Baru saja kebeberapa hari kemarin medengar khotbah jum’at yang mengatakan bahwa “jagalah sehatmu sebelum datang sakitmu.” Tidak ada yang spesial atau unik dari kata – kata ini. Namun beberapa hari setelahnya aku menderita sakit. Wah, apakah ini kebetulan belaka, atau hanya sekedar teguran Allah untuk mengingatkan diriku yang terkadang berpaling darinya.
Percaya tidak percaya aku tidak akan melakukan testimoni seperti iklan tong fang dengan memanfaatkan kesakitanku kemarin. Hanya saja aku ingin sedikit berbagi masalah pernah menimpa diri saya, ciiieeee... ehhhmmm . Pertama ketika sakit apakah kamu sempat memikirkan persoalan lain lebih besar dari pada kesakitanmu sendiri? Kedua pernahkah ketika sakit kamu menghubungkan sama ketetapan Allah atau teguranNya? Ketiga saat berobat kedokter pernahkah kita menganggapnya dia hanya sebagai medium perantara dari Allah? Keempat saat dirimu sakit kamu akan lupa akan semua ini.
Maksud pemecahan empat bagian adalah upaya perenungan diri atas derita kesakitan pernah dialami. Siang ini diriku berfikir menemukan jawaban untuk point pertama. Untuk point selanjutnya saya anggap itu sebuah relatifitas subjektif diri kita saja. Jika ada yang menggugat kenapa dituliskan bila itu sebuah relatifitas? Jawabanya adalah, itu bagian dari kacamataku dan mungkin bisa menjadi tambahan kepusingan buatmu.
Sakit itu sebuah spesialisasi perhatian diberikan oleh Allah kepada salah satu anggota tubuh kita. Benarkah demikian? Langsung saja kepada contoh. Ketika tanganmu sakit, sepanjang waktu dirimu akan mejaga tangan itu agar tidak tersentuh orang lain lalu bertambah sakit, saat dirimu sakit gigi tanganmu akan memegang dagu untuk menahan nyut..nyut...tembus ke otak. Kecuali saat otakmu benar – banar lagi sakit kamu tidak akan berfikir lagi apamu yang sakit, malainkan memandang orang lain sebenarnya normal kau anggap sakit, orang yang sebenarnya mengerti atau tahu kau anggap bodoh, aku yang seharusnya ganteng kau anggap gantengnya sedikit berkurang he he hehe..
Bukan sebuah keterlambatan jika sudah terlanjur sakit, tidak ada nasi yang menjadi bubur. Yang berlalu merupakan garis takdir dari Allah untuk dilalui tampa bisa dilompati. Meskipun begitu, diharamkan hukumnya melakukan bentuk kepasrahan kecuali sakit otaknya. Cobalah kita mempedulikan diri kita sendiri secara fisik sebelum melakukan kegiatan. Memberi perhatian kepada seluruh lekuk tubuh dengan cara memandangi, memegang, merasakan dilanjut mengurusnya.
Kesimpulan dari semua celotehan tulisan agak belepotan tadi adalah sakit itu karena diri kita kurang memberikan perhatian terhadap anggota tubuh sendiri. Semua telaah larinya kepada “rasa.” Seandainya kepedulianmu terhadap kesehatan paru – parumu dengan rokok ya silahkan, karena ini hanya masalah persoalan rasa yang membangun sugesti terhadap diri diimbangi dari berbagai pengalaman seputar kesehatan. Contoh lainya bila kamu pernah mendapatkan sosialisasi kesehatan perut dengan menelan tahi kucing, yang monggo silahkan, tetapi gunakan sedikit saja otakmu untuk berfikir tentang hal itu sebelum kau lakukan.
oke.. salam sehat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar