Selasa, 06 Mei 2014

Terjaring Chatting

Godaan dunia maya telah mengalihkan pandangan akan keadaan normal di dunia nyata. Niat awalnya ingin membangun silaturahmi, bergosip, curhat, dan sekedar membuang kebosanan rutinitas. Semakin lama durasi melakukan chatting semaki larut dan asyik. Perasaan senang terus menjalar karena merasa sangat bebas dari aturan – aturan berlaku di dunia nyata.

Disini dulu tidak pernah ada jejaring sosial yang menghubungkan satu – sama lainya. Namun kegiatan hampir serupa sudah ada. Misalkan berbicara dengan menggunakan telepon kaleng dikaitkan benang sebagai penghantar gelombang suara. Asyik, dan memiliki sensasi lain ketika memainkan permainan telepon kaleng tadi. Suara –suara kaleng akan terdengar nyaring dan jelas, tetapi orang lain didekatnya masih cukup jelas untuk menguping perbincanganya. Kerahasiaan sifatnya tidak ada karena berbicara normalpun masih bisa didengar enak. Inilah titik awal perkembangan salah satu media komunikasi paling dasar yang sampai sekarang sudah pesat.

Chatting tidak lebih sebagai obrolan dan gosip kepada sesama manusia yang menggunakan perangkat sama. Kesamaan perangkat atau sofware untuk bisa melakukan komunikasi kemudian memicu para produsen maupun kreatif untuk menjual bisnis serupa. Kita adalah pasar mereka, konsumen mereka, penyumbang kekayaan kepada mereka, meninggikan derajat para pemilik situs. Setiap bite data yang mengalir adalah uang dan waktu. Perubahan manipulasi layanan pesan dengan beberapa varian menawarkan penggolongan kelas. Misalkan media chatting BBM lebih terkenal dengan mereka golongan menegah keatas.

Pangsa pasar kelompok chatting diciptakan prestise dan gengsi. Bujuk rayu iklan, testimoni para artist, tokoh, menjadi sesuatu yang mujarab untuk menjaring masyarakat. Kemudian berkembang sebuah trend seperti kata pramoedya mirip sebuah ternak. Keinginanya mudah dialirkan oleh keadaan yang bahkan keadaan apa sesungguhnya mereka yakini tidak tahu.

Ujung – ujung pemabahasan solusi paling mujarab adalah kesadaran individu. Tetapi saya ingin mengajak untuk melawan dengan berpuasa dari laparnya keinginan – keinginan tidak begitu penting tetapi seolah –olah berada diposisi terpentingkan. Intinya dari semua puasa adalah menahan. Tawaran saya adalah untuk berpuasa dengan melampisakan kepada media lain serupa. Tentukan dulu secara pasti pada salah satu media sosial agar tidak mengalami radang kudet. Pengalihan ini adalah pelarian dan berfikir secara sehat untuk menghindarkan terjaring habisnya waktu. Kehabisan waktu kesadaran untuk beraksi pada kegiatan lain lebih positif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar