Minggu, 29 Maret 2015

INGATAN KEPADA ADIK

Selamat sore dik, bagaimana kabarmu. Lama sudah saya tidak berkomunikasi denganmu. Sebagai seorang kakak mestinya saya rajin mengabarimu dan menanyakan bagaimana kabar keluarga serta kerabat di desa. Meski dirimu bukan adik kandungku, rasa sayangku kepadamu cukup besar. Rasa sayang yang tumbuh tampa meminta imbalan, cukup ditukar dengan kata baik-baik saja dari orang-orang jauh disana.

Rasa sayang ini sepertinya juga dimiliki setiap orang tua kepada anaknya. Ibarat pepatah yang tertulis dibuku yang saya beli waktu bazar di SD disana tertulis “kasih sepanjang masa”.
Saya tidak berkecil hati, meski besarnya kasih ini sebatas sepanjang jalan. Entahlah, dimana letak ujung jalan itu berada. Sekarang belum benar-benar terlintas dipikiranku untuk menerka. Segenggam harap ditujukan kepadamu supaya kamu tumbuh menjadi manusia yang bisa mengangkat manusia lain. Sebab saat ini peradaban di tempat saya menyusu pada ibu yang sekarang menjadi tempatmu melukis kenangan dengan bermain bersama teman sebayamu terlihat dangkal.

Kala itu, aku pulang dari rantau mengais ilmu. Semilir angin pagi bersama menetasnya mentari dari ufuk bukit sebelah timur seoalah menyambut kedatanganku. Kamu senang, tertawa riang, seakan gulungan ruang dan waktu pemisah kita berdua sirna, bersama lenyapnya gunungan kerinduan besar. Saya juga merasa demikian, penat dalam pikiran rasa senang itu telah tergantikan. Sayup-sayup tetangga sekitar berkumpul mengabarkan kedatanganku.

Sekarang saya kembali bersedih. Setelah berbaur dengan masyarakat Cerita kemelaratan yang menimpa sebagian besar masyarakat belum ada perubahan berarti. Kadang malah semakin mencekam apabila melihat jurang ketimpangan antara budaya kota.

Sore ini saya bersamamu duduk bersama di rumah tetangga memenuhi undangan. Katanya sedang hajatan. Mendengar pembicaraan para tamu undangan lain saya menjadi banyak tahu bagaimana perkembangan masyarakat disini. Banyaknya para pemuda urban ke Surabaya dan Jakarta membuat mereka menularkan budaya populer kepada anak-anak sekolah.

Seorang paman bercerita kalau budaya hidup kita kedepan akan semakin susah seiring himpitan ekonomi. Padahal sebelum tahun 2000-an rasa tentram, aman, dan tekanan hidup tidak sesulit saat ini. katanya Saat itu kesadaran masyarakat untuk hidup bergotong-royong benar-benar mengakar dalam tradisi. Walau, sekarang sisa-sisanya tinggal sedikit itupun tidak sekental dahulu. Contoh, jika keluarga anda ingin menanam jagung atau padi, kita tidak perlu sungkan-sungkan meminta pertolongan kepada siapa saja yang sekiranya tidak mempunyai keperluan penting untuk membantu. Keperluan penting dimaksud adalah keperluan yang menyangkut hubungan tradisi, hajatan, diminta pertolongan orang lain. Kalau hanya sekedar rutinitas kehidupan sehari-hari tidak digolongkan penting.

Sistem pertukaran barang sesama barang atau barter masih berlaku. Uang yang dimiliki masyarakat belum sebanyak sekarang. Masyarakatpun tidak khawatir kalau tidak punya uang, sebab keperluan kita untuk hidup adalah bekerja dan mempunyai cadangan makanan. Hikmah dari sistem pertukaran barter berjalan dimasyarakat adalah berkembang pesatnya keikhlasan untuk menolong sesama. Tidak menjadi apa, apabila nilai pertukaran dilakukan tidak sebanding. Patokan yang dijaga adalah nilai bahwa menanam kebaikan, esok kamu akan memanek kebaikan tidak disangka-sangka dari mana datangnya.

Kadang saya meragukan apakah yang saat ini pemerintah lakukan benar-benar membawa kearah peradaban lebih baik? Melalui perkenalan baca tulis di bangku sekolah memicu tawaran bekerja kekota meraja lela. Dari mulut satu ke mulut satunya menceritakan pengalaman sukses sebagai babu karena mampu membeli motor baru, baju bagus, dan kenyang makan nasi.

Seiring adanya televisi para kaum muda habis, mereka sekan membenci tempat bermain dimasa kecilnya. Semua demi mengejar standart kesuksesan materi. Inilah keberhasilan sesungguhnya apabila bisa meniru kehidupan orang kota, kata mereka. Sementara apa yang terjadi dikampung halaman tidak memberikan tanda-tanda pembangunan masyarakat lebih baik.

Bibit-bibit budaya hidup yang dibawa oleh para perantau sedikit demi sedikit juga menjangkiti anak-anak remaja. Cerita anak-anak tidak mau sekolah, mengamuk orangtuanya, dan pergi menghilang dengan acaman tidak mau pulang kalau tidak dibelikan sepeda motor, handphone sangat banyak. seakan-akan telah dianggap bagian dari jaman perubahan. Apa mau dikata orang tua ketika anak menekan, serta meminta kebahagiaan dirinya. Argumen umum dilontarkan adalah buat apa dan buat siapa bekerja kalau bukan untuk bunga hati. Akibatnya tidak jarang tanah dijual, atau digadaikan demi memenuhi tuntutan pergaulan hidup anak. Untung orang tua saya dulu begitu keras, sehingga mampu mencegah diriku terseret arus pergaulan remaja pada umumnya.

Miris saat mendabakan kembali mengenai harmoni kehidupan desa saat ini. orientasi menumpuk uang bagi sebagian masyarakat telah menciptakan keindahan hidup menjadi hilang. Uang telah menjadi ukuran, dan ukuran seseorang ditentukan oleh uang pula. Uang telah menjadi alat paling mudah melakukan keserakahan. Apa punyaku, dan apa punyamu?

Usai menjanlankan kewajiban kepada Tuhan akau selalu berdoa untukmu adikku. Semoga kengerian hidup yang dibungkus oleh kesenangan palsu itu tidak menumbuhkan minatmu memasukinya. Ingat, kehidupan orangtuamu, mereka berdua telah menjadi korban kekejamanya. Pilihlah surga walaupun ia tampak sunyi, daripada neraka dengan hingar bingar pesta poranya.

Kamar kontrakan, 08 maret 2015
Kamal, Bangkalan

Iskak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar