18 hari sudah saya sejak pertama kali menginjakkan kaki di tanah Madura. Awal yang baru dan menuntut untuk perubahan pembaharuan pikiran, ilmu, serta pengetahuan lebih segar. Kala itu, sebelum berangkat dari rumah niat dan restu kepada kedua orang tua mengiringi. Ucapkan kata terindah terlantun sambil menundukkan kepala. Seraya berfokus menghubungkan diri dengan kekuatan langit semesta alam, sugesti tersebut diresapkan kedalam tubuh sebagai energi baru. ini cerita, tetapi sialnya saya bukanlah seorang pencerita baik.
![]() | |
| liburan menjelang semester 4. Bukit diatas rumah, ditengah ladang petanian |
Cerita memang berkaitan erat dengan masalah selera. Namun hari ini waktu luang saya untuk kembali mengevaluasi apa-apa saja tengah dilakukan selama disini. Untuk memulai merumuskan pertanyaan pertama saja terasa cukup canggung. Padahal saya berbicara tentang diri sendiri, bukan orang lain. Mungkin ini pulalah yang dialami oleh orang lain saat ingin bertelanjang diri mengorek-orek apa saja telah dilakukan di masa silam. Sangat masuk akal pula bahwa realita berita dikabarkan media massa akan tragedi menimpa para pemangku kekuasaan. Mereka kelabakan, berdalih, dan balik menuding, mengancam ketika disangkutkan pada persoalan hukum oleh perseorangan maupun lawan politik atas adanya sebuah perilaku diluar kewajaran.
Benarkah dengan apa yang telah mereka lakukan? Andai benar mengapa dia tidak menunggu jalanya proses hukum yang dituduhkan. Bukankah timbulnya perasaan lain ketika sikap reaktif belebihan lewat ekspresi takut, was-was, geragapan yang esensinya pertanda dari adanya kesalahan itu sendiri.
Saya bukan hakim, dan tidak diberi kekuatan gaib oleh Tuhan untuk mengetahui apa-apa yang terdapat dalam benak mereka. Saya hanya sebutir mahasiswa yang takut untuk mengorek diri sendiri akan sejarah telah terlampaui. Kata biarlah sejarah yang mencatat memberikan sebuah bayangan lain akan setumpuk permasalahan. Saya juga takut untuk memandang keterbelakangan ketika berada di depan. Anehnya naluri ini tanpa berfikir panjang tetap berani melangkah. Walau terkadang langkah itu adakalanya menemui padang dan ilalang sama.
Kemajuan berserta perubahan lebih banyak diimpikan semua makhluk yang ada dimuka bumi ini agar ada perbaikan takdir. Tetapi terkadang bagi makhluk ditakdirkan semesta memiliki tangan atau ketika makan tidak langsung memasukkan kemulut (perantara tangan untuk mengambil) dijustifikasi sebagai binatang serakah. Tipikal makhluk yang tidak percaya akan kemampuan alam atas pembagian untuk esok hari. Menimbun, menyimpan, dan mengumpulkan sebanyak-banyaknya agar bisa menciptakan takdir hidup but dirinya diesok hari. Survive, bagian wujud tawaran radikal kehidupan telah dipilih demi mengejar kepastian datangnya nanti.
Saya bersama manusia lain bisa jadi dengan sedikit malu mengatakan bahwa kelaparan itu lebih menakutkan dari pada kematian. Sebagai gambaran dikampus Trunojoyo ini pula banyak orang mempercayakan masa depan melalui pendidikan supaya tidak hidup susah, dihina, direndahkan oleh orang lain. Berfikir pragmatis untuk memperingan saat berbicara kehidupan sambil mengkerutkan dahi.
Rasa-rasanya apabila arus itu telah menyeret sosok saya alangkah berengseknya lingkungan ini dengan apa yang saya ketahui mengenai apa itu gemerlap kehidupan. Inginya banyak orang bicara kemajuan, tetapi kemajuan seperti apa dan bagaimana bila landasan dipakai bedasarkan perhitungan profit oriented.
Lima menit hampir berlalu, saya masih belum menemukan titik paling besar dalam diri saya untuk dievaluasi supaya mampu menghasilkan daya melesat jauh kedepan. Biar bagaimana kata adagium kalau orang tak mengenal dirinya maka tak mengenal Tuhanya. Ya, dengan jujur hati menjawab bahwa saya belum mengenal Tuhan. karena itulah sampai hari ini masih tetap menjalankan ibadah, beserta ajaran dibebankan. Menjengkalkan bukan, lantas bagaimana lagi. Toh buktinya saya masih mengikrarkan syukur kepada Tuhan.
Setelah buntunya melakukan evaluasi inilah kuputuskan konsep yang harus dijalani untuk kedepan. Pertama menjunjung tinggi waktu, sebab waktulah yang membuat kita bernafas sampai dititik ini. Lewat waktu pula besarnya kemungkinan kita mengakiri peran sebagai manusia (kematian). Alhasil waktu itu merupakan buah keadaan fleksibel. Waktu bisa dipadatkan secara maksimal maupun direnggangkan bebas sejauh mungkin. semakin menjadi padat berarti semakin memuat banyak isi, nilai, dan bobot dikandung. Kedua membangun komitmen disetiap urusan. Tujuan setelah bisa menerapkan komitmen adalah tercipta prestasi kepercayaan. Kepercayaan datang dari apresiasi orang lain maupun berasal dari dalam jiwa. Sebab para penceramah di televisi sering bilang kalau apa yang kita lakukan waktu lampau menjadi pondasi hari ini atau esok. Kalau kemarin pondasi itu 50 cm maka, kita akan butuh lebih tinggi lagi untuk memudahkan menyentuh angka 100 cm.
Banyak baca, banyak lupa. Banyak janji juga akan lebih banyak yang diingkari. Saya tidak ingin terulang kembali perseteruan batik akibat kerumitan sebuah prinsip hidup dijanjikan masa lalu. Lebih baik melakukan apa yang terbaik untuk hari ini agar muncul bibit-bibit kebaikan baru.
Kamar kontrakan, 04 maret 2015
Kamal Bangkalan
Iskak

Tidak ada komentar:
Posting Komentar