Jumat, 05 September 2014

Teologi pembebasan

Apakah itu egoisme terlalu besar dimiliki manusia, atau sebuah bukti lebih majunya peradaban dengan bangsa lain tetap saja terjadi antara pihak yang tersubordinasi dan yang tertindas. Sebuah kejayaan dan kejayaan suatu bangsa tidak lain dari hasil menghisap pihak lain yang lemah. Kemuliaan manusia didasarkan pada kemampuan penguasaan atas benda, harta, atau manusia lainya. Semakin tinggi suatu kedudukan maka semakin besar pula kemampuan menguasai tatanan sosial.

Kapitalisme, menjadi tiang penyangga bertahanya suatu negara. Individualisme adalah bagian dari ruh melanggengkan sistem tengah berlangsung. Ketimpangan sosial tidak dapat dihindarkan lagi, proporsi jumlah antara rakyat miskin dan kaya tidak sebanding. Para kaum borjuis memiliki kekuatan pada modal untuk memaksa para pekerja bergerak seperti robot. Dilain pihak kekuatan rakyat abangan pada jumlah.

Sikap kolektivitas dan solidaritas inilah nantinya yang digunakan sebagai alat pembebasan manusia menuju egaliter sosial. Agama yang tercemar dengan doktrin untuk menciptakan legitimasi penguasa tirani melalui khotbah-khotbahnya menimbulkan kesakitan pada rakyat. Kenyataan ini telah memunculkan cahaya perjuangan dengan membuka diri terhadap paham marxisme bagi para romo, dan uskup. Tetapi pertentangan diantara tokoh seiman dengan perbedaan pandangan konservativ dan moderat tidak dapat dielakkan. Perjuangan tetap dilakukan atas dasar hak-hak kemanusiaan.

Pergantian waktu pada dunia mungkin memang hanya sebuah siklus. Perbedaan yang terjadi ibarat pergantian manusia sebagai pemain baru karena pemaain lama telah lelah menikmati jalan kehidupanya. Jika penantian hari esok tidak membawa perubahan jangan ditanyakan lagi kenapa demikian. Kesadaran sosial dan sikap kritis pada keadaan diduga sebuah kunci mengapa terjadi demikian. Bukan sekedar kesanggupan belaka yang dibutuhkan untuk melawan pandangan tradisional, kekuatan sesungguhnya terletak pada keberanian.

Dari dua buah indra dibawah alis menampakkan bagaimana upaya pendirian surga keadialan dunia sebatas utopia belaka. Pengaruh kapitalisme yang dikatakan tidak memanusiakan manusia telah berubah 180 derajat. Atas dasar modal lebih dimiliki para borjuis mengubah halauan sedikit lebih lunak menyesuaiakan keadaan dunia. Ujungnya seperti saat ini pergolakan masa lalu tiada hasil karena kapitalisme telah melebarkan sayapnya hampir menyelimuti dunia. Cita-cita kesamaan sosial dibenci, dikerdilkan melalui racun-racun ditebar melalui media massa.

Penempatan diri terbaik saat ini adalah melalui empati. Justifikasi kebenaran sudah tidak murni lagi disebabkan terkontaminasi oleh kesesatan-kesesatan cara berfikir. Cukup orang mengkafirkan pikiran dan belajar diluar paradigma masyarakat umum untuk keluar sebagai pemenang. Kemenangan itupun tidak serta merta dapat tertangkap secara langsung sebagai apresiasi, melainkan ujian kembali harus dilewati untuk dimenangkan kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar