Catatan Pecut Madura 2014/2015
Siklus waktu yang ditandai dengan penanggalan telah sampai pada musim penerimaan mahasiswa baru ( maba ). Sebelum berangkat melewati serangkaian proses menjadi maba tentu tertanam segumpal harapan – harapan ingin dicapai melalui jalan kuliah. Niat itu secara tidak langsung terikrar kembali setelah diterima sebagai mahasiswa dan telah menjejakkan kaki di kampus. Sekarang label, status, dan kedudukan disandang adalah seorang mahasiswa.
Tekad, semangat , dan antusias baru mengalir kencang dalam nadi atas status kemahasiswaan baru itu sebagai refleksi awal. Tetapi kecintaan terhadap status tidak lebih dari membangkitkan egoisme yang bersemayam dalam diri. Hal ini perlu dibuktikan dengan berkaca pada cermin kehidupan. Ketika cermin itu dibuka isi harapan yang tertulis dari para maba mungkin tertulis harta, tahta, dan penguasaan lebih atas orang lain. Kesanggupan terberat sebagai tanggungjawabnya yakinkah sekian kehendak itu akan membawa dampak kebaikan bagi sesama?
Jauh sebelum implementasi implementasi perubahan untuk kebaikan bagi sesama patutlah kita harus benar – benar tahu arti status kemahasiswaan disandang. Lalu bagaimana seandainya status mahasiswa sebenarnya adalah tidak lebih dari pengangguran terselubung?
Faktanya bahwa yang terdaftar sebagai mahasiswa merupakan manusia dalam kriteria masa produktif. Proporsinya sebagian kecil saja dari mereka yang sudah berwirausaha atau menghasilkan karya sendiri, sisanya dapat dibilang pengangguran.
Berdasarkan data dari Dirertoral Jenderal Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia saat ini jumlah perguruan tinggi di indonesia ada 100 perguruan tinggi negeri dan 3078 perguruan tinggi swasta. Jumlah mahasiswa indonesia sendiri diperkiraan mencapai lima jutaan. Barulah kegamblangan status pengangguran dihasilkan oleh mesin toga itu akan tampak setelah diwisuda.
Masihkah kita berfikir tidak realistis jika kampus adalah mesin penghasil pengangguran apabila berkaca pada tujuan mayoritas mahasiswa kuliah menjadi seorang pegawai dan abdi. Bagaimanakah konsistensi niat pembawa kebaikan bersama kalau sudah berubah menjadi beban negara. Keadaan saat ini saja persaingan persaingan untuk mendapatkan post – post lowongan kerja menjadi rebutan ditengah keterbatasan lapangan kerja. Posisi akan diperparah oleh pertumbuhan pencari kerja secara terus – menerus dilain pihak angka pensiun rendah. Akumulasinya berwujud bom waktu yang mempengaruhi stabilitas nasional.
Akhirnya penguatan posisi mahasiswa untuk membalikkan keadaan pengangguran terselubung mutlak dilakukan. Berkarya dan menjadi mahasiswa berilmu berdasarkan nilai – nilai kemanusian merupakan jawaban untuk membendung dampak pengangguran setelah menanggalkan status mahasiswa. Lebih penting lagi sikap optimis pembangunan kepercayaan disertai kesungguhan, serta kesanggupan. Orang bijak pernah berkata “hidup dengan ilmu akan mudah, hidup dengan agama akan lebih terarah, dan hidup dengan seni akan lebih indah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar