Senin, 02 Juni 2014

Aku dan Jejak langkah

Mengapa....? 
oh, mengapa....? 
 uhuks... sepertinya itulah gambaran ekspresi protes mewakili ketika selesai membaca. Sebagai pembaca yang larut kedalam alunan cerita, diriku merasa sangat sedih, dan sedih sekali dengan nasib Minke. Kesedihan itu datang apakah karena posisiku sebagai pembaca yang seolah – olah mengenal betul semua lini kepribadian dari tokoh utama? Semua hanya spekulasi duga dan sangka atas ratapan telah berlalu. Ujungnya gambaran dalam cerita – cerita lain yang berakhir dengan kesenangan membuatku mempertanyakan kembali. Bukankah akhir realitas itu selalu menyedihkan? Contohkan saja seperti sosok Diyan, Katin, dan Riris. Sekarang, atau nanti mereka sangat mungkin untuk menjadi orang berhasil dalam karir dunia, tetapi semuanya akan berakhir sama yaitu kematian. Lalu semua cerita tentangnya berakhir kematian, terus dikubur dan membusuk menjadi makanan kelabang, atau cacing. Hii, menyeramkan bukan. 


Cerita Roman kehidupan "jejak langkah" sangat menyentuh hati dan membelalakkan perasaan batin. Nilai – nilai kebaikan yang disusupkan dalam cerita telah membangkitkan hasrat tersendiri untuk terus teringat. Bisa jadi ini adalah bagian dari buku petunjuk nurani manusia dari Allah selain al – Qur’an. Faktor kenapa sampai aku bilang begitu, karena aku begitu mengagumi karya ini. Walaupun pada seri awal tetralogi bagian “bumi manusia” sempat terpikirkan seperti sebuah sinetron dalam televisi – televisi, berdampak pada ketergantungan. Sudahlah pikiranku, sekarang diriku telah berbeda, cerita bukanlah sekedar mengikuti setiap alurnya saja tetapi tentu mengandung pesan bagi pembacanya. 

Berhati – hatilah ketika membaca buku ini. Sebab menurut pengamatanku hampir sebagian besar pembaca di SM tidak membaca buku asli, tetapi buku saduran seharga 20 ribuan. Asal muasal setelah ditelusuri karena adanya unsur kekerean. Jadi pembaca buku palsu karena tertempel unsur kere dari kehidupan. Hal ini terjadi pengecualian khusus untukku. Mengapa? 
Saya awalnya ada niat membeli tetralogi yang asli, namun nasib berkata lain, ketika lewat di toko buku Blauran ada seorang pedagang wanita begitu memelas dan meminta supaya membeli barang daganganya. Katanya uang hasil keuntungan dari jualan untuk anaknya sekolah, anaknya yang sekolah membelanjakan uang itu untuk jajan, uang pedagang yang dibeli jajanya tadi dibuat membeli beras, uang dari pedagang beras tadi diminta anaknya dipergunakan membeli buku pelajaran di Blauran. Kesimpulanya uang dari saya akan berputar mensejahterakan kalangan bawah. 
Aduh, tiba – tiba kepalaku pening dan teringat unsur mistisme dari tetralogi pulau buru khususnya "jejak langkah". 

Ceritanya begini, waktu itu malam jum’at, kebetulan sekali buku ini aku beli siangnya. 
Dengan perlakuan halus, aku raih pelan –pelan, kemudian aku letakkan dipaha dan mulai aku menggerayangi. Setelah puas menggerayangi tanganku mencari – cari satu titik untuk membuka penutup dan perlahan aku tarik dan terbukalah. Kuningnya terlihat semakin jelas, baunya cukup khas sebagai barang baru. 
Sebelum memulai aku pandangi lagi dan aku perhatikan setiap sisinya. Halus memang kulitnya ketika disentuh, dan perlahan aku persiapkan konsentrasi serta niat sungguh – sungguh untuk memulai. Jantungku berdetak dag,,dig,,,dug,,,,akhirnya aku putuskan memulainya. 
Diawal - awal rasanya masih biasa, tetapi perlahan – lahan terasa nikmat. Diriku menyelam bersama untain dayuan kalimat – kalimat. Setelah dari tadi tidak mengubah posisi, badanku menjadi capek, tidak nyaman apalagi banyak nyamuk mengganggu. 
Posisiku sekarang telungkup diatas bantal, dan buku itu dibawahku. Lima, sepuluh, duapuluh menit masih cukup nyaman. Tanpa aku sadari cerita itu terus aku baca, sekarang diriku sangat tahu persis bagaimana Minke bergaul pada teman – teman sekolah dokternya. Warna alamnya seingatku monocrome, dan Minke selalu mondar – mandir menjadi seperti orang sok sibuk. 
Tiba – tiba saja ada tepukan kaki “ kek, kek, njaluk nggone, sak rono aku ape turu ”. Mataku membuka dengan berat, dan betapa kagetnya ketika melihat air liur dibawah bantal. Untuk membaca harus mempunyai kekuatan tidak terlihat, dan energi besar. Aku telah membuktikan bahwa itu sangat benar, setelah membaca semalaman sampai pagi. Udah sampai sini saja ceritanya nanti kalian mabuk. 

Garis besar dapat saya tangkap dari roman jejak langkah adalah "manfaatkan keadaan itu semaksimal mungkin." Kalau perumusan saya sendiri "hari ini adalah peluang, dan kamu harus mengambil itu apapun resikonya, karena hari esok tidak akan datang lagi." 
Apabila dalam penafsiran ini terjadi kesesatan, atau tidak sama dengan penafsiran mayoritas pembaca pendahulu boleh kamu anggap salah, atau tidak terlalu benar. Karena kebenaran hanya milik Allah, sedang kesalahan sudah menjadi kodrati milik manusia sejak lahir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar