Sungguh tidak enak betul posisi menjadi seseorang yang katanya mempunyai tanggungjawab. Meski kecil tetapi telah memberikan beban waktu dan pikiran. Untuk semua senior – senior dan para mereka pemangku dewan etik semoga lekas tersadarkan akan langkah yang diambil. Harapanya memang bisa jadi begitu tetapi merealisasikanya tidak tahu. Sekarang keadaanya benar – benar susah dan membandoli aktivitas normalnya seorang pelajar bukan mahasiswa.
Berbicara mahasiswa tidak etis jika tanpa berkaca dulu siapa saya. Kemudian dengan tidak sadar diri ini memulai membuat batasan tentang siapa saya. Bisa jadi saya sekarang menempati posisi paling enak untuk pelampiasan
semua teman – teman. Menyedihkan bukan? Ya, dari dulu kalian telah mempersepsi sesuatu keanehan pada diriku, begitupun juga aku mempersepsi kalian. Dosakah sekiranya seandainya satu hari kalian semua didudukkan pada lantai yang rendah kemudian saya memaki kalian tampa putus.
Hahaha.... jangan heran dan jangan benci jika tulisan ini seperti curhat. Faktanya memang demikian, dan saya tidak bisa mengelak. Perumpamaan – perumpamaan dan imajinasi fikiran membebani menurutku harus terbuang dalam media. Menjelaskan media apa dipakai bisa sangat relatif, tergantung dari keadaan lingkungan sekitar. Bila memungkinkan untuk memaki maka maki – makilah, katin dan diyan karena mereka menyebalkan. Kalau emosi sudam mencapai tensi tinggi sebelum terjangkit stroke sebaiknya pukuli saja mustaji dan para senior . jika menginginkan menangis sambil gulung – gulung ditanah ajaklah Ike atau Riris. Walaupun begitu aku tetaplah baik karena bisa memilih jalan lain untuk menggandakan opsi menjadi menulis di blog. Aku sudah terlanjur suci untu sekedar bilang jancuk, matamu, asu, fuck kepada sesama manusia.
Penulisan ini dengan sangat terpaksa dan dilandasi keinginan dalam batas kesadaran 100%. Apabila terjadi konflik maupun tindakan kurang menyenangkan terhadapku sungguh aku belum siap menerima itu. Aku terlalu sayang kalian dan sudah saya anggap seperti keluarga sendiri tanpa kata bapak / ibu. Atas segala kesengajaan ini saya mengucapkan minta maaf, apabila kalian para pelaku tidak terima dan emosi pilihlah opsi diatas.
Saudara pembaca, kesibukan menjadi seorang mahasiswa sudah biasa. Tetapi terkadang kita merasa kurang begitu nyaman karena disekeliling kita adalah orang yang santai. Ibarat sebuah balap mobil F1, kita membutuhkan kecepatan yang lebih cepat dari lainya. Meski kecepatan itu menembus angka 230 km/jam dan kita berada pada urutan ke 10 tetap saja kita dianggap lambat. Inikah relatifitas sesungguhnya,sebuah kebenaran paling benar dan ketetapan paling tetap.
Perjuangan berproses belum menuju titik akhir. Ini adalah awal permulaan melangkah kepada dunia baru. Sebuah level baru, babak baru, dan arena baru yang sudah barang tentu kesulitanya bartambah. Harapanya semoga diri kita semua selalu mendapat perlindungan dari Allah atau apapun kalian sebut apa bagi yang non muslim. Rawe –rawe rantas malang – malang putung, mari kita hangatkan semangat kita dan jangan sampai terbakar agar tidak menjadi abu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar