Perkataan “tiada kata seindah doa,” sangat akrab terdengar di telinga. Sampai-sampai terasa tiada yang spesial baik dari segi maksud, arti, maupun filosofisnya. Kehambaran itu juga banyak terjadi pada puluhan kata bijak lain. Memutar kembali untuk mempertanyakan apa sesungguhnya berbagai makna dari kata bijak tersebut? Apa benar hanya menjadi kata manis para pujangga semata yang bernasih seperti nyanyian marginal?
Bisa jadi menepinya eksistesi kata bijak dalam kehidupan manusia sekarang efek dari gerusan budaya pop, westerenisasi, globalisasi, atau gabungan semuanya. Melanjutkan dugaan pendukung fenomena seperti diatas adalah pesatnya perkembangan budaya-budaya komsumtif serta sikap apa sudah menjadi hak milik saat ini. Pendefinisian anggapan menjadi manusia utuh perlahan bergeser pada tingkat kepuasan ketika berbagai ego telampiaskan. Maka tidak heran banyak tumbuh berbagai kesombongan berazaskan hak kemanusian.
Disaat bersamaan pula kita harus kembali mengingat apa itu menjadi manusia sesungguhnya. Melihat kenyataan yang manusia jalani diberbagai aktifitas kehidupan sehari-hari. hidup itu sendiri merupakan doa.
Semenjak pikiran kita tersadar, anggap saja mulai bangun pagi pasti terlintas sebuah keinginan untuk berbuat. Sedang datangnya suatu keinginan jika dipikir kembali pasti dilatar belakangi sebuah tujuan serta berbagai keinginan-keinginan untuk dicapai.
Misal, ketika kita melangkahkan kaki untuk pergi kekamar mandi membersihkan tubuh. Walau tidak terucap hasrat mandi dalam pikiran secara sadar, maupun dorongan oleh rasa gatal, banyak lumpur, keringat, bau badan, dan kawan kotoran lain. Tetapi ada sebuah keinginan besar untuk hidup bersih dan tidak menderita sakit. Inilah mengapa hidup itu bisa dibilang doa.
Berdasarkan sepengetahuanku, dalam agama juga disebutkan berbagai makna hidup. Islam misalnya dunia dipandang sebagai tempat untuk mendulang amal perbuatan baik demi kehidupan di akherat kelak. Sedangkan jalan amal itu salah satunya diwajibkanya untuk selalu berdoa kepada Allah melalui shalat wajib 5 kali sehari. Kristen dengan berdoa ke gereja setiap minggu, dst.
Bukankah ini membuktikan pergerakan manusia dibumi sebenarnya tidak benar-benar bisa sendiri. Tuhan masih dibutuhkan, terlepas dari sejarahnya apakah itu diciptakan atas dasar rekaan ketidakmampuan manusia atau memang benar-benar ada.
Hanya saja paling penting menyangkut jalan kehidupan adalah terletak pada keinginan-keinginan manusia. Keinginan tersebut yang menjadikan sebuah harapan dan dinamakan doa. Buktinya ketika makhluk hidup lain seperti hewan yang nalurinya tidak melebihi dari menghabiskan masa siklus hidup tanpa merubah keadaan tidak perlu berdoa kepada Tuhan.
Penyesalan harus manusia terima disaat menghadapi ketimpangan sosial adalah mengapa menciptakan keinginan-keinginan. Keinginan hanya pengalihan niat keduniaan sebagai cara mengelurakan posisinya sebagai doa. Maka sebuah keinginan dianggap sah jika ditujukan bukan kepada Tuhan pencipta alam semesta. Akibatnya, terlahirlah banyak Tuhan-Tuhan kecil baru karena dianggap lebih bisa mewujudkan keinginan. Sebagian yang lain, berbagai ego telah banyak menjadikan manusia menuhankan diri sendiri ketika menemukan bagaimana dia bisa berfikir.
Tuhan sebenarnya tidak pernah benar-benar marak kepada makhluk ciptaanya yang bernama manusia. Tetapi harus ada konsekuensi wajib dibayar ketika hidup dan kehidupan manusia tidak dianggap sebagai doa pengembalian ditujukan kepadaNya. Karena hanya dariNyalah manusia bisa tunduk bersama. Rumus kecil dari semua ini seperti ini. Kalau dari awal mulai kehidupan ada keseimbangan bagaimana harmoni kehidupan tercipta, dan manusia dengan sederet doa-doa bernama ego (keinginan) tidak berdasarkan tuntunanya otomatis terjadi pengimbangan alam. Pengimbangan tersebut bisa berbentuk bencana, krisis, maupun perang.
Sekali lagi manusia harus berhati-hati ketika mempunyai keinginan. Sebab Dalam doa dunia (keinginan) ada kekuatan besar menanti diwujudkan setiap saat bila ada kesempatan waktu. Doa adalah keinginan, dan keinginan adalah doa.
Kamar kontrakan perum Graha Trunojoyo B7
2-1-2015
Iskak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar