Minggu, 01 Juni 2014

Terseret Masa

"Secepat apapun kita berlari, atau selincah apapun pemikiran, hakikatnya masih berjalan ditempat tanpa bisa melawan arus masa." 

Pikiranku malam minggu ini begitu sesak, karena semua merangsek masuk. Seolah semua berurusan denganku dan terus menambah kebingungan. Pergolakan terjadi karena menempatkan diantara dua kemungkinan berfikir. Pertama aku begitu peduli terhadap semua hal – hal disekitarku, atau yang kedua yaitu, diriku terlalu bodoh karena diperbudak keadaan. Agaknya aku memang seorang bodoh dalam mengontrol ranah pikiran dalam otak sendiri. Semua sudah terlanjur dan aku memilih untuk melanjutkan kebebalan ini. 


Sekiranya sedang ditempat paling privasi dan luas, mungkin hal pertama aku lakukan adalah berteriak sekencang - kencangnya. Berangkat dari ketololan – ketololan seperti inilah sampai membawa aku berfikir bagaimana peradaban bangsa kita. Sebelumnya pikiran kita akan harus dibawa berkelana jauh untuk mundur menembus sejarah jaman dulu. 

Bagaimana keadaan bangsa kita terdahulu dari jaman nenek moyang, kerajaan, penjajahan, dan saat ini? Tentu dengan sadar kita bisa melihat perubahan – perubahan terjadi bersamanya waktu. Bila di petakan pergelombang, perubahan itu selalu dipengaruhi oleh lingkungan, ideologi, dan desakan bangsa lain. Posisi bangsa ini menjadi tawanan masa pada arus  gelombang besar yang terus menyeret ke dalam pusaranya. Jadi pergerakan peradaban bangsa ini tidak ubahnya menanti takdir akan datangnya kemajuan. 

Upaya untuk melawan demi terciptanya tatanan masyarakat lebih baik juga bagian dari takdir. Alam telah punya caranya sendiri untuk memajukan peradaban suatu kaum. Misal karena ketidaktahuan atau ketertinggalan pemikiran dari bangsa lain harus di tebus dengan cara pengorbanan jiwa, raga, dan harta. Penjajahan bukan lagi suatu bentuk kekejaman terhadap bangsa ini, namun itulah cara waktu mengangkat peradaban kita. Meski demikian pada dasarnya titik kemajuan dari peradaban selalu berubah – ubah sesuai tuntutan kesepakatan masa. 

Hal ini tidak akan pernah bisa lepas dan akan terus membelenggu sebagai persoalan bangsa. Lebih sederhana kita berbuat karena mengikuti arus waktu. Ketergantungan – ketergantungan semacam ini dalam prediksiku akan terus berlanjut, sebab posisi pemikiran kita telah dijaga untuk terus mengikuti arus masa tanpa mampu melawan. 

Kemerdekaan sejati hanya bisa diraih ketika sudah mampu menaklukkan arus waktu. Manusia pada bangsa itu harus mampu mengubah halauan berfikir yang dipengaruhi bangsa lain. Mudahnya bisa dicontohkan ketika bangsa ini telah mampu menemukan pribadinya sendiri, lalu mampu menciptakan gelombang arus bagi bangsa lain. Itulah kemerdekaan bagiku. 

Karena tanpa disadari penjajahan masih saja terus berlangsung dari terseretnya arus tadi. Anggapan bahwa sekarang sudah dalam posisi maju sebaiknya dipatahkan saja. Berkacalah pada sampai mana perkembangan bangsa - bangsa lain. Aku berfikir semua sudah tahu kalau negara – negara tetangga telah berlomba – lomba keluar dari bumi untuk berbagai misi, salah satunya mencari habitat baru untu manusia di luar bumi. Sementara disini kita terlalu asyik mengurusi perebutan kursi kekuasaan segelintir orang. 

Perjuangan adalah tugas utama dari masa peradaban untuk sekedar mendorong atau menyeret masyarakat lainya agar tidak tertinggal masa. Upaya – upaya kepahlawanan memang sudah seharusnya terjadi, karena kita sudah terseret masa. Penebusanya sangat mahal karena akan ada kesengsaraan yang mengiringi. Salah satu langkah mendobrak arus adalah pengorbanan lebih dini disertai pengabdian sepenuhnya hanya untuk peradaban ibu pertiwi. Bentuknya melalui kesadaran kolektif disertai pemahaman terhadap situasi oleh mayoritas penduduk. Asalkan tidak ada unsur perpolitikan atau niat lain selain kesadaran.

2 komentar :

  1. kemerdekaan yang bagaimana yang kau harap kan???

    BalasHapus
  2. kita bisa keluar dari tempurung seretan waktu, dan mampu menjadi pengendali arus peradaban, dan paling tidak bisa menciptakan arusnya sendiri

    BalasHapus