Sinergi hati dan pikiran jalanya tidak sekuat pancaran sinar surya di tengah hari. Hati yang seharusnya membawa kedamaian jiwa menjadi bisu. Sedikitpun sinyal-sinyal itu tidak terpancang di aliran darah. Pacuan darah oleh denyut-denyut nadi menimbulkan kehambaran karsa bertindak menyulam kenangan dunia untuk masa lalu.
Pikiran berada tidak pada garis keinginan harapan-harapan masa lalu, malah melanglang buana entah kemana. Disini menanggung derita malu, dan sesal sulit terhapus. Disana ibarat jurang pedih dari pelarian dosa-dosa. Naluri untuk pulang menghirup dinginya hembusan udara segar menambah kesesakan masalah disini.
Sudahlah, biarkan beban-bebanmu lepas tanpa terpedulikan oleh kata mereka. Tetapi, aku tidak bisa. Jauh dalam relung hati paling dalam masih terbesit harapan untuk menciptakan dunia yang baru kembali. Bukan dunia yang penuh dengan kepingan-kepingan pengetahuan memiliki jutaan konflik.
Andai saja itu bisa dan mampu untuk dilakukan bersama akar-akar kenangan akan aku lakukan. Tetangga bilang itu adalah kematian, yang menuntun kepada dunia baru. Dunia tersebut dinamai alam akherat.Dari atas terdengar suara pengecut, penghianat, penakut.
Tidak. Tidak. Dan sekali lagi tidak untuk itu, aku tetap besikukuh. Ketakutan merayapi tubuh , tanpa sadar diiringi getaran-getaran anggota badan. Oh, mengapa tetangga tadi bilang seperti itu? Mestinya ada seribu jalan untuk menuju Roma. Orang dipojokan berteriak menyangkal dengan terang-terangan. Bohong! Dan kamu salah besar jika mengartikan itu sebagai banyak langkah untuk menyelesaikan masalah-masalah.
Dari awal jika memang benar ada seribu jalan maka, manusia atau orang-orang tidak akan pernah menemui sebuah kegagalan. Kenyataanya jalan itu tidaklah semua tembus sampai ke Roma. sesungguhnya hanya ada satu jalan benar-benar menuju Roma.
Untuk menemukan jalan itu harus ada perjuangan, tidak heran banyak yang berkata menjadi kesulitas tersendiri. Alasanya peluang untuk benar-benar sampai adalah satu banding seribu kemungkinan. Walaupun keberuntungan berpihak, belum tentu pula kita mampu menembus jalan itu sampai ujung Roma.
Katanya dibalik kabut-kabut kegamangan jalan benar semua manusia belum satupun mengetahui makna dan arti dibaliknya. Bisa saja terdapat bukit-bukit tinggi terjal, atau hamparan samudra membentang sampai mata habis memandang. Itu tergantung dimana Romanu berada. Semakin jauh Romamu semakin banyak pula halang rintang harus engkau terjang, kalaupun telah engkau jatuhkan di dekat posisimu saat ini kamu tidak perlu berjuang.
Wajar jika kebingungan melanda setelah kegagalan misi-misi pendek yang harusnya wajib dilalui secara sempurna. Cobalah Kak, pikir kembali surga ciptaanmu, dunia barumu. Keterpisahanmu dengan apa yang menjadi dunia sekitarmu adalah masalah barumu juga. Jika kamu benar-benar memaksa ibarat menuang masalah ke wadah baru.
Tahukah engkau, jika disini setiap hari kamu bisa mengeluhkan semua kekesalan dan mencaci maki ketidakadilan hidup disana belum tentu kamu bisa. Berdoa saja agar Tuhan menunjukkan satu jalan bagimu, tapi jalan tanpa tipu muslihat. Siapkan pula kesakitan-kesakitan tubuhmu demi menghadapi berbagai ketidaksempurnaan tuntutan. Kamu sendiri pernah bilang manusia itu penuh dengan ketidaksempurnaan pada berbagai tindakan, perbuatan, maupun sikap.
Sekarang, diatas batuan keramik ada pengetahuan baru masuk ke memori. Ini bisa berguna bagi orang banyak, saudara, atau paling tidak diriku sendiri. Kemudian setelah ada berbagai syarat harus dipenuhi lagi-lagi terdengar kata tidak. Tidak untuk saat ini, tidak jika sedang ini, tidak jika lagi demikian, tidak kalau, serta beribu tidak lainya.
Lantas mengapa kita memburu kesempurnaan saat ini, apabila realitasnya mengatakan tidak perlu melakukan apa-apa?
Emperan masjid kampus UTM.
05-11-2015
Iskak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar