Catatan harian bisa jadi sebuah goresan sejarah yang kemudian hari bisa untuk dinikmati dengan bentuk lain. Itulah kesan saya peroleh setelah membaca buku ini. Tergugah rasanya untuk menulis kembali catatan harian, paling tidak sebagai dokumentasi pribadi. Walau saya sadar tentu hasilnya tidak dapat dibandingkan dengan Pram.
Memang dunia terasa acuh terhadap kehidupan kita seolah berbicara "peduli apa terhadap orang-orang sepertiku. kalau pada dasarnya tidak mengenal, mengerti dan dekat secara emosional maupun fisik. jawaban tungal dari semua cukup kesendirian yang ditemani lelapnya malam adalah sahabat paling bisa dimengerti. meski begitu, aku tidak ingin selemah itu, mungkin anda juga berpikir sama. Oleh karena itu berangkat dari pergulatan tersebut sebaiknya kita memulai menulis.
Seandainya tulisan itu cukup buruk tata bahasa, pilihan kata, dan gaya penyampaian bertele-tele peduli setan. Toh, disini tujuan ingin dicapai adalah menyampaiakan, menuangkan, serta mencurahkan seluruh isi hati maupun perasaan yang dialami dalam seharian.
Hebatlah mereka yang telah mencintai dunia baca tulis sejak belia. Pikiran-pikiran mereka tentu lebih baik dari pada masyarakat umumnya dan tampil berbeda. Sayang menulis itu tugas berat, hanya mudah dalam ucapan dan sulit bahkan sangat sulit memulainya. Saya sendiri merasakan bagaimana hamaban tidak berhenti saat sudah mulai menulis malah lebih banyak
Sebagai pembanding saya bertanya kepada salah seorang kawan yang memulai berproses bersama untuk menuliskan catatan harian. Satu dua bulan masih melakukan dengan tertib. Tetapi perlahan-lahan saat ada aktivitas lain dianggap lebih penting, menulisnya ia tunda satu hari. Keesokan harinya ternyata menemukwn keadaan yang sama dan akibatnya ditunda lagi. Sampai tugas mencatat itu dia lupakan bahkan ditinggalkan karena tidak punya cukup waktu lagi memikirkan kembali apa telah terjadi. Disisi lain di tahapanini ada pergeseran fungsi menulis catatan harian. Awalnya hiburan dan setelah banyak problem pikiran mengubah pandangan menulis menjadi benalu. Hasilnya dapat dengan mudah ditebak, dia meninggalkan aktifitas menulis catatan harian, dan enggan untuk sekedar melihat kembali apa telah dia tuliskan. Bisa jadi menulis catatan harian sudah menjadi phobia tersendiri sekarang. (lihat blog tetangga paling yang paling vakum)
Mengapa saya terus mengulas catatan harian, yang esensinya semua orang sudah tahu? Sebab alasannya apa yang menjadi isi dari buku “nyanyi sunyi seorang bisu 1” adalah kumpulan-kumpulan catatan harian. Pramodya Anantatoer menuliskan semua kenangan pahit sebagai dalam kehidupanya sebagai seorang tahanan politik orde baru di pulau Buru. Pram benar-benar berhasil memberikan contoh terbaik buah menulis catatan harian. kalau isi bukunya ya pemaparan bagaimana pentingnya sebuah nilai-nilai memanusiakan manusia ditegakkan. Tetapi ruang lingkup pembahasanya jauh dari teoritis diajarkan oleh buku-buku pelajaran sekolah tentang HAM.
Setelah selasai membaca buku ini, jika memang hati pembaca sebeumnya tidak menolak pastilah tahu. Bagaimana dalam sejarah atau bahkan sampai saat ini berlaku bahwa sebuah ideologi dikatakan mayoritas baik wajib diamini. Sementara relitas sewaktu-waktu mengatakan apa-apa yang baik belum tentu menjadi terbaik. Berbicara sejarah orde baru terrpampang fakta kalau suara-suara kecil akan hilang oleh suara yang lebih besar. Suara mereka yang lebih punya wewenang dan kekuasaan. Maka beruntunglah dan nyaman seta damai bagi pihak aristokrat, dan celakalah bagi mereka dijustifikasi berseberangan.
Inilah contoh salah satu momen terpenting dari fungsi catatan harian diajarkan oleh sejarah. Saat mulut tidak lagi mampu berucap, tangan tidak kuat melawan tulisan menjadi media satu-satunya. Karena suatu saat sejarah akan menilai siapa sebenarnya yang benar dan salah atas dalam bertindak.
Fungsi catatan harian selain sebagai dokumentasi adalah untuk melihat sudut pandang lain. Pembaca bisa mengetahui bagaimana perasaan dan emosi sedang dirasakan oleh penulis. Alhasil pembaca lebih dapat menerka alur cerita yang mendekati keadaan aslinya.
Sebenarnya pada catatan harian juga memiliki segi kelemahan. Catatan harian akan melemahkan kita dalam bersikap atau menjadi bom waktu. Saya berfikir sebuah tulisan sejarah seperti halnya catatan harian ketika harus dibuka orang lain membutuhkan rentan waktu tertentu. Semua kembali lagi dipertimbangkan, demi menjaga stabilitas kehidupan sedang berlangsung.
Lalu, bagaimana jika ada orang yang mempublikasikan catatan harian kita dan membuat perasaan menjadi malu? Tuliskan saja dalam cover catatan harian kita kalimat “melihat tanpa ijin, akan kutulis namamu dengan Alm.”
Madura, 20 oktober 2014
Iskak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar