Memaknai roman kecil setebal 132 halaman ini lebih kepada fakta pembalikan dunia. Dunia yang dibalik oleh kehidupan manusia beserta peraturan, norma, dan adat istiadat cipataanya sendiri. Haji Abdul seorang Konglomerat berasal dari desa Cibatok dihadapkan pada kemiskinan atas keputusan masa lampau. Tokoh utama Midah gadis dengan segala kemapanan memilih ketidakpastian hidup. ketidaktahuan orang lain akan catatan kelamnya oleh sebagian orang dijadikan Idola. Seperti itulah kalau saya menggambarkan sinopsis cerita dari roman karya Pramoedya Anantatoer. Ingin Lebih lengkap beli bukunya dan baca sendiri.
Sorotan pertama ingin saya tuliskan setelah membaca roman ini pada kebebasan. Pram melukiskan kebebasan merupakan daya tarik luar biasa bagi orang-orang selama ini hidupnya terkekang. Kebebasan seolah-olah mejanjikan segala hal terhadap kepuasan hati didunia. Nyatanya tipuan belaka, begitu benar-benar memasuki dunia kebebasan keadaannya lebih kejam dari pada kehidupan mengekang selama ini.
Adanya perintah, norma, hukum dan berbagai peraturan lain baik dari orang terdekat maupun masyarakat adalah sebuah kontrol sosial. Apabila kita tetap bersikukuh melawan pada pandangan idealisme pribadi akan menciptakan tekanan dari lingkungan masyarakat sekeliling. Pandangan mereka kita adalah noda, namun kemampuan bertahan atas berbagai derusan apa kata orang menjadikan kita sebagai mutiara.
Seburuk apapun perbuatan masa lampau itu telah terjadi, sedangkan yang akan kita hadapi hari ini dan esok adalah masa depan. Pemisahan historis merupakan sikap paling bijaksana sebagai umat manusia dalam menegakkan nilai-nilai kemanusiaan. Sebab kata pernah melakukan lebih baik dijadikan sebuah contoh riil kepada anak cucu, dari pada gunjingan.
Hidup bukan hanya persoalan mengurusi urusan perut semata, tetapi asupan psikologis jauh lebih dibutuhkan. kalau Abraham Maslow mengatakan tuntutan hidup berbentuk piramida sebagai lima hirarki kebutuhan dasar manusia tetapi sepertinya tidak sepernuhnya benar. Urutanya dimulai dari kebutuhan fisiologis, kebutuhan keamanan, kebutuhan penghargaan, dan kebutuhan aktualisasi diri.
Relevansi benar tidaknya teori Maslow terhadap manusia masih ditentukan oleh banyak faktor dan kepribadian seseorang. Misalkan saja bagi si Midah baginya aktualisasi diri melebihi bagaimana rasa aman didapat di hidup penuh kebebasan, karena dia lebih memilih menjalani dunia jalanan dibanding kemapanan tapi keberadaanya tidak lagi dianggap. Otomatis teori yang diajukan oleh Abraham Maslow diatas tidak lagi aplikatf.
Sebagai manusia berposisi menginginkan hidup pada jalan kenormalan seperti apa yang orang lain umumnya lakukan ada sikap tuduhan menyalahkan tentang langkah pilihan hidup Midah ambil. Kontradiksinnya berada pada misteri jalan hidup yang manusia jalani. Misalkan saja, apa yang saya alami saat ini sedikitpun tiada terpikirkan dua tahun sebelumnya untuk belajar ilmu komunikasi, mengingat latar belakang masa sekolah adalah SMK otomotif.
Menaruh keyakinan kita akan sesuatu paham memang bagus sebagai pijakan ketika kita benar-benar tergelincir atas perputaran roda dunia. Seperti apa yang dilakukan oleh haji Abdul. Sayang keyakinan di jalani tokoh tersebut berupa fanatisme. Fanatisme yang mengabaikan perkembangan dunia, dan menolak apa itu ilmu pengetahuan.
Beruntung penulis roman memberikan optimisme kemenangan dari sebuah perjuangan melalui ending tidak melankolis. Andaikata tidak demikian, penilaian saya sama saja penulis memberikan jalan kemurtadan bagi para pembaca dalam menyikapi buah usaha.
Catatan lain berupa pandangan fanatisme agama yang telah berasimilasi dengan idealisme utung rugi relatif menjauhkan diri manusia kepada bagaimana memandang manusia lain sebagai sesamanya. Nilai sama dimata Tuhan tergantung amal perbuatan dunia tertukar dengan harta, benda, dan inventaris dunia.
Kaya masih dianggap wujud keberhasilan, sebagian orang-orang lain seperti terhipnotis dari apa miliknya untuk sekedar mendengarkan celotehan biasa didiskusikan sesamanya. Misalkan orang kaya bicara seremeh apapun akan terdengar seperti lantunan ayat Tuhan bagi kalangan abangan. Strata sosial tinggi juga demikian. Tapi ada pengecualian bagi orang hanya mengandalkan modal pengetahuan Tinggi.
Ditempat ini banyak orang menaruh harapan besar pada perolehan derajat Strata 1 dan 2. Realitasnya tidak semua pengajar benar-benar orang-orang berkapabel, serta memiliki kompetensi sungguh profesional dibidangnya. Buktinya untuk penerbitan karya tulis seperti buku, jurnal, dan karya ilmiah saja sangat miskin. Namun, diantara sekian orang-orang itu ada beberapa orang telah memiliki jalan kebenaran menuju kemanusian terbaik untuk hidup ditengah masyarakat. Baik secara agama maupun nilai-nilai local wisdom. Sayangnya orang-orang seperti diatas tiada memperoleh tempat di mayoritas lingkungan akademisi. Tragedi sudah biasa di antara lembaga penghasil toga.
Kritik bagi roman mungil ini adalah terletak pada penguraian cerita. Saya yakin seandainya penggambaran kehidupan lebih diperpanjang akan lebih menarik dibaca. Wawasan didapat hasil dari belajar mengetahui dunia kehidupan manusia juga bertambah kaya. Harapanya bisa lebih membawa nilai-nilai kebijaksanaan lewat rekaman otak disulam melalui imajinasi-imajinasi terjemahan teks. Selanjutnya cukup mengucapkan terimakasih kepada penulis atas pelajaran hidup telah dibagi.
Salam hormat.
Kamar kontrakan perum Graha Trunojoyo B7 Madura
07-01-2015
Iskak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar