Sabtu, 31 Mei 2014

Misi Suci

Ketulusan dimana sekarang engkau berada? Masihkah bersemayam dalam hati yang menganggap dirinya insan manusia? Hanya selayang pandang untuk membuka mata hati. Menanyakan kemana sekiranya nahkoda hidup di muarakan. meski semua terserah padamu sebab yang paling tahu dan berhak atas dirimu adalah kamu. Pertanggungjawabannya kelak akan menanti semua tentang apa yang telah engkau perbuat atas saksi terukir dalam sejarah perjalanan hidup. 

Hidup bukanlah sebuah proses sederhana diawali kelahiran, kawin, beranak dan mati. Penegasan fungsi akan makna hidup sendiri sering mengalami kebuntuan bila ditanyakan pada setiap orang. Demikian suatu bukti kecil bahwa jalan hidup itu sangat pelik, penuh dengan misteri yang menantang. Gelap, berfikir untuk tidak memikirkanya adalah sebagai pelarian hakikat tanggung jawab hidup. 


Sekiranya yang bertuhan pastilah mengakui semua ada karena karuniaNya. Sudah menjadi naas atau takdir jika hari ini bisa berhasil melewati kehidupan. Sekiranya apa patut kita hanya pasrah berpangku tangan, sambil berdalih menanti jemputan ajal kematian. Memang, puncak tertinggi dari kehidupan sendiri adalah kematian. Sebagai makhluk mamalia yang dapat berfikir, sudikah diperbudak oleh batasan fikiran kematian.

Terlalu berat rasa - rasanya untuk memikirkan ini semua. Abstrak, tidak ada fokus siapa dan mengapa demikian bisa membentuk latar belakang peristiwa. Ini saya menyebut sebagai pusar lingkaran kesesatan dunia. Kompas kehidupan yang seharusnya lahir dari naluri paling suci manusia telah tertutup debu – debu hasrat. Rasa ketulusan, maupun keikhlasan yang menjadi sandaran hidup telah terpupuk layu. 

Konsepnya diawali dari berfikir kosmologi alam semesta. Susunan semesta begitu luas belum mampu manusia menjangkau semuanya. Ada banyak galaksi, gugusan bintang – bintang dan posisi kita begitu kecil sekali dibandingkan dengan seluruh pengetahuan telah didapat saat ini. Kemampuan berfikir manusia telah menjadikan bumi sebagai pusat seluruh kosmologi alam semesta. Sebab pengetahuan dan pemahaman kosmos tadi berkembang dan dibenarkan oleh spesies penguasa bumi. Walau kepastian sangat jauh ditemukan dari pemahaman, tetap saja kepercayaan telah mendasari sebagai suatu pengetahuan untuk seluruh umat manusia. 

Jadilah pengetahuan tersebut dibungkus dalam wadah – wadah keilmuan. Kemudian diturunkan secara turun – temurun sebagai bentuk regenerasi dan upaya menaikan sumber daya pemikiran manusia. Perubahan pola pikir mempengaruhi perilaku dan tatanan kehidupan menuju satu langkah dianggap lebih baik. 

Orientasi manusia ternyata tidak pernah berkembang tanpa mengalami kecacatan. Barbagai peraturan, perundang – undangan, Agama diciptakan sebagai pagar pembatas penjaga tatanan sosial. Semuanya sekarang terhempas, ibarat hewan ternak telah lama terkungkung diliarkan begitu saja kealam bebas. Hadiah kebebasan  mengubah semuanya batasan menjadi absurt. Kacamata iman, dan pandangan kemanusiaan seakan larut begitu saja tanpa memberi dampak. 

Bangkitkan kembali semua ingatan lelap kita tentang semua ini. Aku, dia, mereka, dan kita adalah manusia sejati. Patutkah sekiranya egoisme diri ditinggikan sebagai penopang derajat dan kebanggaan atas penghormatan atau pemujaan dari yang lainya. Bukankah saat menginjakkan kaki pertama di bumi ini bekal kita sama. Bolehkah sekiranya dikatakan manusia itu sebenarnya sama ketika tanpa kekayaan, harta, drajat, pangkat dan kekuasaan atau labeling disandangnya. 

Mungkinkah sekiranya dianggap telah cukup untuk mengakhiri derap langkah manusia dibumi untuk menjauh dari kodrat kesamaan. Lalu lebih memilih prinsip kehidupan "penting mudah bagiku tanpa merugikanmu." Dan membiarkan sebagian manusia lain didera kesengsaraan hidup karena berbagai keterbatan dimilikinya. Sampai ketegaan bukan alasan lagi bagi dirimu untuk menertawakan parodi kehidupan yang tampak, sedang kau lupa bahwa nanti dirimu calon bangkai busuk dalam tanah yang menjijikkan.

2 komentar :

  1. misi suci mengambil kitab suci ke timur

    BalasHapus
  2. hahahhahaa
    itu kan budhisme,

    cok.... ilangono captamu, gawe angel nk ape pasang komentar nk blogmu.

    BalasHapus