Kamis, 02 Januari 2014

lamunan tafsir meraih kuasa



Memperbalikkan dunia melalui kiasan kata tentu tidak semudah halnya orang-orang yang bergelut didunia sastra. Saya lebih memilih untuk berfikir secara rasional sesuai kapasitas pemahaman logika pada otak daripada memelintir kata dan berfikir dua kali dalam memahaminya. Misalnya ungkapan ketika melihat matahari pagi bukan ”terbangunya sang surya dibalik kecantikan jejeran dua paronama alam” tetapi
akan saya katakan ”matahari itu muncul dari balik bukit gunung kembar.” Rasa seni terasa seperti sudah benar-benar mati dalam benak pikiran ini, sekarang polanya bukan terletak pada masalah estetika melainkan tuntutan kebutuhan.

Keindahan, keunikan hanya diperuntukkan pada mata orang-orang belum banyak melihat hal serupa dengan objek itu. Karena semua sudah menjadi anugerah Tuhan, bila dihubungkan pada kepemilikan tentu semua miliknya juga,begitupun dengan kuasa. Menyamainya pada kehidupan dunia jelas bentuk output yang ditampilkan punya rasa lebih tinggi diantara sesamanya. Rasa lebih tinggi paling tinggi secara umum pada masyarakat kita adalah pemimpin yang berkuasa. Belum ada ruang jelas bagi orang-orang punya intelegensi diatas rerata.

Analogi saya berasumsi orang berkuasa di Indonesia bukan berarti orang itu sudah lebih hebat pemikirannya dari yang lain melainkan kewenangan miliknya mengangkat dia  menjadi hebat. Semua tergantung  kesempatan, keberuntungan serta undian demokrasi dalam memperoleh derajat ”kuasa”. lalu mengapa kekuasaan harus dijadikan tujuan maupun cita-cita hidup, bukankah itu belut licin dalam sembunyi lumpur politik yang kotor?

Sungguh najis pemikiran orang seperti  ini selalu memanfaatkan hak dari yang lainya demi sebuah tahta. Kendati kita dilahirkan sebagai individualis bukan serta merta dipolitisasi karena faktor kebutuhan penghidupan kesejahteraan yang lebih baik. Kebaikan penggunan wewenang orang banyak atas nama individu tanpa menghiraukan kerugian manusia lain apa bedanya dengan nafsu. Nilai nenek moyang mewariskan paradigma perbuatan yang didasarkan pada nafsu seharusnya tidak dibenarkan menurut ideologi kita (baca:orang timur). Alasanya sangat simpel sekali itu adalah tidak baik.

Pangkal politik baik manusia ada pada kebaikan bagi semua, bukan kebaikan bersama. Kebaikan bersama seperti yang digadang-gadang pemerintah saat ini nyatanya sangat baik bagi penerima jatah kue manis kekuasaan. Lumpur kotor dari politik telah menjadikan banyak aktor aman dari tuduhan pertanggungjawab moral kemanusiaan atas status yang disandangnya. Taktik penjualan idealisme pikiran dijadikan rayuan pada masyarakat banyak untuk menggalang dukungan. Pada sisi  sebagian besar masyarakat  tidak pernah tahu bahwa dibalik itu semua mereka punya idiologi tersendiri yang harus di golkan. Buktinya sangat jelas dari politik pemerintahan kita yang membangun koalisi sehingga partai berkuasa tidak akan melakukan realisasi janji kampanye, karena ancaman pelengseran oposisi lebih menakutkan bila tidak merangkul partai lain dalam menggalang kekuatan.

Mental berkuasa telah menggeser manusia dari hakikatnya untuk terus saling mengingatkan satu sama lainya bukan mencari celah kesalahan sebagai senjata penjatuhan eksistensi lawan. Seorang guru di SM pernah mengatakan bahwa ”setiap manusia adalah ayat yang dikirimkan Tuhan untuk manusia lainya.”




Pertanyaanya beranikah politik sekarang mengakomodasi hak-hak semua anggota masyarakat terlebih dahulu tampa membebankan kewajiban. Saya rasa semua tahu kita terlahir dalam bentuk bayi lemah tergolek lemah di tempat tidur dan Tuhan memberikan semua hak-hak kita melalui suara tangisan tampa dibebankan tuntutan kewajiban. Senada dengan proses natural kehidupan, politik terbaik untuk semua masyarakat juga begitu seharusnya.

Kekuasaan, sumber terbatas, dan sumber daya alam selalu diperebutkan tidak jarang berujung pada konflik. Tampa adanya transformasi ideologi dan lunturnya nafsu berkuasa pada masyarakat kita sangat mungkin sekali ketika masyarakat di negara belahan dunia lain sudah berwisata atau bahkan migrasi  ke planet Mars hanya bisa melotot dan meneteskan air liur pada depan layar televisi. Paling tidak saya harus memulai paradigma sendiri agar tidak menjadi sama seperti lainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar