Rabu, 04 Maret 2015

BUDAYA DAN BER-AKIK

Siapa kira kalau kita ditakdirkan menjadi sebuah makhuk bernama manusia. Tiada pilihan, ataupun sempat memilih dan dipilihkan. Seringkali atas ketidakmampuan menjelaskan bagaimana identifikasi berasal maka terciptaklah kesepakatan bernama takdir, agama, maupun kepercayaan lain.

Apakah ini karena semata kita adalah makhuk satu-satunya spesies dimuka bumi yang mampu menciptakan tanda? Sangat mungkin bagi saya sebagai bagian dari manusia mengatakan bisa jadi. Buktinya manusia telah menciptakan tanda bagi dirinya, makhluk lain, alam, bahkan mengenalkan realitas ke-Tuhanan kepada yang lain.

Wajar bila kaum posititivis memberikan pandangan atau asumsi, terhadap manusia dan materi alam lainya bahwa manusia senatiasa manusia bergerak secara deterministik-mekanis. Hasil pergerakan puluhan tahun proses evolusi manusia tersebut telah menurunkan jutaan informasi kepada keturunya sampai tercipta sebuah kebudayaan dan pengetahuan seperti sekarang. Laboratorium menjelaskan keadaan ini adalah sejarah, meski dengan kepincangan maupun multiversi.


Budaya yang konon diciptakan atas dasar latar belakang adanya karsa, karya, cipta, dan rasa masih diyakini pendefinisiannya oleh sebagian kalangan masyarakat. Sedang bagi masyarakat lain tidak begitu penting sebuah pendefinisian sebab dengan adanya definisi berarti telah membatasi sesuatu hal menjadi sempit. Pelaksanaan wujud dan hasil kongkret kebudayaan lebih penting. Pandangan ini akan lebih bagus menurut hemat saya bila diberikan sentuhan pandangan penganut materialis kalau proses terjadinya budaya tidak terlepas dari sentuhan materi-materi disekitarnya. Alhasil akan membuahkan sintesis setelah bercampur dengan jutaan informasi telah tertanam sebelumnya. Wujudnya dalam kehidupan sehari-hari biasa disebut sebagai skill. Maka mengapa timbul berjuta perbedaan budaya didunia sesuai dengan alam lingkungan tempat mereka hidup. Orang eskimo mampu membuat rumah dari balok es, membuat mantel tebal, orang Jepang pandai mendesain rumah tahan gempa, atau sebagian suku di negara kita menciptakan rumah panggung untuk daerah rawan banjir dan pasang air laut, dsb.

Kaitan dengan proses perjalanan sampai kepada penemuan batu-batu mulia berdasarkan penilaian saya pribadi beriringan dengan bagaimana kebudayaan manusia berkembang. Termasuk terciptanya batu akik dan sepopuler saat ini. Walau batuan mulia bukanlah kebutuhan primer manusia, tetap saja rasa keinginan memiliki ada bagi semua orang yang mengenal batuan dari nilai tukar, atau sekedar pemuja keindahan lukisan alam dimedium batu bernama akik.

Apabila batu mulia seperti intan, rubi, merah delima, safir sudah populer lebih dulu. Mengapa akik agak terlambat dalam menyusul kategori kasta batu permata? Saya akan mencoba menyampaikan jawaban atas pertanyaan itu lewat berbagai pengalaman saya akan hal ini, terutama ketika menjadi bagian kelompok sosial masyarakat di kampung halaman.

Masih segar dalam ingatan ketika masih sekolah dasar saya melihat batu akik yang dimiliki oleh ayah. Itulah mungkin awal saya mengerti bagaimana rupa dan bentuk batu mulia bernama akik. Akan tetapi ayah tidak mengenakan cincin batu akik itu secara terus menerus, ada saatnya dilepas, dan kalau bepergian selalu dipakai. Apabila dirpersentasekan akan lebih banyak disimpan dari pada dipakai.

Pernah suatu kali saya menanyakan kepada paman mengapa dia tidak memakai cincin batu akik? Jawab dia memang karena tidak punya dan tidak mempunyai minat akan batu akik. Setelah akan memasuki masa sekolah menengah pertama saya lebih mengerti kalau batu akik itu konon ceritanya memiliki kekuatan gaib. Didalam batu tersebut bersemayam jin, setan, atau kodam.

Kurang lebih saya masih sekolah di menengah tingkat atas, lewat penjelasan teman seangkatan yang kebetulan saudaranya menjual jimat dan saya diterangkan sedikit mengenai ajimat. Dia mengatakan kalau kodam tidak hanya terdapat dalam cincin akik, tetapi juga melekat di berbagai benda pusaka. Bahkan dia menawari saya untuk membeli produk tersebut kepada saudaranya yang juga berprofesi sebagai ahli spiritual. Kala itu pengaruh dukun masih terlalu kuat, apalagi ketika mengeluarkan analis, prediksi, serta ramalan terhadap sesuatu persoalan. Sedang menurut hemat saya pribadi saat ini tidak lebih dari asumsi-asumsi disertai sugesti belaka.

Dampak paling bisa dirasakan dari adanya legitimasi pembangunan opini seorang dukun membuat komersialisasi kodam lewat pusaka, atau media benda laku dipasaran bagi kalangan tertentu. Cincin akik berperan menjadi bagian media terpenting dari pusaka, kodam, jin karena dari bentuknya yang simpel, memiliki corak bagus, dan fungsi memukul lawan ketika terjadi perkelahian ditengah perjalanan.

Acuan mengapa saya mengatakan demikian adalah orang-orang yang lebih banyak memakai cincin akik tersebut masa itu hanya para pemangku pemerintahan (pamong), pemimpin kegiatan spiritual, orang-orang dianggap penting serta berpengaruh. Sedangkan kalangan petani sendiri kalaupun punya jarang sekali digunakan, biasanya cukup disimpan, sepeti yang dilakukan ayah saya. Kalau golongan orang yang saya sebut diatas hampir bisa dipastikan telah menjadi bagian asesoris utama tubuh. Salah satu sugesti dibangun ketika memakai batu cincin berkodam adalah saat berbicara lebih berkharisma, dan bisa menundukkan lawan bicara.

Belakangan ini akik sebagai cincin batu mulia lokal meledak populer. Penggemarnya bahkan merambah kepada kalangan muda. Buktinya beberapa teman kuliah saya hari ini tidak sedikit menggunakan baru akik, padahal dulu jari-jarinya bersih dari asesoris apapun. Tampaknya mereka juga terpengaruh dari ulasan media-media mainstream seperti televisi nasional makin sering menyajikan informasi tersebut kepada publik. Dulu masa k-pop juga demikian. Efeknya daya jual dan kepopuleran batu akik saat ini lebih kepada nilai estetikanya, daripada kandungan mistik.

Pernah ketika liburan semester 3 saya sempat menonton tayangan sebuah stasiun televisi adanya berbagai komunitas pecinta batuan mulia yang memiliki kekerasan kurang dari 7 mohs ini. Bukan hanya forum dalam lingkungan sehari-hari, penelusuran saya dalam media internet menemukan forum-forum dalam dunia maya. Tidak sulit mencari teman untuk berdiskusi di media sosial soal batu akik tersebut. Lapak jual beli dalam jaringanpun mulai dilirik oleh para produsen, atau penjual. Saya contohkan situs dalam jaringan beralamatkan http://www.batuakikkeraton.co.id menawarkan tidak kurang dari 34 varian batu akik beserta harga-harganya.

Coba menelaah fenomena batu akik pada periode pertama. Pada saat itu pembangunan opini masyarakat dan penyebaran budaya bercincin akik lebih kepada pandangan primordial. Pasalnya bila usut-diusut nenek moyang tempat lingkungan saya tinggal adalah peninggalan agama Hindu yang telah mempercayai kekuatan animisme dinamisme sebelum di Islamisasi. Karena proses islamisasi tidak memboyong budaya Arab untuk ditanamkan bersama agama maka timbullah akulturasi.

Paradigma kekuatan gaib dari sebuah benda tidak dijustifikasi sebagai bid’ah. Pengalihan bahwa kekuatan terdapat di pusaka atau cincin akik lebih kepada berasal dari Allah. Akik tetap dijadikan media mendatangkan kekuatan gain.

Toleransi terhadap kearifan budaya lokal masih tinggi sepanjang tidak mengganggu kerukunan agama lain. Sikap toleransi dan masih dipilihnya dukun sebagai penafsir, maupun analisis sosial tidak lain karena faktor rendahnya tingkat pendidikan dikenyam masyarakat. Diperparah adanya penciptaan sakralisasi oleh tokoh spiritual jebolan pondok salaf yang masih menjunjung tinggi keajaiban wali-wali penyebar agama. Pengaruh lain akan masuknya kepercayaan pada kekuatan adanya kodam dalam cincin akik diajarkan juga oleh sebagian pendidikan silat berkembang ditengah masyarakat.

Meski zaman telah berubah dan logika manusia menghantarkan kepada realitas serta kepastian tidak serta merta kepercayaan terhadap adanya isian kodam dalam batu akik memudar. Hanya saja tidak bisa dipungkiri kalau eksistensi batuan tersebut tergeser melalui pembentukan paradigma batu akik oleh opini dibangun media media.

Media telah berhasil membangun opini publik dan budaya baru mengenai cara menempatkan batu akik. Besarnya mistisisme terkandung tidak lagi menentukan nilai sebuah batu akik. Corak, motif, dan keunikan warna lebih ditekankan. Dasar pembangunan opini publik bahwa batu akik itu bagus, penting, dan berharga lewat penguatan cerita sejarah tokoh-tokoh besar pernah menggunakan cincin akik. Misalnya nabi Muhammad dahulu ketika menjadi kepala pemerintahan dia pernah memakai, para pemimpin negeri seperti Sukarno, Soerharto, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono juga memakai. Ibarat rumus iklan rokok, meski tidak menghimbau untuk memakai batu akik tetap saja menimbulkan metafora kepada khalayak bahwa batu akik erat dengan sosok seperti itu. Keadaan ini timbul tidal lain dari sifat manusia sendiri sebagai makhluk pencerita (homo narash).

Hari ini budaya mamakai batu akik dianggap lumprah, tidak ganjil atau menciptakan stereotip tua. Kita sebagai bangsa Indonesia patut untuk bersyukur atas partisipasi masyarakat menjadikan batu akik sebagai bagian permata batu mulia. Terlepas apakah mereka benar sebagai korban yang namanya teori jarum hipodermik atau atas dasar motivasi lain.

Titik penting mengapa kita patut bersyukur mengenai pembudayaan batu akik ini disebabkan ketersediaannya dialam Indonesia masih melimpah. Menurut sebuah berita harian kompas bahwa hanya Jakartalah satu-satunya provinsi di tanah air yang tidak memiliki sumber daya alam batu akik. Label batu akik dan Indonesia sanagt mungkin dilekatkan sebagai bagian branding wisata apabila eksploitasi serta pengolahan batu dimaksimalkan oleh berbagai pihak.

Daya tarik potensi pengembangan masih terbuka lebar untuk menambah nilai ekonomi kerakyatan mengingat batu akik ini diproduksi oleh industri rumahan notabenya kalangan menengah kebawah. Kembali kepada hukum materialisme dan kapitalisasi cincin batu akik akhirnya.

Budaya dan ekonomi memang tidak bisa dipisahkan begitu saja. Keduanya akan saling menyesuaikan dan mengisi satu sama lain. Ibarat statment Dahlan Iskan dalam buku sepatu Dahlan kalau kemiskinan telah memicu sikap berbudaya dewasa lebih dini. Tanah kita adalah tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman adalah ungkapan bagaimana besarnya potensi kekayaan Indonesia dituliskan pada lagu kolam susu.

Emas, intan, berlian, dan permata memiliki kasta batu mulia dengan nilai tukar mata uang begitu tinggi. Batu akik dulunya tidak demikian, padahal rasa keingingan masyarakat akan kebutuhan asesoris demi memenuhi kebutuhan akan penghargaan diri dan hak milik tinggi. Batu akik mengambil celah tersebut dengan nilai tukar nominal lebih fleksibel. Namun kesenjangan harga pada batu akik karena perbedaan jenis batu maupun motif tetap memiliki sisi egaliter yaitu akik.

Akik kedepannya riwayamu juga akan ditentukan oleh revolusi budaya yang terjadi dimasyarakat. Entah itu oleh pembangunan opini media maistream kembali ataukah oleh media dalam jaringan. Pastinya apabila penciptaan batu akik sintesis dan plastik terus dibiarkan beredar luas dipasar, sedangkan pemerintah tidak ikut campur dalam regulasi, menciptakan lembaga sertifikasi seperti halnya emas sangat mungkin akan kembali lagi posisinya terdegradasi sebagai perhiasan marginal dan puritan.

kamar kontrakan, 03 maret 2015
Kamal, Bangkalan

Iskak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar