kedipan lampu charger handphone terus menyala beraturan sampai ion-ion baterai didalamnya terisi penuh. Hembusan kipas angin mengalir tanpa henti sampai aliran listrik di diputus. Semua benda itu adalah ciptaan, karya, atau karsa manusia. Jadi apakah benda tadi sebenarnya tiada dan diadakan sama yang ada, atau kehadiranya sudah ditakdirkan?
Lalu siapakah yang ada? Manusiakah? Tidak, itu tidak mungkin. Bukankah ada itu karena kita merasakan kehadiranya melalui indra, bila ditimbang dari suara terbanyak mungkin Tuhanlah sebenarnya yang benar-benar ada di tengah ketiadaanya.
Jangankan berfikir untuk menanyakan eksistensi wujud Tuhan dalam kitabpun kita tidak diperkenankan memikirkan bentuk, rupa, atau wujudnya. Manusia hanya boleh meyakini karena keyakinan itulah eksistensi agama bagi mayoritas penganutnya. “Jangan jadikan pikiranmu kafir, sampai kau membayangkan wujud Tuhanmu sama dengan makhluknya.” Paling tidak itu antitesis ampuh bagi seluruh pertanyaan umat.
Setidaknya dari gelombang pikiran ini saya mendapat gambaran bahwa dengan kita tidak boleh memikirkan bagaimana asal muasal Tuhan, kita bisa belajar mempercayai akan adanya kebenaran wahyu. Logikanya mempercai adanya Tuhan dengan media keajaiban gaib, atau keagunganya.
Kenyataaanya sekaraang saya adalah makhluk nyata dan harus memperbanyak fikiran realis daripada mistis. Suatu kebodohan bahwa makhluk nyata terus menerus mengorek dunia gaib, sedangkan kehidupan kita didunia terpenjara oleh belenggu kemiskinan dan hidup serba kekurangan. Bukankah surga itu semua bakal tercukupi, jangan-jangan surga memang bukan planet biru. Jika begitu untuk apa kaya? Untuk apa hidup serba mewah? Pasti ini rantai bibit kebodohan yang jelas manusia punya akal dan pikiran dari itulah timbul keinginan hidupnya lebih baik, dan lebih baik lagi.
Sementara pada era sekarang kita digiring pada suatu jalan kehidupan instan. Seluruh tenaga kita harus ditukar dengan barang keinginan bukan kebutuhan. Kebangkitan rasa konsumtif tidak sadar perlahan-lahan mengakar di alam bawah sadar. Bisa jadi lilitan dunia modern inilah yang merubah kiblat tatanan dunia baru. Dunia bukan seperti hukum termodinamika lagi pada gambaran uji coba filsafat Nietzsche. Disitu ditetapkan bahwa titik terendah bumi adalah dingin atau rakyat jelata. Sekarang dunia begitu panas oleh gelombang ekonomi dan global warming. akhirnya hidup dan matilah menjadi pelarian orang untuk dalih meninggalkan urusan dunia. Memang jangka waktu hidup seseorang mempunyai rentang waktu tersendiri bagi setiap orang.
Apakah suatu ketakutan terbesar manusia bila semua suratan takdir di lauful ma’fud dibuka. Payah betul manusia jika mengharap itu terjadi. Bukankah itu sama saja kita mempercayakan pada absensi Tuhan atau kurang lebih mengharapkan skenario hidup dijalankan oleh para normal bukan? Dunia pastilah tidak berkembang bila benar itu terjadi, semua tidak mau berusaha melawan kontradiksi keadaan saat ini. Satu lagi makhluk pembaca blog inipun tak pernah bisa tahu kalau ada tulisan ini di internet.
Kamu mau apa? bukankah kenyataanya hampir semua penemu-penemu dalam catatan kamus berbandrol dua puluh ribu itu sebagian besar orang eropa dan amerika. Tidak baik mengelak atau memperdebatkan sesuatu fakta dengan memutar-mutar yang sudah jelas berakhir 360 derajat.
Mereview sebuah buku ”Zen Untuk Pemula” karya judith blackstone & zoran josipovik. Digambarkan bagaimana perjalanan manusia didunia esensinya adalah mencari pencerahan. Jika manusia sudah tercerahkan dia akan menemukan yang namanya kebenaran
Buku dengan tampilan komik itu menceritakan bagaimana susahnya manusia menemukan siapa dirinya. kemudian setelah melihat siapa dirinya manusia baru bisa menerima pencerahan untuk mendapatkan kebenaran sejati. Kebenaran sejati harus ditemukan sendiri walaupun kata-kata dari para pendahulu biksu sudah bagus. Dalam agama banyak perkataan, maupun catatan kehidupan bagaimana hakikat kebenaran manusia tetapi bukanlah sebuah filsafat. Sebab disini tidak ada pementahan atau semacam antitesis dan semacamnya. Prinsip dasarnya ”Perkataan suci dari orang lain tidak berlaku bagi anda karena setiap individu mempunyai kepribadian berbeda”.
Meditasi adalah alat untuk mengantarkan kesendirian jiwa manusia demi memperoleh sebuah ketenangan rohani. Mungkin bagi orang awam (red: pengikut bukan biksu) cukup menjadikan dirinya berguna bagi semua umat manusia. Itulah keseimbangan hidup katanya.
Konsep alliran sekte budha ini setelah seorang individu benar-benar menduduki tingkatan spiritual tinggi dengan sendirinya membantah bahkan mematikan semua kebenaran tentang Budha pada awal pembelajaran. Mulanya saya berfikir mana bisa maju suatu kelompok manusia jika harus menyerahkan hidupnya untuk kerohanian saja.
Jawaban pada kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa negara Jepang, korea, dan China penganut Zen menjadi negara maju. Analisis saya secara sederhana berdasarkan berita atau gambaran kebudayaannya saat ini mengatakan bahwa: para rakyat Jepang, korea, dan China sangat mematuhi peraturan dengan tingkat disiplin tinggi serta budayanya dijunjung tinggi alhasil etos kerjapun meningkat. Kok, kerja padahal di atas tidak disinggung? Mereka mau berfikir demi kebaikan dirinya yang menjadikan semua kebudayaan tadi tidak ditelan secara mentah-mentah dan tetap ada fikiran realis.
suatu ungkapan kebenaran dari orang hebat seperti apapun belum tentu bisa mengantarkan kita pada sukses karena perjalanan hidup dan pilihan melintasi rentang waktu adalah milik kita.
Lalu siapakah yang ada? Manusiakah? Tidak, itu tidak mungkin. Bukankah ada itu karena kita merasakan kehadiranya melalui indra, bila ditimbang dari suara terbanyak mungkin Tuhanlah sebenarnya yang benar-benar ada di tengah ketiadaanya.
Jangankan berfikir untuk menanyakan eksistensi wujud Tuhan dalam kitabpun kita tidak diperkenankan memikirkan bentuk, rupa, atau wujudnya. Manusia hanya boleh meyakini karena keyakinan itulah eksistensi agama bagi mayoritas penganutnya. “Jangan jadikan pikiranmu kafir, sampai kau membayangkan wujud Tuhanmu sama dengan makhluknya.” Paling tidak itu antitesis ampuh bagi seluruh pertanyaan umat.
Setidaknya dari gelombang pikiran ini saya mendapat gambaran bahwa dengan kita tidak boleh memikirkan bagaimana asal muasal Tuhan, kita bisa belajar mempercayai akan adanya kebenaran wahyu. Logikanya mempercai adanya Tuhan dengan media keajaiban gaib, atau keagunganya.
Kenyataaanya sekaraang saya adalah makhluk nyata dan harus memperbanyak fikiran realis daripada mistis. Suatu kebodohan bahwa makhluk nyata terus menerus mengorek dunia gaib, sedangkan kehidupan kita didunia terpenjara oleh belenggu kemiskinan dan hidup serba kekurangan. Bukankah surga itu semua bakal tercukupi, jangan-jangan surga memang bukan planet biru. Jika begitu untuk apa kaya? Untuk apa hidup serba mewah? Pasti ini rantai bibit kebodohan yang jelas manusia punya akal dan pikiran dari itulah timbul keinginan hidupnya lebih baik, dan lebih baik lagi.
Sementara pada era sekarang kita digiring pada suatu jalan kehidupan instan. Seluruh tenaga kita harus ditukar dengan barang keinginan bukan kebutuhan. Kebangkitan rasa konsumtif tidak sadar perlahan-lahan mengakar di alam bawah sadar. Bisa jadi lilitan dunia modern inilah yang merubah kiblat tatanan dunia baru. Dunia bukan seperti hukum termodinamika lagi pada gambaran uji coba filsafat Nietzsche. Disitu ditetapkan bahwa titik terendah bumi adalah dingin atau rakyat jelata. Sekarang dunia begitu panas oleh gelombang ekonomi dan global warming. akhirnya hidup dan matilah menjadi pelarian orang untuk dalih meninggalkan urusan dunia. Memang jangka waktu hidup seseorang mempunyai rentang waktu tersendiri bagi setiap orang.
Apakah suatu ketakutan terbesar manusia bila semua suratan takdir di lauful ma’fud dibuka. Payah betul manusia jika mengharap itu terjadi. Bukankah itu sama saja kita mempercayakan pada absensi Tuhan atau kurang lebih mengharapkan skenario hidup dijalankan oleh para normal bukan? Dunia pastilah tidak berkembang bila benar itu terjadi, semua tidak mau berusaha melawan kontradiksi keadaan saat ini. Satu lagi makhluk pembaca blog inipun tak pernah bisa tahu kalau ada tulisan ini di internet.
Kamu mau apa? bukankah kenyataanya hampir semua penemu-penemu dalam catatan kamus berbandrol dua puluh ribu itu sebagian besar orang eropa dan amerika. Tidak baik mengelak atau memperdebatkan sesuatu fakta dengan memutar-mutar yang sudah jelas berakhir 360 derajat.
Mereview sebuah buku ”Zen Untuk Pemula” karya judith blackstone & zoran josipovik. Digambarkan bagaimana perjalanan manusia didunia esensinya adalah mencari pencerahan. Jika manusia sudah tercerahkan dia akan menemukan yang namanya kebenaran
Buku dengan tampilan komik itu menceritakan bagaimana susahnya manusia menemukan siapa dirinya. kemudian setelah melihat siapa dirinya manusia baru bisa menerima pencerahan untuk mendapatkan kebenaran sejati. Kebenaran sejati harus ditemukan sendiri walaupun kata-kata dari para pendahulu biksu sudah bagus. Dalam agama banyak perkataan, maupun catatan kehidupan bagaimana hakikat kebenaran manusia tetapi bukanlah sebuah filsafat. Sebab disini tidak ada pementahan atau semacam antitesis dan semacamnya. Prinsip dasarnya ”Perkataan suci dari orang lain tidak berlaku bagi anda karena setiap individu mempunyai kepribadian berbeda”.
Meditasi adalah alat untuk mengantarkan kesendirian jiwa manusia demi memperoleh sebuah ketenangan rohani. Mungkin bagi orang awam (red: pengikut bukan biksu) cukup menjadikan dirinya berguna bagi semua umat manusia. Itulah keseimbangan hidup katanya.
Konsep alliran sekte budha ini setelah seorang individu benar-benar menduduki tingkatan spiritual tinggi dengan sendirinya membantah bahkan mematikan semua kebenaran tentang Budha pada awal pembelajaran. Mulanya saya berfikir mana bisa maju suatu kelompok manusia jika harus menyerahkan hidupnya untuk kerohanian saja.
Jawaban pada kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa negara Jepang, korea, dan China penganut Zen menjadi negara maju. Analisis saya secara sederhana berdasarkan berita atau gambaran kebudayaannya saat ini mengatakan bahwa: para rakyat Jepang, korea, dan China sangat mematuhi peraturan dengan tingkat disiplin tinggi serta budayanya dijunjung tinggi alhasil etos kerjapun meningkat. Kok, kerja padahal di atas tidak disinggung? Mereka mau berfikir demi kebaikan dirinya yang menjadikan semua kebudayaan tadi tidak ditelan secara mentah-mentah dan tetap ada fikiran realis.
suatu ungkapan kebenaran dari orang hebat seperti apapun belum tentu bisa mengantarkan kita pada sukses karena perjalanan hidup dan pilihan melintasi rentang waktu adalah milik kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar