Jumat, 02 Mei 2014

Mahasiswa kesiangan

Rasanya bukan hanya satu dua kali fenomena ini terjadi. Kesiangan saya artikan sebuah keterpaksaan dan semua serba mendadak. Bukan masalah tenggang waktu pengerjaan tugas melainkan sebuah kelalaian dan menganggap enteng akan tugas – tugasnya. Akibatnya ketika pada hari H menjadi super sibuk untuk menyelesaikan padahal seharusnya sudah santai – santai.

Kemalasan adalah alasan lain yang tidak dapat dielak dari mahasiswa tipe ini. Alasanya tidak mungkin seandainya tidak memiliki rasa malas mendiamkan tugasnya dan sampai satu hari
menjelang pengumpulan baru sibuk beraksi mengerjakan mati-matian. Jika tugas itu selesai artinya dia sebenarnya bisa alias mampu, seharusnya ketika mendapat tugas tidak usah merengek-rengek meminta tambahan waktu lha buktinya semalam saja rampung.

Sebagian dari kita yang ikut ospek mungkin masih ingat masa – masa itu, dimana semua waktu menjadi padat serta super sibuk. Bukankah memang itu sebenarnya niat kita disini, untuk belajar dan terus belajar mengejar ketertinggalan bangsa asing. Harusnya semua jika memang benar – benar terbuka kesadaranya rela menanggalkan semua kesibukan lain yang kurang bermanfaat. Lagian kesibukan – kesibukan lain yang tercipta maupun terencana akan manfaatnya adalah bagian dari kemalasan itu sendiri.

Keluhanya mungkin jika semua mahasiswa harus disibukkan adalah kebutuhan waktu santai. Santai, itu bohong dan hanya sebuah pelarian dari tanggungjawab saja. Ketika disaat momen santai nyatanya masih ada kesibukan lain dilakukan. Santai paling tepat adalah tidur. Jangan berharap jika semua dianggap begitu remeh, karena nanti keremehan itulah yang akan menimpa kita.

Berfikirlah untuk masa depan bangsa ini kedepan. Kita adalah tulang punggungnya, berdiri atau tidaknya ada pada perilaku keseharian bangsanya. Hanya jangan berucap dan bisa mengumpat satu sama lainya itu bukanlah sebuah solusi untuk merubah keadaan. Bicara mengkoreksi sesuatu dianggap tidak tepat dengan nada marah tidak lebih dari berbicara dengan batu. Hasilnya lelah, dan menghabiskan energi yang seharusnya bisa disalurkan untuk kebaikan.

Jebakan rutinitas waktu persoalan lain turut menyumbang kelalaian. Terkadang dengan kesibukan – kesibukan saat ini kita begitu larut tanpa bisa memikirkan persoalan lain. Sangat baik bila berprinsip ikuti saja dunia ini mengalir kemana, karena hari esokpun masih misteri entah hidup atau mati tidak tahu. Cukup disayangkan ambisi besar seperti ini jika hanya berbuat seperti jalan hidup seorang budak. Misteri selamanya akan tetap misteri, tetapi kita setidaknya wajib berusaha semaksimal mungkin entah hasilnya nanti seperti apa. Indikator maksimal bisa dirasakan dari titik paling beku kita dan disitu seakan semua ide dan gagasan telah habis.

Membangkitkan antusias maupun kegairahan belajar tidaklah mudah. Membutuhkan semangat jihad luar biasa, saya cukup yakin sebenarnya semua masih cukup sadar dan waras akan semua tindakan diambil hari ini. Adapun jika kemalasan itu ada karena dianggap kurang penting dilakukan saat itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar