Jumat, 21 Februari 2014

TITIK CINTA

Selamat pagi dunia, meskipun disetiap paginya aku tidak melihat mentari tetap saja hawa dingin ini mampu menembus kamar kontrakanku. Ukuran kamar 2,25m x 2,75m dengan diding bercat hijau penuh paku untuk menggantung baju, tas, dan pakaian itulah gambaran kondisi kontrakanku. Cukup nyaman untuk saat ini karena tidak ada lagi omelan Bu Dhe yang selalu menagih hutang ini itu seperti semester satu kemarin. 

Hari ini masih cukup pagi, tetapi malam harinya saya
mengerjakan tugas bersama Aji. Teman yang lain sebenarnya hadir hanya saja riris dan ike tidak mau ngumpul di kantin hukum. Rasa terganggu serta risih mulai timbul dari celotehan Dian dan Katin. Mereka berdua terus mengoceh tentang cinta akibatnya membuat kehadiran yang lain seperti tidak ada. 

 Tiba-tiba temanku Putut datang. Grrrr.. takut perasaanku melihat kedatangannya. Rupanya dia mau mengambil kunci kontrakan karena Wawan tidak kunjung pulang dari jam satu siang kemarin. Tidak ada lima menit Puthut pulang duluan. 

Setelah beberapa saat aku sangat antusias sekali mengerjai mereka agar tidak ngoceh cinta lagi. Telingaku bosen sekali mendengar gaya mereka berbicara. Dampaknya kejailanku malam itu mungkin menimbulkan sakit hati pada Dian. Bagaimana tidak kunci motornya aku sembunyikan sampai dia putus asa ingin melapor satpam.

Biarlah mereka marah padaku, saya benci mendengar gossip cinta mereka. Cinta, cinta, dan cinta lagi obrolan dua makhluk ini. Bagiku cinta adalah perasaan pribadi tidak usah dipamerkan pada semua orang. Toh nanti semua merasakan sendiri-sendiri. Apa tidak kurang novel, cerpen, tayangan FTV dan movie dilayar kaca mengangkat tema tentang cinta.

Astaga, ternyata aku sendiri tidak sadar kalau virus itu telah menjangkitiku sampai harus menulis untuk kang Citra. Uhh... malu aku sekarang mengapa tulisan itu aku kirimkan bukankah itu kebodohan lain. Ini bisa jadi sejarahku, semua yang sudah terjadi tidak usah diungkit kembali. Ok.

Ini saya mau cerita pengalaman kemarin mengenao teori cinta oleh seorang guru kurang saya suka tapi saya ingat. Dulu masa sekolah SMP oleh guru bahasa Indonesiaku diterangkan pertama kali tentang cinta. Setiap kali pak Teja masuk kelas semua pada heboh terutama Kasim. Kedatanganya oleh anak-anak waktu itu sangat ditunggu-tunggu. Bukan pada pembahasan materi pembelajarannya tetapi pada kotbah cinta berbau pornonya. hehehe

Dibalik setiap kotbahnya guru jarang masuk itu memberikan petuah demikian bahwa cinta itu menipu lalu mengaburkan matamu. Cinta itu tidak usah dipaksakan nanti suatu saat dalam hidup kamu akan menemukan sosok perempuan tercantik, tetapi wanita itu tidak begitu cantik menurut ukuran orang lain itulah jodohmu. Katakan saja pak Teja berkata demikian ” istriku itu tidak cantik menurut sebagian orang, karena dia berbadan cukup besar, meskipun begitu aku sangat mencintainya nak. Bagiku dia adalah kasur bergerak yang semuanya empuk serta enak buat selimut.” Sontak seluruh kelas tertawa riuh menjadi gaduh.

Apabila seluruh manusia menemukan cintanya mengapa sangat sulit meraihnya? Apakah sisi cinta pada wanita itu menginginkan yang lebih dari suatu perasaan? Lalu apa benar persepsi “rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya, dan kenikmatan pangkal paha”?

Cinta itu bagiku tidak lebih dari perasaan bahagia dan sedih. Menurutmu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar