Aku kira dulu semuanya mudah, gampang, tanpa ada banyak hambatan untuk menjalankan asumsiku mengenai kemalasan. Ya, satu dua hari setelah menulis demikian ambisi tersebut sangat besar meluap-luap seakan ingin cepat mencapai kesempurnaan.
Lain waktu cerita berubah. Andai saja saya terlanjur menyampaikan asumsi tadi kepada orang lain alangkah kecewa bagi mereka. Ya, sekarang tinggal kata ”kamu tidak perlu melakukan apa yang telah saya lakukan, tapi lakukan dari apa yang pernah tersampaikan lewat kata.”
Marah, patut dan sangat wajar untuk dilampiaskan kepada diriku. Karena hari ini saya juga benar-benar muak terhadap semua yang telah aku lakukan. Sepertinya ada benarnya ketika Gus Xanana bilang kalau banyak manusia tidak benar-benar sadar mengenai apa telah dilakukan. Sebab jiwa ini terperangkap dalam sebuah keadaan terjaga. Saya tahu persis setiap langkah telah saya ambil untuk mengisi kekosongan hari ini. Hanya saja tidak banyak mengandung arti, manfaat bagi sekarang masa esok, apalagi masa depan.
Ini sudah yang kesekian kali saya berdoa kepada Tuhan untuk menjadikan diriku media perpanjangan kuasanya. Sambil menengadahkan tangan sesusai ibadah shalat magrib optimisme keajaibat terperanjat tanpa henti.
Suara diluar kamar masih saja terdengar gemericik hujan. Mengalihkan perhatian sebenar setelah merasa cukup aku berdoa di waktu ini. Meski demikian sudah bukan waktunya untuk menggugat jalan Tuhan diberikan kepadaku. Jika dia makhluk bisa saja saya berpendapat untuk segera terkabulkan doa mencari teknik lain agar terlihat berbeda.
Saat ini aku butuh kebangkitan yang bagaimana lagi? Gelora semangat selama ini nyatanya tidak pernah bisa mencapai puncak. Dulu sekali sebelum punya laptop rencananya seperti ini. Dengan tersedianya komputer saya akan lebih mudah menulis, membaca, cari referensi, sehingga belajar akan menjadi lebih menyenangkan. Tugas dari dosen-dosen akan cepat selesai, cepat dikerjakan, dan lebih penting lagi belajar sehari-hari menyenangkan. Buktinya hari ini, aku masih sering telat mengerjakan tugas, menulis malas, melihat internet hanya untut chattingan, serta menikmati beragam pornografi. Sama sekali jauh dari kata senang belajar, malahan sebaliknya.
Contoh kedua adalah dengan pembelian kamera DSLR. Seolah beberapa bulan sebelum membeli tumbuh mimpi serupa. Apabila memiliki kamera DSLR saya akan lebih kaya akan karya, bisa mengabadikan momen-momen penting dengan bentuk dokumentasi lebih baik. Halangan lainpun muncul, karena timbulnya perasaan malu ketika mengambil gambar dari jarak dekat dengan seseorang belum dikenal. Dalam salah satu teori komunikasi dinamakan jarak komunikasi. Setiap orang punya jarak nyaman komunikasi masing-masing. Contohnya apabila saya akan berkomunikasi dengan seorang sahabat untuk mengobrol masalah kebirahian pasti tidak akan nyaman dengan jarak sepuluh meter, begitu juga sebaliknya.
Walaupun tidak banyak berarti mengenai apa yang telah saya tuliskan aku ingin membuat catatan. Catatan hari ini adalah mengenai godaan visual yang menjerumuskan akan kemalasan. Apa yang saya lihat dimasa lalu, dan hari ini lewat daya tarik kesenangan bisa jadi dari situlah mimpi dimulai. Berani bermimpi wajar apabila berani memasuki dunia impian tersebut secara utuh. Masalahnya terkadang hari ini kita benar-benar berada dalam mimpi tapi orientasi cara memberlakukan dunia masih seperti ketika belum tidur.
Kamar kontrakan, 01 maret 2015
Kamal, Bangkalan
Iskak

Tidak ada komentar:
Posting Komentar