Lebih dari sekedar cukup untuk memikirkan apakah saya termasuk orang lucu atau bukan? Jawaban diperoleh masih sama, tidak. Terkadang disaat sendirian seperti sekarang persoalan seperti ini terpikirkan. Sebab di mata saya orang yang bisa lucu dan melucu merupakan senjata paling ampuh untuk memobilisasi keakraban. Jadi setiap tahapan alur percakapan tidak lagi monoton, serius ketika diselingi candaan.
Lucu atau melucu dilakukan orang paling umum lewat cara-cara mempermalukan pihak lain atau diri mereka sendiri. Seperti apa kata paman waktu lebaran sebelum saya masuk SMK,” pelawak itu secara tidak langsung sedang menumpuk dosa tampa mereka sadar”. Sebab dari cerita lucu yang disuguhkan kepada publik sebagian besar berpotensi mengandung hinaan, pembodohan, ejekan, olok-olok dsb.
![]() |
| Dari kiri pembaca Ilham Hiyadatullan dan Dafir Fallah |
Penuturan singkat Paman ketika lebaran seolah rasanya begitu melekat. Maka dari itulah tanpa banyak bertanya pembenaran dosa kelucuan itu terjadi. Sampai sekarangpun pandangan demikian seakan semakin benar dan dibenarkan oleh lingkungan. Contoh, ketika melihat gelagat mas Nofianto Puji Imawan menghibur teman-teman disaat berkumpul bersama. Dengan enteng tanpa beban apapun, siapapun bisa mendadak dijadikan objek kelucuan.
Kalau bagiku secara pribadi sih lumayan biasa karena memang telah terbiasa jadi sasaran tembak. Asal senang, bisa menghibur tidak apalah, toh faktanya ada kalanya terasa getir. Agak sedikit berbeda ketika lontaran kalimat itu menohok teman lan yang memiliki sifat agak sensi mengenai urusan pribadi. Misalkan Diyan Tri Utari, atau Riris Aditya Ningrum kelihatan sekali kalau mereka meradang, bercampur, sebel, benci, dan ketagihan bisa jadi, tapi khusus untuk saya tidak.
Berangkat dari keanehan diri yang tidak lucu ini mencoba mengomentari ulah teman-teman dalam melucu. Awal bukan bagian dari sebenarnya sebuah tabiat membahagiakan orang ketika bisa melihat hasil lewat ekspresi mereka. Senyum, tawa merupakan wujud paling umum, alami, tulus ditampilkan atas reaksi pengalihan maupun penghilangan beban pikiran. Sekarang kita bisa tertawa saat ada salah seorang teman kita mendapat musibah, sial, dipeorok, direndahkan derajatnya, dll. Padahal keinginan tertawa sendiri ditimbulkan oleh stimulus yang timpang tidak, sesuai harapan rata-rata. Misal, ketika diberi cerita oleh seorang teman, bahwa kemarin sebelum sekolah saat buang air besar Mustaji di jamban tradisional papan tempat dia nongkrong ambruk. Mustaji bercerita kepada Ike dikeesokan harinya, bahwa dia harus keramas lima kali untuk menghilangkan sisa bau kotoran tempatnya berendam. (red: tidak lucu jangan gusar, selera kita berbeda)
Masih berkaitan dengan mengapa saya tidak bisa melucu, asal muasalnya ada pembawaan gaya bercerita saya sangat buruk. Contoh riil suatu ketika teman satu kontrakan bilang ada tragedi kecelakaan kerja tetangganya. Tetangga teman saya itu mengupas sabut kelapa dalam bahasa jawa nyumbat kelapa dan tertusuk tangannya sampai harus dibawa kemantri, makanya ibu teman saya hari ini menunda tanam jagung untuk menengok korban, katanya kepada saya. Langsung saja datangnya stimulus tersebut mengingatkanku akan cerita tetangga mengalami hal serupa tapi tidak sama. Cerita yang ingin saya sampaikan kepada teman saya terlalu lucu banget dalam ingatan, efeknya bahak tawa berhamburan dulu keluar dari mulut lama tidak bisa berhenti (hihihihihi..). Begitu cerita tersebut saya paksakan sambil tertawa atau setelah tertawa nilai lucunya hilang, hambar, tinggal akulah yang diketawain karena kering. (???) Dia tidak merasa ada kelucuan karena sudah muak lebih dulu saat melihat lontaran ekspresi tawa dariku.
Padahal ceritanya begini, Paiyem (bukan nama sebenarnya) merupakan sosok seorang istri yang patuh kepada suami. Perkerjaan pasangan ini adalah sebagai petani campuran. Semua tanaman asal dianggap butuh dan bernilai jual tinggi dia miliki. Hari itu keluarga Paiyem ini panen raya kelapa, ia ikuut membantu dengan nyumbat kelapa untuk dijual. Entah kenapa tiba-tiba sumbat (alat pengupas sabut dari batok) kelapa berbentuk pipih hampir mirip linggis ini meleset dan menusuk selangkanganya (ahh,,). Spontan Teriaklah paiyem karena dasar orang latah, maka dia dengan kerasnya berteriak minta tolong sambil menyebut alat kemaluanya yang tertusuk dalam bahasa jawa. Serentak para warga geger menuju sumber suara dan dengan jumlah orang yang banyak Paiyem ditelanjangi serta dibopong sampai rumah sambil menanti mantri datang. Layaknya bagian itu merupakan ranah privasi wajarlah mereka mengamati secara detail bentuk, model, dan lain-lain. Apalagi ternyata mantri yang menolong juga memiliki naluri cabul, sehabis menolong maka mantri itu membeberkan kepada hadirin proses pencabutan sumbat tersebut. Sampai ekspresi korbanpun dijelaskan secara lucu dan cabul seperti desahan “aduh mas, aduh mas, sakit-sakit, mas.” Kurang lebih hot topik obrolan warga seminggu itu adalah pendeskripsian kemaluan Paiyem beserta bumbu cerita saat berhubungan intim dengan suaminya. Kalau sekarang bisa dibilang memakai gaya seperti ini bagaimana, dan kalau seperti ini bagaimana pula ekspresi ditampilkan. Untunglah paiyem merupakan perempuan vulgar, akan perbincangan masalah seksual, sehingga tidak sampai terjadi bentrokan sosial akibat sumbat selangkangan.
Mungkin hambar, dan tidak bisa membangkitkan imajinasi untuk membuat lucu. Andai pembaca bisa memiliki kemampuan membayangkan bagus atau pengalaman agak mirip mestinya sangatlah lucu cerita ini. kalau orang yang bercerita kepada saya waktu itu bukan main daya ledak tawanya. Semakin menarik karena saat bercerita ekspresi dia sangat datar, santai, dan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
Sebagai penutup tulisan ini saya mengapresiasi terhadap orang-orang pandai menghibur orang lain lewat kelucuan. Melalui kelucuan pula sesuatu yang sakral, tinggi, dihormati, dijunjung bisa jatuh cair seketika, meluluhkan sebuah kebekuan tata sosial masyarakat. Terimakasih komedian, terimakasih pengolok-olok, saya yakin kamu akan bisa melucu luar biasa saat bercerita balokan bata meluncur dimukamu sampai gigimu rontok. (kwkwkwkwkwkwkw)
Kamar kontrakan, 06 maret 2015
Kamal, Bangkalan
Iskak

Tidak ada komentar:
Posting Komentar