Kamis, 03 oktober 2013
Mas nofianto ( Jombang/ kota beriman ) mengatakan bahwa “ sejarah adalah kebohongan yang disepakati ” di akhir diskusi masyalah Lenin dan leninisme. Diskusi yang kedua ini tidak begitu memberikan kepuasan padaku. Kesimpang siuran informasi artikel dari internet malah mengarah pada kebingungan karena tidak tahu siapa yang borbohong siapa yang tidak. Hasil plagiat atau bukan tidak ada bedanya semua menjadi bebas saat didunia maya. Peerkataan mas Dafir “ semakin tidak berguna “ seakan menjadi label pengikut saat mengutarakan sesuatu tetapi sebenarnya tidak mengetahui yang menjadi pokok akar permasyalahanya.
Merujuk pada kata ploletarian seakan ikut merasa menjadi bagian saat teringat kehidupanku di sebuah desa tanah kelahiranku. Hidup dipedesaan itu jauh dari jangkauan internet, keramaian kerumunan orang, kebisingan kendaraan, hidup menjadi terisolir oleh pemerintahan yang menjadi anak tiri menyedihkan. Melihat iklan pencalonan president dengan berbagai gombalan janji manis sama saja saya melihat bahwa sayalah generasi selanjutnya yang akan menindas anda. Bagaimana tidak orang – orang desa yang bekerja sebagai petani musiman berangkar keladang pukul tujuh pagi dan pulang tanpa ukuran waktu setiap harinya.
Saya memang pesimis kepada pemerintah tetapi juga bangga apabila mendapatkan hak – hak saya sebagai warga negara. Jangan kau anggap egois jika belum tahu bagaimana merasakan susahnya menjadi orang yang kekurangan. Suatu kenyataan hidup sungguh pahit yang harus diterima bahwa menjadi orang pinggiran itu membawa kesengsaraan dan mendekatkan kekufuran pada Tuhan. Janji Tuhan yang menjadi embun penyegar adalah “ lebih mudah jalan orang miskin yang sabar menuju surga, dan lebih mudah lagi bagi orang kaya yang dermawan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar