Liburan akhir semester telah menyebabkan kampus menjadi senyap. Hanya tampak beberapa cleaning servis membersihkan lorong-lorong tampak kosong. Kemegahan bangunan cangkan dari lorong-lorong dan ruang kelas yang menjadi simbol peradaban keilmuan hilang. Tiada lagi ditemukan banyak fungsi darinya apabila kampus ditinggal oleh mahasiswa. Bangunan menjulang tinggi bernilai puluhan milyar hasil subsidi rakyat akhirnya sebatas simbolisasi semata. Simbol sekaligus penanda kalau dikampus tersebut pernah dijadikan tempat mencari ilmu ribuan orang pada bulan tertentu.
Disfungsinya sebagian ruang-ruang kampus mungkin terjadi terhadap seluruh kampus negeri lain. Andaikata mau bilang sayang atau mubadzir juga tidak bisa. Sebab dari sisi mahasiswa lebih banyak menyukai semua hari-hari tertanggal liburan. Sangat kontras apabila melihat mereka berteriak-teriak menggunakan pengeras suara menuntut berbagai fasilitas dan penyempurnaan tempat belajar secara memadai sampai mewah.
Mahasiswa memang seperti layaknya individu-individu lain di masyarakat. Ada yang alim, baik, rakus, main aman dan sebagainnya. Sekelompok kecil dari status akademik calon strata ini mengatas namakan semua dan menuntut banyak hal. Intinya ingin menciptakan tatanan sesuai kehendak sendiri. Kalaupun Tuhan memberi kesempatan mereka menjadi diktator atas sesamanya mungkin akan berlaku demkian. Tidak sebanding atara kata, keinginan dan tanggung jawab serta konsekuensi dari apa yang dilakukan. Jika sudah demikian baru aktivis katanya.
Sekarang meninjau kinerja para pimpinan kampus atau lembaga lain yang didanai oleh negara dari kaca mata saya . Sudah seharusnya jika pimpinan tersebut mekakukan berbagai terobosan optimalisasi pemanfaatan fungsi kewenangan. Optimalisasi bisa dari sumber daya manusia, serta sarana prasarana untuk kepentingan publik. Terlihat agak aneh apabila para pengelola kampus mebiarkan gedung-gedung dengan banyak ruang didalamnya itu sebagai tempat angker.
Mungkin mereka orang-orang tengah duduk santai bersama kursi kekuasaan terlalu sibuk untuk berfikir melewati jadwal agenda kerja. Mungkin bagi mereka sudah dianggap sebagai kesempurnaan apabila bisa melaksanakan seluruh kegiatan tanpa ada protes sana sini. Entah bagaimana hasil dan proses aplikasi kegiatan dari awal sampai akhiir mahasiswa biasa tiada bakalan mungkin mengerti. Contoh pelajaran baik di kampus ini adalah sekedar mengkaji buku serta persoalan jauh di luar sana bukan apa tengah berlangsung di sini.
Demokrasi memang ia, tapi transparansi dan keterbukaan segala informasi kepada publik masih jauh api dari panggang. Bukan bermaksud menuduh nyatanya demikian. Misalkan ada seorang anak kecil disuruh membeli garam seharga seribu tiga ratus lima puluh rupiah oleh ayahnya. Dan orang tua memberikan uang senilai dua ribu rupiah. Sebelum selesai transaksi pedagang memberikan sebagian kembalian uang dalam bentuk permen lalu si anak memakan permen sambil berjalan pulang. Apakah ini sesuatu yang salah atau patut untuk dipermasalahkan?
Dari orang-orang tidak ada hubungan dengan si anak maupun orang tua tentu ini menjatuhkan pilihan pertama. Dasarnya adalah bagaimana aplikatif nilai-nilai sosial dari kejujuran, tanggungjawab, keiklasan dan rela menolong tidak diterapkan si anak. Bagi si Ibu yang mengenal baik ayah, dan anak akan memaklumi kejadian tersebut. Pertimbangan ketidak patutan untuk mempermasalahkan dianggap unsur dorongan keadaan mengarahkan si anak berbuat demikian terlalu besar.
Lantas apakah kita akan melakukan pemakluman terus-menerus terhadap pengambilan sesuatu yang bukan haknya? Andai tidak dijadikan kesalahan fatal karena kita hanya melihat nominal dan jasa telah diperbuat begitu besar bukanlah langkah tepat. Kembali saya pertegas posisi sang anak adalah melaksanakan tugas dengan tidak ada perjanjian reward. Sekarang untuk berbagai proyek berlaku juga demikian dengan nominal ribuan bahkan jutaan kali lipat dari duit si anak. Semua berasal dari pajak-pajak rakyat.
Sikap dan pandangan manusia umum seringkali dikaburkan oleh banyak hal sehingga tidak terjadi sebuah teguran. Bisa dari rasa keinginan untuk selalu hidup enak penguasa lalu dia terus menerus berlaku demikian. Kemudian pemberian kesenangan sedikit kepada para pemukul pembangun opini publik untuk pengalih perhatian. Ujung-ujungnyapun mereka benar-benar menjadi manusia pelupa. selanjutnya diwaktu berbeda para mahasiswa juga akan menjadi penguasa.
berawal melihat lorong-lorong kampus yang kosong bisa menyangkut banyak persoalan lain. Mungkin memang demikian adanya. Pandangan suatu persoalan yang tampak kecil dianggap sepele bekum tentu kalau tidak ada bagian terpendam nan jauh lebih besar. Ibarat fenomena gunung es.
Kamar Kontrakan Perum Graha Trunojoyo B7.
07-01-2015
Iskak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar