Hari ini merupakan momen pemilihan bakal calon rektor universitas trunojoyo secara langsung. Berbagai elemen civitas akademika begitu antusias menyalurkan hak suaranya. Walau proporsional antara jumlah pemilih dan tps yang disediakan tidak sebanding, tetap saja antusiasme mereka tinggi. Deretan antrean panjang sampai meluber ke depan pintu masuk gedung graha utama. Semua dilakukan karena prosedural demokrasi, meski pada kenyataanya pemilihan rektor kali ini hanya sebatas formalitas. Karena diadakan atau tidak, penjaringan bakal calon tetap saja seluruh bakal calon akan lolos.
Entah apa yang mendorong mereka untuk melakukan pilihan terhadap rektor idaman. Disela-sela itu akau bertanya kepada mahasiswa hukum yang baru saja selesai menyumbangkan hak suaranya. Dia mengatakan bahwa untuk melakukan pencontrengan membutuhkan perjuangan dan pengorbanan waktu. Dari awal datang, kemudian antre sampai mencelupkan tinta sebagai tanda telah selesai mengikuti semua rangkaian ritual pengaspirasian suara membutuhkan waktu satu jam. Pikiranku sedikit tercengang mendengar fakta demikian. Tetapi memang benar, itulah yang telah terjadi. Ini semua dia lakukan karena sebuah harapan kecil demi kampus tempat dia belajar akan lebih baik.
Samar-samar terdengar kabar dari sana-sini terjadi pengerahan massa. Pastinya hal ini tidak jauh dari ulah organisasi-organisasi ekstra. Apalah, dimana ada gula pasti ada semut. Entah deal apa telah terjadi antara bakal calon dan para pemimpin organisasi politik praktis mahasiswa tersebut. Lebih parah lagi, salah satu temanku mengaku kalau satu angkatannya di salah satu jurusan fakultas x secara terang-terangan diajak, diarahkan, dan diprovokasi memilih pada salah satu bakal calon . Ironinya kegiatan mobilisasi massa tersebut berlangsungnya di dalam kampus, yang hakekatnya untuk proses belajar mengajar. Lebih cermat lagi menanggapi fenomena ini sudah masuk kategori pelanggaran, sebab masa kampanye sudah habis dua hari sebelumnya.
Siapa yang paling diuntungkan dari keadaan ini. Jawabanya tidak lain dari pada para pembesar dan pemimpin-pemimpin gerakan pengerah massa. Para penggerak massa akan semakin menunjukkan eksistensinya yang kemudian dijadikan sebuah investasi. Investasi disini adalah memblow up namanya supaya dikenal. Berangkat dari ketenaran ditambah ocehan-ocehan atau janji-janji busuk dikemudian hari hampir dapat dipastikan akan mendapat jabatan publik. Caranya melalui strategi sama dan itu berlangsung secara turun temurun. Sedangkan massa golongan bawah yang diarahkan adalah korban tidak berdosa. Tidak ubahnya domba gembala, mereka akan selalu bergerak mengikuti gonggongan anjing. Nama-nama dari partisipan korban pengarahan akan semakin terpuruk. Konsepnya sederhanya jika ada pencuatan tokoh maka penenggelaman di sisi lain secara otomatis terjadi.
Sampai kapan, dan sampai dimana peran, status dan label kita menjadi orang terdidik sebenarnya? Berangkat dari keraguan, kebimbangan hati maka patutlah kiranya berkaca tentang apa yang telah dilakukan. Pada lingkungan ini kita belajar, membaca, berdiskusi, dan mengenyam ilmu. Tetapi mengapa harus dikalahkan oleh tipuan muslihat penghapus derajat telah dicapai sebagai kalangan terdidik.
Keseragaman bukanlah segalanya, sebab pengembangan gagasan atau ekspresi tidak muncul. Kungkungan yang membelenggu dari subordinasi beberapa pihak itulah penyakit menyerang kita. Topeng kekeluargaan digadang-gadang sebagai azas pembangunan bertujuan penyatuan suara pada salah satu calon. Paling penting adalah kebersamaan dalam sebuah ideologi, tetapi biarkan ideologi tersebut meresap pada pikiran. Alhasil, resapan tadi berbuah pemikiran baru atas bauran kepribadian, nurani, serta haluan dasar ideologi.
Mengambil satu ideologi sebagai landasan penentu pijakan hidup itu benar. Ideologi mengharuskan sehalauan dengan hal paling pokok dari keyakinan mendasar paling azasi yaitu agama. Selanjutnya bisa di komparasikan dengan beberapa ideologi, atau paham yang menjadikan diri kita mempunyai eksistensi diri. Kuncinya mungkin pada sebuah kebenaran, lalu dengan kebenaran ilmu pengetahuan yang benar-benar paham semua tabir baik atau buruk bagi kemaslahatan manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar