Danu akan memasuki pintu bertuliskan huruf X yang tersambung menjadi satu pada dua daun pintu. Hari itu suasananya sangat sepi dan tidak ada hembusan udara sehingga terasa sangat pengap. Ketika tanganya hendak meraih gagang pintu, tiba – tiba dari dalam ada tangan lain yang menarik pintu tersebut untuk membukakan. Sontak, hati Danu tersentak kaget setengah mati.
Perlahan – lahan wajahnya menengok keatas melihat wajah si Pembuka pintu, ”astaga!” itulah kalimat keluar dari mulut Danu tanpa disengaja setelah melihat wajah sipembuka pintu ternyata teman sekolahnya dulu yang dikabarkan telah meninggal sekitar 5 tahun.
Pikiranya rancu, jantungnya tidak henti – hentinya berdegub kencang, kakinya gemetar, mulutnya serasa terkunci, dan seluruh tubuhnya terasa membeku oleh rasa ketakutan yang menderanya. Lalu hinggaplah seekor nyamuk pada kaki kirinya untuk menghisap darah Danu. Ada rasa gatal dan perih kemudian ia menyadari bahwa ini bukanlah dunia mimpi.
Ehmm.... silahkan masuk!
Danu mengikuki langkah Gada sambil bilang “iya” dengan volume lirih. Mereka berdua pun duduk berhadap – hadapan.
“Bagaimana kabarmu sekarang?” tanya Gada sambil mengeluarkan sebungkus rokok.
“Mengapa kamu diam, apakah kamu masih berfikiran bahwa aku ini adalah setan?
Hah!
Ini coba pegang tanganku rasakan hangatnya tubuhku dan aliran darah dari detak jantungku.”
Danu meraih tangan Daga untuk membuktikan ucapan dia, ternyata dia merasakan bahwa Daga benar – benar masih hidup.
“ia aku percaya bahwa kamu masih hidup, sekarang coba kau ceritakan bagaiamana dirimu bisa selamat dari tragedi tersebut?” tanya Danu
“sabar dulu, ambilah minuman biar badanmu sedikit tenang.” Daga mengambil sepuntung rokok dan menyalakanya, gerakan itu diikuti oleh Danu yang mengambil air minum di atas meja. Setelah Danu menenggak beberapa kali ia pun ikut mengambil seputung rokok milik Gada untuk dihisapnya.
“Benar, kamu ingin tahu?” kata Gada.
“Baiklah akan aku ceritakan semua kalau begitu.”
Ceritanya begini Nu, waktu itu kurang lebih pukul tujuh malam. Suasana dikampung semula tenang – tenang saja. Malah beberapa saat setelah matahari tenggelam ayah pulang dari ladang dan bilang bahwa keesokan harinya akan ada hari ulang tahun kebesaran jamaah X. Aku sangat senang, seperti biasanya ketika hari ulang tahun jemaah, kita dibebaskan berbuat apapun sebagai hadiah dari Tuhan karena telah memelihara salah satu jalan kebesaranya.
“bukankah itu sesuatu yang keliru, jika manusia dibebaskan akan seperti binatang, tidak punya adab, primitif” potong Danu.
Jangan engkau potong dulu ceritaku!
Dengarkan saja jika kamu ingin tahu bagaimana aku bisa selamat.
Beberapa saat setelah pukul tujuh, terlihat cahanya terang dari ujung jalan. Cahaya itu semakin tampak mendekat. Sayup – sayup juga terdengar teriakan bunuh...! bunuh...!.
suara – suara dan cahaya itu semakin lama semakin nampak pasti bahwa menuju ke sini.
Ayah dan para warga lainya terlihat gusar sekali menghadapi situasi ini. Tetangga sebelah bicara keras dan mengatakan "itu adalah kelompok jemaah Y yang kemarin menggugat keadaan jemaah kita".
Tetangga lainya menyahuti “ bukankah jemaah Y sudah ditolak gugatanya oleh pengadilan, sekarang mau apa lagi dia?"
Belum sempat akau mendengarkan lebih lanjut percakapan itu Ayah dari belakang menyeretku. Aku dimasukkan kedalam sebuah lubang yang gelap. Kemudian ditutup dengan pohon pisang bersama dedaunan kering.
Adanya Cuma gelap, dingin dan rasa takut. Sebelum pergi ayah sempat bilang
“ kamu tetap diamlah nak, jangan bicara atau mengeluarkan suara sebelum nanti kujemput!" perintahnya. Akupun mengiyakanya, tanpa banyak membantah.
Diriku sekarang mulai mendengar jeritan, tangisan, dan teriakan – teriakan histeris gaduh.
Aku belum tahu apa yang sebenarnya terjadi, karena tidak berani keluar dari lubang persembunyian.
Beberapa saat setelahnya terdengar bunyi booommm..... dan cahaya api besar sekali, sempat melintas diatasku.
Nafasku sekarang sesak karena banyak asap masuk ,beberapa detik kemudian aku tidaksadarkan diri dengan apa yang telah terjadi. Baru keesokan harinya aku bangun di tempat berbeda. Aku berada di sebuah tempat tidur dari bambu beralaskan tikar. Setelah tersadar aku tahu bahwa tempat itu rumah nabi jemaah kami dan inilah rumah itu. Begitulah ceritanya, dan sekarang aku menggantikan beliau.
"Lantas apa yang membutmu bertamu kesini, apakah engkau menginginkan mukjijat dariku?" Gada balik bertanya.
"Tidak!" jawab Danu.
"Aku sekarang telah memilih jalan lain teman. Dan aku rasa itu lebih baik dari pada jalan primordial yang sekarang kau tempuh," sambung Danu.
"Apa maksudmu?"
"Begini Ga, lebih baik engkau ikut jemaah Y saja!"
"Semua umatmu tinggal engkau beri sedikit khotbah dan mereka akan mengikuti jalanmu. Nanti kamu akan saya beri kedudukan kepala bagian 1, jika berhasil masuk jemaah Y dan memilih ketua kami untuk menduduki jabatan Demang, saya jamin itu"
"Ciihh...!!!"
"Bedebah kau Nu..!!!!!!!"
"Cukup engkau saja yang murtad!"
"Aku tetap menjunjung tinggi nilai politik, tetapi meski di sucikan akan tetap kotor oleh godaan jabatan. Akhirnya meraka mejadi bajingan bangsat penghisap rakyatnya sendiri.
Dimana nuranimu?"
"Bukankah engkau sudah merasakan kebebasan satu hari sebagai hadiah Tuhan di ajaran X."
"Jadi engkau menolak tawaranku kolor ijo, lihat dirimu sendiri!"
"Engkau juga banyak merusak para gadis – gadis kampung dengan dalih ritual."
"Dasar anjing kamu!" bantah Danu.
"Lalu kamu mau apa hey, jika aku menolaknya!" gertak Daga.
"hahhahahhha.... Akan aku ratakan semua kampung ini seperti waktu itu." dengan sombong Danu berucap.
"Penghianat!!! "
"Biar, semua aku lakukan untuk kepentingan keluargaku."
"Sebelum kamu lakukan itu, aku akan membunuhmu lebih dulu,"
sambil bertepuk tiga kali, kemudian munculah semua prajurit maupun warga yang siap berperang.
Danu terdiam sejenak kemudian melarikan diri dengan meloncati pintu secara cepat.
Keadaan tenang sebentar karena Gada membiarkan Danu lari. Tetapi beberapa saat kemudian Danu kembali bersama pasukan jemaah Y.
Perangpun tidak dapat dihindarkan sampai kedua kubu saling berjatuhan korban. Tidak pernah diketahui siapa yang menjadi pemenang karena sesaat kemudian air laut naik 10 m diikuti sedikit goncangan bumi.
Selesai membaca ikbal menutup kitab kuno yang ia temukan pada kotak di hamparan pasir pantai. Ia meliat kelangit secara cepat terbelah oleh dua garis berpotongan tegak lurus. Mana yang X dan Y dia tidak bisa membedakan jika berada dalam semesta. Mungkin semua terlihat beda karena bidang tempat menggariskan itu terlalu kecil, dan terlanjut disepakati kalau X harus dirubuhkan biar Y tetap tegak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar