Waktu itu masih libur panjang semester. Saya dirumah menghabiskan waktu dengan kegiatan-kegiatan kurang bermanfaat. Menonton televisi, ke kebun, membaca, membuka jejaring sosial dan beberapa aktivitas lain. Semua rutinitas berputar terus-menerus, dijalani, dilaksanakan bukan atas dasar keinginan. Alasanya lebih kepada tuntutan kehidupan telah berbicara demikian. Walau keberuntungan diberikan Tuhan kepadaku lebih dari cukup.
Ekstrim sekali ketika kita melihat bagaimana jalan kehidupan ini terbentuk. Kendati demikian, ini merupakan selembar fakta dituliskan Tuhan. Untunglah diantara bermilyar-milyar manusia ada segelintir orang yang peduli kepada sesamanya. Mereka rela bersusah payah memperjuangkan hidup orang lain agar apa yang telah tertoreh dalam sejarah kelam tidak terulang.
Sungguh, sebuah ketulusan dibarengi niat suci. Ego dalam dirinya telah diredam, demi menjujung orang-orang dibawahnya. Inilah kemuliaan sempurna dari seorang guru. Mendidik, mencerdaskan, memberi jalan kehidupan kepada murid didiknya agar kelak tidak tersesat. Semua fakta ini lagi-lagi juga terbungkus dalah sebuah kebutuhan untuk melakukan tindakan tersebut. Bisa dibilang kita tidak lebih suka menjalani takdir peran yang ditentukan oleh sistem sosial sedang berlangsung dimasyarakat.
Terimakasih Tuhan, ucapan tidak banyak terlontar dari mulut ini sekarang aku tuliskan disini. Hari itu engkau telah menjadi lilin dalam gulita, pelita dalam gelap. Ucapan dari orang-orang sekelilingku adalah candu melekat dalam memori. Memang, saya belum bisa mengakui sepenuhnya sebagai seorang dengan kepercayaan teks.
Berdasarkan ukuran usiaku mestinya saya telah bisa menempatkan seorang perpanjangan darimu yaitu guru. Hanya saja saya baru sebatas bisa mengagumi dan memahami gelap terang sebuah sari pati hamburan jutaan kata keluar darinya. Sedang nada-nada petuah yang ditujukan untukku telah terasa indah merasuk menimbulkan penghambaan, pendewaan akan sosok.
Ditengah buaian itu kehendah akan perannya mengharuskan melanjutkan langkah hidup untuknya. Ia pergi bersama ayat-ayatMU. Saya hanya bisa ikhlas, semoga kemulian selalu menyertaimu.
Kabar gembira kemarin datang dari jalan yang dia tunjukkan diperjumpaan pertama. Sebenarnya saya pesimis, mengingat kemoloran kesepakatan telah kita buat bersama. Sekarang kegemetaran rasa takut menggerayangi dipaksa rontok. Bukankah komitment ini membangun kepercayaan diri berjalan kembali diatas jalan tadi. keterlambatan kita anggap saja sebagai sebuah toleransi budaya. Karena memang dari dulu budaya saya adalah polikronik.
Harapan kembali tersandar kepada Tuhan, semoga mentari ini bisa terbit. Apakah itu datang dari saya sendiri ataupun dari sosok lain. Tidak masalah menjadi penyangga asal tidak mebakar diri sendiri. Kenyataanya menjadi matahari akan lebih mempunyai kekuatan efek besar dari pada penyangga. Tetapi penyangga sesungguhnya adalah pengatur arah, rute, serta ketepatan penyinaran ditujukan oleh siapa. Sebab sampai saat ini tanda-tanda mentari seutuhnya belum ada.
Untuk guruku yang sedang melanglang buana ditengah rimba benton dan belantara disenyap suara deru motor. Jangan engkau cemaskan apa yang hari ini disini kita perbuat. Peradaban memang telah mundur, cita-cita idealisme jauh panggang dari api. Kamu pasti lebih mengerti bahwa belalang tidak pernah salah memilih padang safana. Yang jelas sebuah rumus tidak boleh terlupakan bagaimana memanusaikan manusia, saat kita benar menunjukkan jalan sebuah manusia pastilah diberikan kesempatan oleh Tuhan.
Kamar kontrakan, 11 maret 2015
Kamal, Bangkalan
Iskak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar