Sabtu, 18 Oktober 2014

SAKIT HATI

Semestinya keadaan ini tidak perlu terjadi. Tapi bagaimana lagi, semua telah berlalu tanpa menyisakan sebuah kesempatan. Sejarah, mungkin satu sandaran penyesalan untuk dihujat, dicaci, dan disesali. Tetapi anak SDpun tahu hal itu adalah sikap paling bodoh, konyol, dan keputusasaan pada harapan. Ketidakmampuan dan ketidakperdayaan, selamanya hanya berputar-putar disatu titik. Sedikit sisa keinginan untuk merubah terasa sangat lemah. Luapan protes tidak dapat dibendung sehingga tercurah pada tulisan-tulisan buruk semacam ini. Biarlah, orang memaknai ini sebagai apa, asal saya merasa ringan, atas tersalurkan semua beban yang ada dipikiran. Itulah gambaran saat ini sedang terbesit dalam pikiran saya.


Mengapa saya menulis demikian, tidak lain karena jenuh mendengar ceramah salah seorang teman. Waktu itu kita berbincang santai, sampai pada momen tertentu membuatku merinding. Dia menuding padaku sambil mengatakan “coba jawab pertanyaanku. Siapa pemilik barang-barang yang kamu gunakan? Kamera, hp, sabun mandi, laptop, os, parfum, dsb. Apakah kamu tidak pernah berfikir kalau selama ini uang-uang kita selalu dialirkan kepada Asing.” Walau dia mengungkapkan dengan sederhana, bagiku sebagai tusukan tajam untuk merenungkan kembali arti keIndonesiaan.

Saya masih yakin, bahwa kita semua pernah tahu produk-produk bertuliskan 100% Indonesia. Tetapi ketahuan itu bukanlah dorongan untuk menjatuhkan pada sebuah pilihan membeli. Misalkan, apabila berbelanja sabun ke toko kelontong, pikiran kita mungkin akan terarah pada sederetan produk berlabel Unilever. Kecintaan pada hasil saudara sendiri apakah sekarang memang sudah luntur? Cerita lain datang dari seorang sahabat saya sendiri, dia sangat menggilai budaya-budaya Korea, sedang pengetahuan tentang budaya lokal dungu.

Buah kemerdekaan yang dibayar oleh tumpahan darah dan jutaan nyawa seperti terlupakan begitu saja. Proses sejarah masa lalu tinggal sebatas jembatan pembebasan untuk keluar dari kultur sendiri. Terlalu puritan, primordial, dan ndeso itulah stereotif yang dilemparkan kepada sedikit manusia memiliki darah keIndonesiaan.

Lantas, untuk apa sekarang kita masih berbicara nasionalisme dan merayakan upacara bendera. Jika merdeka tidak mempunyai daya tawar kemandirian bangsa. Seorang dosen pernah mengatakan kalau pesawat militer F16 yang diagung-agungkan dalam alat utama sistem persenjataan, sewaktu-waktu bisa dinonaktifkan oleh Amerika. Belum lagi industri otomotif kita semua dibrondong oleh pabrikan Jepang dan masih banyak sektor lain. Selama ini pemerintah berkilah dengan megutarakan sebuah alasan kalau Indonesia belum mampu. Ketidakmapuan dalam artian kalau kita membeli sebuah alat, biaya dikeluarkan akan lebih murah dibandingkan memproduksi sendiri. Keuntungan lain jika membeli sisa dana bisa dialokasikan pada subsidi sektor lain.

Tentu jawaban ini juga realistis tetapi untuk solusi jangka pendek semata, sedang jangka panjangnya adalah ketergantungan tiada akhir. Contoh, seandainya kita mengingikan pisang goreng, maka cukup mengeluarkan uang lima ratus rupiah sudah barang tentu bisa menikmati. Lain persoalan bila kita ingin membuat sendiri. Kita butuh dana lebih banyak dan waktu lebih lama sampai mendapatkan pisang goreng tersebut. Baiknya bila kita membuat sendiri tentu sewaktu-waktu bisa menikmati pisang goreng dengan biaya lebih murah dan tidak berharap lagi pada pedagang, atau harus berebut sesama konsumen apabila persediaan barang terbatas.

Sikap, mental, dan naluri keIndonesaan kita mungkin sudah benar-benar bobrok. Untuk sekedar berniat bergerak dibawah kesakitan atau berjuang dengan kesengsaraan sudah hilang. Inginya serba mudah, murah, instan dan senang. Berfikir untuk menciptakan bagaimana peradaban Indonesai merupakan kealpaan sengaja diciptakan. Karena ada semacam kesepahaman-kesepahaman sosial bahwa tidak perlu ada sebuah revolusi, atau gebrakan penyadaran kalau mayoritas perekonomian kita sekarang benar-benar disedot habis oleh asing. Rasa pemenuhan kebutuhan yang mudah tersebut benar-benar buaian mimpi indah untuk menjaga kita dari alam kesadaran. Tidak salah jika setelah membaca tulisan ini anda mendikte saya hanya bagian orang-orang sedang sakit hati. Namun anda juga harus mengetahui bagaimana sakit hati itu terbentuk dari hasil melihat budaya pada lingkungan sekitar. Saya melihat sikap kolektif hanya ada pada tataran fisik semata, selebihnya pikiran mereka sangat individualistik.

Apabila perasaan dan perbuatan kita selama ini kepada Indonesia telah benar-benar yakin berada di jalan lurus, sekali lagi kita perlu untuk minta petunjuk Allah. Tahu serta mengetahui tentang apa, mengapa bisa demikian, dan berkaca pada sejauh mana perkembangan peradaban asing sebagai perbandingan.

Saat saya kembali menoleh kebelakang, optimimse itu sepertinya hanya tinggal utopis saja. Terlebih setelah melihat salah seorang berstatus agen perubahan menghabiskan hari-harinya pada sebuah hasrat bernama cinta dan cinta lagi.



Madura, 18 oktober 2014

Iskak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar