Senin, 05 Mei 2014

Tan Malaka Dan Gerakan Kiri Minangkabau

Sebuah buku referensi yang menyajikan sisi perjuangan tokoh gerakan kiri Tan Malaka. Sejarah dulu sempat akan menghapuskan namanya oleh rezim kekuasaan orde baru karena dianggap bertentangan ideologi. Zulhasir Nasir adalah pengarang buku ini. Diterbitkan penerbit Ombak Yogyakarta tahun 2007 dengan sejumlah 223 halaman. Buku ini masih cukup segar atau tidak begitu lampau jika dijadikan referensi apalagi meninjau tahun terbitnya. 

Pembahasan dalam buku tidak jauh dari judul yang menceritakan bagaimana perjalanan awal seorang Tan Malaka sampai akhir hayatnya. Sifat ulasanya tidak begitu mendetail kesannya lebih mirip dengan sebuah karya ilmiah. Sangat wajar bila penulis lebih banyak mengutip dari berbagai sumber
terbitan buku – buku terdahulu. karena secara teknik sangat terbatas catatan sejarah dari tokoh utama. Bahkan sampai tidak pernah saya sekolah dari SD diajar peran seorang Tan Malaka maupun track recordnya.

Menjadi semakin menarik dari buku ini karena adanya sebuah kegamangan dan banyak persepsi berkembang dari Tan Malaka. Kemudian oleh pengarang dikaitkan dengan bagaimana sistem kekiri – kirian dipakai sistem sosial di tanah asal Tan Malaka sampai kemudian dihancurkan
melalui sistem rekayasa penciptaan feodalisme. Penguatnya bahwa putra daerah Minangkabau besar ditampilkannya beberapa tokoh – tokoh nasional yang bergerak dalam kancah perpolitikan. Katakan saja seperti Moh. Hatta, Agus Salim, DN Aidit, M. Yamin dsb.

Efek membaca buku ini terasa lebih mengerti bagaimana susah dan gigihnya mereka berjuang menyebarkan sebuah ideologi menurutnya terbaik. Tujuan mereka sebenarnya sehalauan dengan tokoh lain yaitu ingin Indonesia merdeka, tetapi merdeka 100%. Ambisi lainya jika tidak dihianati sesama tokoh pergerakan adalah menyatukan Malaysia, Singapura, Indonesia menjadi satu negara diproklamirkan pada 24 agustus 1945. Pengaruh lain adalah kita tidak bisa menutup mata kalau penguasa negeri ini terkadang kejam kepada mereka tidak sepaham. Mungkin sampai nanti tidak akan mudah terlupakan begitu saja bahwa Putra pertiwi yang punya idealisme dan pemikiran tinggi dihancurkan oleh bangsanya sendiri. 

Lalu setelah rampung membaca buku ini saya teringat kembali akan cerita – cerita penumpasan pki oleh Ayah. Dikampung, dulu orang – orang berpaham komunis adalah mereka yang punya pemikiran lebih jauh akan nasib sesamanya. Setiap minggu melakukan pertemuan disaat sebelumnya belum pernah ada yang mengajarkan untuk berorganisasi, memikirkan kesamarataan dsb. Namun naas, kekuasaan politik telah memulangkan mereka lebih cepat kehadapan Tuhan sebelum beregenerasi.

 Kritik kenjanggalan dalam buku adalah meragukan netralitas dari sudut pandang penulis yang mengambil sisi baik saja dari Tan Malaka. Bisa jadi  latar belakang penulis terlahir di Tanah Sumatra membuat ikatan regional sebagai alasan utama. Terkadang seorang pembaca bisa lupa akan kedudukan buku jika tidak memposisikan sebagai bahan referensi semata. Kecelakaan yang terjadi seandainya sebuah buku telah menggeser kitab suci. Karena dijadikan sebagai panutan utuh. Kita harus realistis akan berbagai ideologi, teori, dan pemikiran karena ruang dan waktunya sudah bergeser. 

Langkah apaun yang dipilih harus disukai dan dilandasi ketulusan. Tekad menjadi pembakar semangat untuk menikmati jalan berproses menuju akhir cerita kehidupan. Lelah, sakit, malas, musuh, intimidasi, interfensi, dan penghianatan sudah menjadi pasangan jalan kehidupan orang normal. Kesakitan – kesakitan seperti itu adalah peluang untuk lebih keras terhadap diri sendiri. Tidak ada yang lebih mencintai dirimu selain kamu, semua orang disamping kita masih mau mencintai karena ada yang disuka dari kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar