Kamis, 01 Januari 2015

Jangan Baca Buku

Untuk semua orang yang merasa mencintai buku, mulai sekarang letakkanlah bukumu sejenak. Buang saja bukumu itu apabila tidak berperan sebagaimana mestinya. Bukankah buku seharusnya menjadi jendela dunia bukan mengalihkan dunia, memperkosa, atau mengatur pikiran kita.

Ketika dihadapan mata berhamburan tulisan yang berisi susunan kata. Kemudian membentuk berbagai kalimat dan masuk ke otak untuk dipercayai sebagai pengetahuan karena orang lain tidak tahu dan disepakati sebagai prestasi. Apakah dengan itu sudah menjadikan dirimu seakan-akan makhluk terhebat? Lalu, merasa bahwa pikiranmu cukup pintar, untuk mengerti akan banyak hal dibanding manusia lain.


Sungguh, bagiku manusia-manusia tersebut adalah makhluk terbodoh. ia, memang benar jika diri seorang berpengetahuan dengan berjuta referensi bisa meninggikan derajatnya. Maksudku untuk apa meraih banyak hal jika bukan dari pikiran diri kita sendiri. Ayam saja bisa mempercayai kekuatan nalurinya dalam menentukan dimana kiranya akan meletakkan telur-telurnya secara aman.

Disini saya mengutuk seseorang pembaca buku yang tersedot dalam dunia buku. Oleh bacaan buku telah membuat pikiran kita membenarkan semua kontruksi berbagai isi buku. Sampai-sampai kedudukan buku menjadi doktrin yang menancap kuat sebagai -isme. Kehebatan hasil pembacaan buku yang disandang untuk eksistensi diri lebih mirip dengan selendang kemunafikan. Dengan buku telah berubah menjadi doktrin tersebut kita lupa, atau menolak beberapa bagian ruang-ruang dunia kebenaran yang lain. Belum lagi, sikap yang dilakukan mirip pengulangan “katanya dalam buku” sebagai bentuk kekritisan. Padahal sangat bertentangan dengan apa itu sesungguhnya kritis kalau dia berada diantara dua cermin dan melihat bayangan dirinya berada di cermin belakang.

Kealpaan mempertanyakan siapa bertengger dibalik tirai buku tersebutlah seringkali menjadi biang menjerumuskan kita pada pembodohan dalam membaca buku. Maka dari itu, penelusuran latar belakang penulis/ pengarang menjadi bagian dari langkah sangat perlu dilakukan. Alasanya ada faktor penting yaitu, apa yang kita baca itulah yang sedang tertabur pada benih-benih pikiran diotak. Esok, lusa atau kemudian hari ingatan-ingatan tersebut akan disemai berbentuk solutif pemecahan masalah hidup. Selamat serta selamatkanlah pikiran anda semua yang rajin membaca berbagai macam buku dan mempercayai buku tersebut sejajar dengan Tuhan. Ia, selamatkan pikiran anda dan jangan sampai diri serta dunia kehidupan sedang anda jalani tidak benar-benar hidup. Kematian dunia itu terjadi karena dirimu tidak lagi mampu menemukan siapa sesungguhnya dirimu, dan berani mengambil jalan lain maupun langkah sendiri menantang dunia nyaman saat ini. Belum lagi dengan berbagai macam bacaan buku-buku seringkali orang-orang melupakan kitab Tuhan yang wajib untuk dibaca.

Masihkan selama kita ingin menjadi orang-orang pintar dengan dunia yang teralihkan pada buku-buku hasil buah pikiran, gagasan diciptakan manusia lain. Seakan –akan dunia diri kita sendiri rela dibekukan olehnya. Lantas, sampai titik mana kita membaca buku dan memposisikan diri dalam membaca? Sebab tanpa membaca kita juga tidak akan tahu bagaimana dunia.

Jawabanya telah ada dalam pikiran kita masing-masing. Letanya terdapat pada mengenai tujuan serta keinginan diharapkan setelah membaca buku apa. Baru bisa menelusuri kebenaran posisi kita atas perolehan maupun kepercayaan apa yang kita baca dimana.

Jadi, tidak usah membaca buku jika dalam benak anda sama sekali tidak ada pikiran. Selanjutnya bagi yang sudah membaca, mencari antitesis bacaan juga merupakan irisan penting memuluskan tujuan atau keinginan kita tadi. Dikarenakan dualisme dunia oleh sebagian besar manusia masih dijunjung besar serta dipercayai. Hitam putih, gelap terang, kiri kanan, dan berbagai pasangan lainya menimbulkan tertutupnya apa itu abu-abu, tengah dan berbagai posisi lain yang setara.

Titik sentral kompas pemandu arah membaca buku bisa jadi adalah guru. Guru sebagai sosok pembentuk kepribadian bukan hanya penuntun tetapi juga bisa memberikan roket untuk meluncurkan kita jauh ke langit. Langit nan jauh sampai bisa menggapai mimpi-mimpi dari cita-cita. Paling penting mencari seorang guru adalah seseorang berjiwa besar serta bijaksana. Alhasil apa yang kita baca tidak memperkosa dunia kita dari dunia lingkungan tempat dimana kita hidup. Bagiku selama masih ada hidup kita tidak pernah benar-benar sendiri.

kamar kos Perum Graha Trunojoyo B7 01-01-2015



Iskak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar