Judul : Seri Mengenal dan Memahami Cultural Studies
Pengarang : Ziauddin Sardar Borin Van Loon
Penerbit : Scientific Press
Jumlah
Halaman : 172
Semua diawali dengan sebuah tatanan budaya. Bukan memperkenalkan budaya itu apa, melainkan bagaimana. Pertanyaan ini nenuntun kita kembali merunut kepada sebuah pendefinisian budaya. Walau begitu, tetap saja sesuatu bukan eksak tidak bisa dibatasi dengan dikatakan A atau B. Faktanya setiap orang bisa memberikan penjelasan tersendiri. Karena sebuah gelar atau derajat tertentu pemberian makna yang dianggap mencapai kesepakatan hanya ada pada segelintir orang.
Dunia sungguh kejam. Seolah-olah diatas bulatan biru dalam jajaran tatasurya ini adalah sebuah lapangan perang. Kebutuhan survive akan menentukan siapa pemenangnya kelak. Lewat dua kali perang dunia barat keluar sebagai juara. Kembali kodrat alam berlaku, sebuah kumpulan inferior akan mengekor bangsa superior.
Indonesia beserta negara dunia ketiga lain rata-rata bernasib sama. Secara perlahan kiblat peradaban adalah barat. Seolah-olah semua yang terbit dari barat adalah kitab kedua manusia untuk surga dunia. Mimpi untuk menjadi bagian dari mereka benar-benar tertancap dalam mimpi. Ya, ini semua terjadi karena disini kita tidak merasa puas, tercukupi, dan terlalu sulit memenuhi keinginan hidup.
Kearifan hidup dikatakan tercipta apabila hasrat imaginasi diciptakan oleh media terpenuhi. Tidak peduli seberapa banal atau dangkal trend tersebut asal senang. Materi di Tuhankan karena kuasanya menjunjung bisa manusia kepada pemuas nafsu. Denganya kita bisa berbuat sesuka hati, denganya kita bisa memilih pasangan bercinta tanpa takut dikatakan menyimpang. Tuhan bernominal pada beberapa belahan dunia lain juga menggerakkan manusia melakukan berbagai perilaku baru.
Lahir di Universitas Birmingham Inggris, Culture Studies mencoba menerjemahkan hampit semua fenomena tersebut. Ia tidak berdiri sendiri. Keberadaanya ditopang oleh berbagai bidang keilmuan lain. Seiring perkembanganya culture studies menyebar keberbagai penjuru dunia. Hanya saja pertumbuhan culture studies diberbagai daerah lain tidak mirip dengan inangnya. Ibarat pepatah lain ladang lain belalang. Keadaan politik, kondisi perekonomian masyarakat, dan budaya pribumi merupakan unsur menjadikan setiap daerah memiliki warna tersendiri.
Perdebatan dan pertentangan teori dipertentangkan antara satu tokoh dengan tokoh lain. Wajar, hal ini membuktikan bahwa keberadaan culture srudies benar-benar diperhitungkan. Akhirnya menelutkan nama-nama dari mereka untuk diabadikan dalam ruang sejarah hingga kini.
Penilaian atas Buku
Buku ini bisa dibilang sangat minimalis untuk mengenalkan sebuah konsep culture studies. Dengan suguhan tampilan konten disertai animasi mirip komik berhasil menciptakan kesan ringan. Nilai tambah bisa didapat dari animasinya kita dituntun untuk menginterprestasikan ekspresi maupun gaya dari setiap gambar. Bisa saja penyusun buku ini bermaksud mengkomunikasikan beberapa pesan sederhana yang penting tetapi apabila disajikan dalam bentuk teks akan membosankan.
Konten buku dirasa kurang begitu mencerminkan judulnya. Untuk mereka khususnya baru mendengar apa itu culture studies sulit untuk benar-benar memahami aplikasinya. Kedudukan culture studies pada bagian mana dari setiap persoalan dicontohkan kabur. Mengenal apa yang disampaikan buku ini ia, tetapi kita perlu untuk membaca referensi lain apabila benar-benar ingin mengerti secara mendalam.
Membaca buku ini untuk mengisi waktu luang karena ingin mengetahui secara umum sangat dianjurkan. Setelah membaca buku ini saya teringat kalimat bijak, “tiada yang salah dari membaca sebuah buku.”
Kamar kontrakan, 29 Maret 2015
Kamal, bangkalan
Iskak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar