Memperbalikkan dunia melalui
kiasan kata tentu tidak semudah halnya orang-orang yang bergelut didunia
sastra. Saya lebih memilih untuk berfikir secara rasional sesuai kapasitas
pemahaman logika pada otak daripada memelintir kata dan berfikir dua kali dalam
memahaminya. Misalnya ungkapan ketika melihat matahari pagi bukan ”terbangunya
sang surya dibalik kecantikan jejeran dua paronama alam” tetapi
akan saya
katakan ”matahari itu muncul dari balik bukit gunung kembar.” Rasa seni terasa
seperti sudah benar-benar mati dalam benak pikiran ini, sekarang polanya bukan
terletak pada masalah estetika melainkan tuntutan kebutuhan.
Keindahan, keunikan hanya
diperuntukkan pada mata orang-orang belum banyak melihat hal serupa dengan
objek itu. Karena semua sudah menjadi anugerah Tuhan, bila dihubungkan pada
kepemilikan tentu semua miliknya juga,begitupun dengan kuasa. Menyamainya pada
kehidupan dunia jelas bentuk output yang ditampilkan punya rasa lebih tinggi
diantara sesamanya. Rasa lebih tinggi paling tinggi secara umum pada masyarakat
kita adalah pemimpin yang berkuasa. Belum ada ruang jelas bagi orang-orang
punya intelegensi diatas rerata.
Analogi saya berasumsi orang berkuasa di Indonesia
bukan berarti orang itu sudah lebih hebat pemikirannya dari yang lain melainkan kewenangan
miliknya mengangkat dia menjadi hebat. Semua tergantung kesempatan, keberuntungan serta undian
demokrasi dalam memperoleh derajat ”kuasa”. lalu mengapa kekuasaan harus dijadikan
tujuan maupun cita-cita hidup, bukankah itu belut licin dalam sembunyi lumpur
politik yang kotor?
Sungguh najis pemikiran orang
seperti ini selalu memanfaatkan hak dari
yang lainya demi sebuah tahta. Kendati kita dilahirkan sebagai individualis
bukan serta merta dipolitisasi karena faktor kebutuhan penghidupan
kesejahteraan yang lebih baik. Kebaikan penggunan wewenang orang banyak atas
nama individu tanpa menghiraukan kerugian manusia lain apa bedanya dengan
nafsu. Nilai nenek moyang mewariskan paradigma perbuatan yang didasarkan pada
nafsu seharusnya tidak dibenarkan menurut ideologi kita (baca:orang timur). Alasanya
sangat simpel sekali itu adalah tidak baik.
Pangkal politik baik manusia ada
pada kebaikan bagi semua, bukan kebaikan bersama. Kebaikan bersama seperti yang
digadang-gadang pemerintah saat ini nyatanya sangat baik bagi penerima jatah
kue manis kekuasaan. Lumpur kotor dari politik telah menjadikan banyak aktor
aman dari tuduhan pertanggungjawab moral kemanusiaan atas status yang
disandangnya. Taktik penjualan idealisme pikiran dijadikan rayuan pada
masyarakat banyak untuk menggalang dukungan. Pada sisi sebagian besar masyarakat tidak pernah tahu bahwa dibalik itu semua
mereka punya idiologi tersendiri yang harus di golkan. Buktinya sangat jelas
dari politik pemerintahan kita yang membangun koalisi sehingga partai berkuasa
tidak akan melakukan realisasi janji kampanye, karena ancaman pelengseran
oposisi lebih menakutkan bila tidak merangkul partai lain dalam menggalang
kekuatan.
Mental berkuasa telah menggeser
manusia dari hakikatnya untuk terus saling mengingatkan satu sama lainya bukan
mencari celah kesalahan sebagai senjata penjatuhan eksistensi lawan. Seorang guru
di SM pernah mengatakan bahwa ”setiap manusia adalah ayat yang dikirimkan Tuhan
untuk manusia lainya.”
Pertanyaanya beranikah politik
sekarang mengakomodasi hak-hak semua anggota masyarakat terlebih dahulu tampa
membebankan kewajiban. Saya rasa semua tahu kita terlahir dalam bentuk bayi lemah
tergolek lemah di tempat tidur dan Tuhan memberikan semua hak-hak kita melalui
suara tangisan tampa dibebankan tuntutan kewajiban. Senada dengan proses
natural kehidupan, politik terbaik untuk semua masyarakat juga begitu
seharusnya.
Kekuasaan, sumber terbatas, dan
sumber daya alam selalu diperebutkan tidak jarang berujung pada konflik. Tampa adanya
transformasi ideologi dan lunturnya nafsu berkuasa pada masyarakat kita sangat
mungkin sekali ketika masyarakat di negara belahan dunia lain sudah berwisata
atau bahkan migrasi ke planet Mars hanya
bisa melotot dan meneteskan air liur pada depan layar televisi. Paling tidak
saya harus memulai paradigma sendiri agar tidak menjadi sama seperti lainya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar