalaman, pengamatan, ingatan, informasi selama ini pernah didapat, disimpan dalam kenangan.
Berlanjut pemilihan intuisi berlandaskan kebenaran ego sektoral merupakan buah pemikiran otonom tanpa mau mempelajari, membaca, dan mendengar kearifan dari pihak lain. Subjektivitas dosen kepada nilai bukan tidak mungkin berlaku demikian pula. Simpulan bisa di rumuskan dari orang demikian adalah tidak ada kekayaan referensi dimiliki, maupun kesalahan menaruh simpati. Teori jastifikasi perilaku dosen diatas dijelaskan Johari Window pada sisi blind.
Allah maha adil, sebab kenyataanya apa tengah berlangsung dalam ruang kuliah berupa transfer ilmu tidak benar-benar terjadi secara total. Proses penguasaan dan penerimaan ilmu masih kalah dibanding pada komunitas, kelompok belajar, dan penerjemahan pengalaman sehari-hari lewat teks.
Lantas apakah hari ini ketika nilai jelek akan memandang sebagai ketidakmampuan menguasai suatu bidang ,atau prihatin karena bisa tertinggal arus dan tidak akan mampu menciptakan arus baru? Jawabanya lihat esok hari saja, serta bisikkan kata “masihkah ada kepercayaan tersisa untuk kita?”
Kamar kontrakan, 02 maret 2015
Kamal
ISKAK

Tidak ada komentar:
Posting Komentar