Mejelang liburan merupakan rasa kebahagian tersendiri. Apalagi bisa dibilang sangat jarang sekali pulang menengok kampung halaman. Dikampung halaman ada orang tua manusia paling dicintai, saudara-saudara baik hati, serta tetangga sekitar sangat ramah.Inilah berbagai alasan mengapa ada rindu dihati serta keinginan untuk melepasnya.
Kenikmatan akan kedaan dikampung halaman seringkali melupakan posisi saya sebagai pelajar dibiayai oleh negara. Uang yang telah saya terima dan gunakan setiap bulan berasal dari perasan pajak. Kampus tempat mengais ilmu juga dibangun atas kepercayaan dengan harapan besar rakyat kepada negara. Kepercayaan akan perbaikan Indonesia lebih baik.
Untuk itulah mengapa pelajar seperti saya sebenarnya tidak layak menamakan liburan saat ini sebagai hiburan. Hiburan sesungguhnya apabila saya bisa mengembalikan secara lebih baik, banyak, dan maksimal apa yang telah diberikan negara untuk kepentingan bangsa. Tetapi, hari sekarang tetap liburan. Aktivitas perkuliahan benar-benar ditiadakan sampai beberapa minggu kedepan.
Demi tanggungjawab moral kepada rakyat dititipkan atas nama negara, wajib kiranya menjadikan liburan sebagai media belajar lain. Maksudnya dengan liburan bisa belajar dari kehidupan sosial masyarakat lebih mendalam, atau membaca buku-buku non perkuliahan secara khidmad. Satu hal lagi yaitu belajar mengenal alam lebih dekat.
Ini sebenarnya liburan ketiga kali bagi saya semenjak merumput ilmu di pulau mungil seberang kota Pahlawan. Liburan pertama sensansinya sama dengan liburan semasa sekolah di SD, SMP, dan SMK. Liburan kedua sedikit banyak menyisakan penyesalan atas pengabaian teguran Kakak untuk membaca buku. Dirumah hanya diisi oleh keasikan sendiri. Sesal tersebut semakin berlanjut. Apalagi setelah menjalani kenyataan di waktu efektif perkuliahan sangat minim sekali porsi waktu luang untuk membaca buku-buku bagus disarankan.
Berniat tidak ingin mengulang kesalahan sama, hari ini saya sedikit belanja buku kekampung ilmu jalan Semarang Surabaya. Ingat pertama kali berkunjung ke tempat itu awal semester lalu. Waktu itu berulang kali saya harus bertanya kepada para penjual dipinggir jalan sekedar menanyakan alamat tersebut. Maklum saja, jarak dari tempat jalan kaki kurang lebih sejauh satu kilometer.
Saat saya kembali menyusuri jalan yang sama sambil mengingat-ingat rute terasa sedikit jemu. Pemandangan para pedagang dengan dagangan berceceran dipasar Turi Surabaya ditambah lalu-lalang manusia dengan berbagai kepentingan menjadikan paronama khas jalanan. Seperti tidak ada perubahan dari tahun ke tahun. Persimpangan jalan yang dulu padat sekarang senggang karena genangan air. Beceknya tempat di persimpangan membuat orang-orang enggan melalui, padahal dulu padatnya bukan main.
Sedikitpun dalam hatiku sebenarnya tiada keraguan takut tersesat. Keragaun datang didetik-detik kebosanan oleh lamanya waktu tempuh. Dulu terasa tidak sejauh ini dan sudah sedemikian jauh berjalan tak kunjung sampai . Laju langkahkaki aku percepat sambil terus membayangkan buku apa kiranya nanti bisa saya bawa pulang untuk dibaca dirumah.
Begitu sampai, tidak ingin banyak membuang waktu, langsung menuju salah satu lapak mencari novel, dan karya-karya sastra kolonialis. Usai transaksi, langsung pulang dengan penuh tanpa tergesa-gesa sambil menikmati pemandangan hilir mudik manusia di bawah kemajuan perekonomian.
Sedikit terlintas di pikiran. Bahwa kerja, ekonomi, sosial, perubahan, hidup yang lebih baik itu jauh dari kata higinis. Misalkan seorang pedagang makanan dipinggir jalan harus mengindahkan bagaimana komposisi makanan bersih, bervitamin, maupun beratus-ratus kategori diciptakan para akademisi. Dorongan pikiran untuk pemenuhan kebutuhan, semua konsep teoritis prinsipil pribadi cukup diyakinkan dalam pikiran. Para pembeli juga berlaku demikian, yakin saja dengan apa yang terhidang dihadapan mereka. Tanpa perlu menaruh curiga apakah makananya terkandung borak, formalin, pewarta tekstil dan sebagainya. Apa yang masuk ke lambung hari ini merupakan sajian terbaik oleh Tuhan untuknya.
Tidak sadar saya telah sampai kembali posisi tempat angkot menuju pelabuhan Tanjung Perak. Apabila dihitung secara durasi waktu perjalanan tadi mungkin akan lebih lama dibanding waktu berangkat. Namun secara hitungan pikiran serasa lebih cepat.
Keadaan diatas mengingatkan pada suatu cerita tentang waktu. Bahwa orang-orang modern dekat dengan berbagai fasilitas kecanggihan teknologi banyak yang kehilangan waktu dan tidak bisa menepati waktunya. Sedangkan orang-orang primitif jauh dari berbagai peradaban teknologi berlaku sebaliknya. Mereka akan merasa memiliki waktu sangat luas.
Maksudnya begini para kaum modernis yang dikelilingi berjuta tegnologi selalu mengejar target tujuan pekerjaan yang di batasi oleh alat bernama jam. Sedangkan waktu dan jam itu secara konsep jauh berbeda. Jam hanya menghitung perputaran satu kali rotasi bumi. sedangkan waktu tidak dapat digambarkan dari titik mana ia ada dan berakhir. Sebab kapan mulai adanya waktu tetap menjadi misteri seperti pertanyaan kapan adanya Tuhan.
Kelompok orang-orang primitif tidak diikat oleh jam karena mereka memang tidak mengenal. Baginya waktu adalah pertanda ayam berkokok menjelang fajar, matahari muncul dsb. Batasan waktu bagi orang primitif bisa menjalani tujuan, proses, kegiatan sedang dilaksanakan sampai tuntas. Sebab kebutuhan mereka Cuma terbatas. Kalau hewan memaknai waktu dari aktifitas tubuh, kapan dia lapar, kawin dll.
Turun dari angkot tanpa menunda-nunda langsung bergegas menuju loket penjualan tiket kapal feri. Begitu naik sembari menunggu kapal berlabuh dipelabuhan kamal diisi dengan membaca buku baru. Buku saya baca melanjutkan membaca di angkot tadi berjudul Midah simanis bergigi emas. (Lihat resensi ). Tidak jauh berbeda dengan berjalan setelah selesai belanja di Surabaya tadi tiba-tiba saja kapal sudah berlabuh, padahal saya begitu menikmati alur-alur cerita dari buku bersampul paras perempuan cantik duduk.
Saya coba berasumsi mengapa waktu ketika berangkat terasa begitu lama dan pulang begitu cepat? Awalnya dimulai menarik analogi bahwa keberangkatan adalah masa depan, sedangkan pulang merupakan kembali kepada masa lampau. Ketika diri kita menjani kehidupan untuk masa depan pasti memiliki keinginan kuat untuk menwujudkan harapan-harapan. Dalam rangka mewujudkan harapan fokus kita hanya pada itu, berbagai riah-riuh dunia sekitar adalah gangguan, ancaman, atau kesesatan bagi keberlangsungan masa depan harapan akan dicapai.
Pada tahapan tertentu kita akan dibawa kembali oleh sejarah masa lalu. Masa SD,SMP, SMA menjadi terlalu singkat sampai-sampai ada yang bilang seolah-olah baru terjadi kemarin. Dalam setiap perjalanan flashback bisa menjadi cepat karena banyak hal terlupakan. Lupa bagaimana kejadian paling detail selama kegiatan satu hari dilakukan. Perjalanan pulang juga melupakan beberapa hal, sehingga terasa berlangsung begitu cepat. Melupakan tujuan kecil yang diharapkan ketika berjalan pulang sudah selesai. Tinggal menikmati apa yang telah berlalu dan sedang berlalu.
Menggaris bawahi mengenai apa yang sedang berlalu menunjukkan kalau hal ini dapat diaplikasikan pada keberangkatan/ mengejar harapan masa depan tanpa kebosanan. Caranya sama, kita lupakan saja apa tujuan maupun target ambisius kita paling final. Jalani kehidupan tengah berlangsung tanpa diintervensi oleh ego. Ego memuat daya tarik penyamaan dengan teman-teman umumnya. Menghilangkan kata kaya, sukses, berhasil, dijunjung, nomer satu, dan terbaik dari kamus demi menjalani kegiatan hari ini. Berikan sugesti pada harapan final bahwa jalan saya hari ini adalah menuju puncak di hari esok.
Kamar kontrakan perum Graha Trunojoyo B7 Madura
06-01-2015
Iskak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar