Hampir setiap malam menjelang tidur setiap kali ada kesempatan saya menonton acara-acara tv berbau mistis. Sebut saja acara itu ditayangkan pada stasiun televisi milik konglomerat Cairul Tanjung. Alur cerita yang disajikan dalam acara tersebut sebenarnya sama dari satu episode ke episode lain.
Alurnya kurang lebih seperti ini. Pertama opening mengenai tempat lokasi uji nyali, terus sang pembawa acara membuka dengan sedikit ritual oleh praktisi spiritual. Tujuanya untuk meyakinkan penonton bahwa tempat yang akan dijadikan lokasi uji nyali benar-benar anker. Selanjutnya peserta langsung didatangkan untuk langsung memulai acara inti.
Dalam acara tersebut peserta diperintahkan untuk menceritakan segala kejadian yang ditangkap oleh perasaan indra, fenomena, maupun ilusi otaknya dirasa ganjil. Endingnya jika peserta berhasil maka akan dipuji, bila gagal cukup diuberi ucapan trimakasih atas kesudianya mengisi acara. Biasanya kegagalan peserta menurut pengamatan saya disebabkan oleh beberapa faktor. diantaranya ada yang memang dari nyali peserta sendiri yang ciut sehingga menderita ketakutas setengah mati, dan kerasukan setan yang tandanya bertingkah aneh tidak melebihi manusia teraneh di kampus.
Ibarat sebuah lelucon komedi, penonton diberikan kebodohan-kebodohan oleh rasa penasaran dalam pikiranya. Semua pada dasarnya sudah tahu, tetapi saya dan beribu penonton lain mungkin memiliki, Keingintahuan lebih yang mengalahkan logika berfikir bagi yang berniat memikirkanya.
Ketertarikan akan sesuatu yang gaib atas alasan berbagai keterbatasan sehingga tidak bisa semua orang merasakan. Mencoba menebak sikap rasa keingintahuan akan sesuatu berhubungan horor merupakan bagian dari imajinasi ketakutan manusia. Tidak dapat memungkiri ada latar belakang semasa kecil kita dibangun oleh cerita-cerita, mitos, takhayul, serta efek-efek kekuatan-kekuatan gaib. Jadilan dimasa dewasa tertanam semacam rasa percaya kalau ketakutan pada yang horor itu perlu untuk dilakukan. Akibatnya penyaluran demi pemenuhan kepuasan adalah melihat melalui pengalaman orang lain. Karena kita sudah cukup menjadi takut bila ditantang membuktikan sendiri dan mencoba mengeksploitasi rasa ketakutan secara langsung.
Andai saja ini hanya terjadi pada pengetahuan akan hal gaib bukan pada pengetahuan dunia nyata pastilah kegilaan manusia akan ilmu luar biasa. Banyak disekeliling kita memiliki cita-cita menjadi orang pintar, ahli, spesialis, cerdas, atau menjadi penekun profesi paling handal. Sayangnya berbagai keinginan tersebut rata-rata enggan untuk mejalani prosesnya secara sempurna.
Tidak perlu jauh-jauh mengambil contoh dari fenomena cerita diatas dalam kehidupan sehari-hari. sebut saja X adalah kumpulan dari teman-teman kuliah saya. Di akhir semester gasal ini dosen pengampu mata kuliah Y memberikan berbagai tugas. Penyelesaian tugas tersebut pasti menyita banyak waktu dan pikiran demi terselesaikan di hari Z. Saat masa-masa pengerjaan tugas berbagai keluhan, curhatan, umpatan membludak di dinding facebook berupa status. Setelah terlampaui hari Z yang juga satu hari sebelum libur panjang status-status keluar juga berubah menjadi ekspresi luapan kegembiraan luar biasa. Narasinya mirip orang baru keluar dari belenggu sel penjara.
Walau tiada gading yang tak retak, kata pepatah. setidaknya ingin saya sampaikan adalah mencoba mengajak semua umat manusia mengontrol ending cerita setiap kegiatan yang sedang dan akan dilaksanakan sesuai harapan. Janganlah terus berpura-pura untuk bodoh seperti saya lakukan menonton acara mistis di tv demi memperoleh sebuah kenikmatan sensasi oleh fenomena sama dalam kemasan baru. Manusia yang menjadikan pikiran sebagai nahkoda setiap gerak akan dijalani sesungguhnya sudah tahu bagaimana akan semua ending yang akan dialami. Apakah itu berasa bahagia atau penyesalan di hati. meski kemasan itu tergantung dari jenis atau apa aktivitas sedang dan akan dilalui.
Optimalisasi cara untuk menghindari ending cerita setiap episode kegiatan yang akan dilaksanakan adalah melalui kontrol diri. Mengontrol diri dari berbagai kemungkinan dan memilih kemungkinan lain yang mengarahkan pada ending bagus. Contoh, Jika ending yang ingin di capai adalah mampu mengerjakan tugas analisis panjang, selayaknya kontrol penuh porsi waktu. Pastikan alokasi waktu untuk mengerjakan hal tersebut secara pasti dan tepat. Kontrol diri bagus sudah menjadikan pribadi kita pada pembuktian terbaik akan ketegasan ingin menggapai ending sempurna.
Jl. FE. KAMPUS UTM.
05-01-2015
ISKAK
Tidak ada komentar:
Posting Komentar