Minggu, 29 Maret 2015

Terlambat Kuliah

Ini bukanlah mimpi atau cerita fiksi. Ketika bangun pagi mendadak geragapan setelah melihat jam telah pukul delapan pagi. Masalahnya adalah kuliah saya pagi ini dimulai pukul setengah delapan. Sial, bukan. Jauh-jauh hari waktu pertama kali masuk tidak pernah sekalipun terlintas dalam pikiran tercatat bangun kesiangan seperti sekarang. Getir, kecewa kepada diri sendiri, dan berupaya selalu tenang adalah buah ekspresi kelalaianku pagi ini.


Mengapa saya pagi ini bisa terlambat? Mungkin ini bisa buat pelajaran diesok hari. ceritanya Malam ini kopi yang saya tenggak begitu banyak. Alhasih saya tidak kunjung bisa menikmati tidur malam. Berselancar didunia maya, menonton tv, serta mengingat-ingat lembar tugas terus mengisi putaran waktu malam. Tanpa terasa, ternyata sudah pukul setengan empat pagi. Karena berfikiran bahwa tidur itu perlu agar badan tetap sehat meski sebentar, saya paksakanlah diri ini untuk terlelap. Lampu dimatikan, badan saya rebahkan tetapi kantuk tidak kunjung menghampiri. Kemudian karena memang dari awal berkeinginan tidur, posisi badan saya diubah seperti orang tidur dengan memejamkan mata. Mungkin kalau tidak salah pukul lima saya baru bisa benar-benar terlelap. Saya mengatakan demikian, karena ketika ada teman satu kontrakan mandi suaranya terdengar jelas. kesialanpun datang, seperti apa yang telah saya katakan diawal.

Pelajaran bisa diambil dari kejadian ini bahwa durasi tidur seseorang tidak bisa dikurangi. Kalau saya mempunyai durasi tidur tiga jam, sesiaga apapun diri saya agar bisa terbangun tepat waktu tanpa bantuan sangat sulit. Selain demikian jatah tidur seseorang tidak bisa dikurangi begitu saja tanpa ada pergantian dilain hari. Alhasil jika hari dua hari kita tidak tidur paling tidak dihari lain pembalasan tidur 6 jam itu berlaku. Pengecualian bisa berlaku ketika beban, tanggungjawab, dan kondisi badan diatas normal.

Meski ini merupakan kejadian serta pelajaran pertama di awal semester empat beberapa hari sebelumnya kejadian hampir serupa pernah saya alami. Ketika itu saya tidur pukul 11 siang, maksud hati ingin beristirahar sejenak agar saat menghadapi perkuliahan lebih segar. Ternyata lagi-lagi saya bangun sepuluh menit sebelum jam pelajaran dimulai. Begitu bangun, langsung lari menuju kamar mandi meraih baju, dan jalan kekampus. Padahal perlu diketahui jarak tempuh antara kontrakan dan ruang kuliah adalah 15 menit. Luar biasa, rasanya perpaduan antara olah raga memacu jantung dan kesakralan berdoa kepada Tuhan agar saya tidak terlambat.

Telat atau terlambat masuk ruang kuliah serta tidak mengikuti perkuliahan sebenarnya bukanlah seperti melihat penampakan hantu. Datangnya rasa was, was, ketakutan atau sejenisnya lebih kepada penyalahan kontrak, komitmen diri kita dengan dosen. Itulah mengapa perasaan dosa kalau tidak datang kuliah tepat waktu harus diiringi oleh sikap penyesalan sangat mendalam. Andaikata keinginan kita sekedar memperoleh ilmu diruang perkuliahan tidak akan ketinggalan asal mau membaca buku referensi telah disarankan sebelumnya. Karena perkuliahan itu sediri tidak lebih dari menyampaikan kembali dari buku berdasarkan sudut pandang pemahaman teks dari pengalaman dosen, maupun teman-teman mahasiswa lain.

Prinsipnya waktu telah berputar berdasarkan ketetapan Tuhan. Penyesalan atas sesuatu baru terjadi bukanlagi langkah paling tepat. Memaki, menghujat, marah, maupun berbagai ekspresi lain juga demikian. Biarkan saja cerita hari ini mengalir seperti air, munculnya riak-riak serta gelombang kehidupan cukup dilantunkan bersama rasa syukur kepada Tuhan. Belum tentu orang lain akan diberi kesempatan demikian. Hariku adalah ceritaku, persetan dengan apa kata mulutmu.

Kamar kontrakan, 09 maret 2015
Kamal, Bangkalan

Iskak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar