Jumat, 02 Mei 2014

Khilaf di musim liburan

Bulan ini rasanya banyak tanggal – tanggal merah dan hari libur. Artinya kegiatan formal dan perkantoran di berhentikan dari aktivitas biasnya. Semua karyawan dan anak – anak sekolahan menyambut dengan suka cita. Bahkan kegembiraan itu sudah nampak sekali ketika isu libur terdengar pertama kali ditelinga. Sangat sering luapan – luapan itu muncul dalam kata “hore...” para pecinta hari libur seakan sudah menjadi ritual tersendiri untuk melakukan ungkapan itu.

Libur adalah kondisi paling nyaman, karena kita bebas melakukan kegiatan formal dan bisa dialihkan untuk sesuatu kegiatan disukai. Entah
berkumpul bersama keluarga, rekreasi ke tempat – tempat hiburan, jalan – jalan menyusuri keindahan kota, atau hanya sebatas tidur di kost sendirian. Meski kegiatan itu bila dipikirkan kurang mengandung manfaat tetap saja rasanya menyenangkan. Senang bisa keluar dari rutinitas yang sangat membosankan dan rasa jenuh menghadapi pemandangan sama.

Refresing alias penyegaran dari penatnya tubuh. Dengan liburan fikiran bisa dibuat ringan karena tidak usah memikirkan persoalan berat. Inginya menikmati terus sampai menghabiskan hari liburan itu. Mungkin keadaan seperti ini memang harapan semua manusia. Karena liburan bisa bebas menentukan pilihan sesuai kata hatinya atau yang penting suka dan menyenangkan untuk dilakukan.

Bila keadaanya benar begitu sangat disayangkan sekali. Sepertinya liburan hanyalah sebuah pelarian dari masalah – masalah dihadapi saat ini. Sedang secara sadar mereka tahu kalau tanggungjawab itu masih dibebankan padanya. Harapan untuk melakukan sesuatu yang disukai juga harus dipertanyakan ulang dari tentang prinsip kebebasan hidup. Perilaku euforia liburan oleh para pekerja seharusnya lebih diarahkan kepada curi start. Masalahnya seperti ini, pola kehidupan yang menekankan pada prinsip konsumenrisme akan menggiring pada kejayaan kapitalisme. Kesadaran itu perlu sebagai benteng super ego atas semua keinginan bujuk rayu. Ingat sebuah keinginan tidak selamanya harus dipenuhi tetapi penuhilah dulu apa yang menjadi kebutuhan. Sama halnya dengan liburan, konteksnya bisa menjadi dua yaitu antara keinginan dan kebutuhan.

Nyamanya hari libur pada sebagian besar orang telah menyenyakkan kinerja otak. Faktanya dapat dilihat dari para kalangan pelajar ketika masa – masa liburan mereka enggan untuk sekedar membaca buku. Alasanya dengan masa liburan belajar statusnya menjadi tidak begitu penting. Sebenarnya saya melihat fenomena seperti ini memang belajar mendapat posisi tidak dipentingkan. Betapa tidak, seandainya memang dipentingkan akan menjadi kebutuhan pokok. Lagi – lagi dalih untuk memperkuat kegagalan menyadarkan adalah tergantung pada diri sendiri.

Bencana amnesia dan kepikunan sementara merupakan kenyataan pada sebagian besar masyarakat kita setelah liburan. Dengan iming – iming kesenangan liburan akan lupa pada pelajaran sekolah, buku – buku, dan semua aktifitas membutuhkan kemauan berfikir dalam menyelesaikanya. Tidak mau menjadi repot jika harus repot tentu itu harus menyenangkan. Liburan seperti ini mungkin bagian negatif dari pemikiran hari ini adalah hari ini, dan besok pikir nanti saja karena semua masih misteri.

Pengalihan pandangan mengenai hari libur mestinya dimaknai bukan sebuah kesengan tetapi lebih kepada istirahat. Cara berfikir berhenti melakukan rutinitas adalah kesenangan bisa berbalik dengan kematian adalah kemerdekaan. Dia akan bebas berbuat semaunya tanpa mengganggu orang lain, sedang dia terlupa bahwa dengan kebebasanya menghentikan langkahnya untuk hidup. Hidup harus bergerak dan terus bergerak agar tidak tertinggal oleh rotasi waktu. Pilihanya bukan pada diri kita tetapi pilihan itu bisa datang dari mana saja. Kemudian penentuanya ada ditangan kita masing – masing, apa memilih menjadikan liburan sebagai pengasingan dunia keseharian kita atau hanya sebagai waktu istirahat sejenak untuk semangat baru.

2 komentar :

  1. luapan itu muncul dalam kata “hore...” para pecinta hari libur seakan sudah menjadi ritual tersendiri untuk melakukan ungkapan itu.

    Nah, kalimat iku nyindir aku banget.. iki paragrafmu kayake hampir" mirip ama teorine Marx sing alienasi...

    masa liburan mereka enggan untuk sekedar membaca buku

    Kalo kalimat sing ke2 iki, seakan-akan men-justice anank yg gak baca buku iku jelek, trus masalah gitu? haha..
    gitu aja sih, lanjutkan kak, kritik nang blogku...

    BalasHapus