Sebagai selayaknya manusia normal kita selalu melihat, mendengar, merasakan segala sesuatu berada di lingkungan sekitar. Semua segala informasi dari indra tadi akan terserap oleh otak. Otak akan mengolah untuk menentukan sikap apa yang akan di ambil sebagai bentuk reaksi. Sebelum semuanya terucap oleh mulut hati lebih dulu berucap dengan nuraninya. Sudahkah ada kepantasan untuk berbuat, atau ini hanya sekedar luapan emosi belaka. Serumit apapun manajementnya tetaplah nanti akan keluar sebuah keputusan.
Tidak ada yang pernah tau berapa juta kali setiap hari kita melihat dan menanggapi sebuah fenomena. Karena dalam prosesnya kita tidak sadar jika tidak sedang berupaya memikirkan.
Ketidaksadaran itu menjadi lumrah akibat pengabaian atas dasar ada atau tidak upaya menganalisisnya tidak juga ada perubahan. Adanya hanya menjadi sebuah cermin untuk tingkah laku kedepan.
Penggambaran untuk hal ini adalah “kepedulian” terhadap sesama. Rasa kepedulian itu bisa menjadi tipuan dari diri kita sendiri. Karena persoalan idealisme, ambisi, pembenaran, dan sedikit sifat egoisme yang tumbuh subur. Idealisme dibangun dari hasil inspirasi sejarah masa lalu. Kesannya membangun kebaikan seperti kehendak ajaran ilmu yang paling dipercayai melalui sedikit bumbu improvisasi. Jika sudah masuk idealisme terlalu tinggi semua panca indra akan tertutup buat referensi lain. Ambisi merupakan kekuatan besar dari dalam diri untuk mengubah. Sifat primordialisme akan dibenci karena dianggap sebuah kemunduran nilai, atau bisa sebaliknya dia akan berfikir konservatif. Semuanya tergantung penerimaan dia bagaimana akan fenomena seperti ini. Pemebenaran mengatakan dirinya sebagai hakim sehingga berhak memutuskan baik tidaknya fenomena. Persepsi dengan alih – alih pembenaran dinilai kurang begitu sehat. Kembali uraikan makna pembenaran berarti ada sebuah sikap subjektif, semuanya dilihat dari kaca mata dirinya sendiri. Dan egoisme yang tumbuh subur mejadi penentu paling pasti bahwa sebuah lontaran persepsi akan dikeluarkan. Perlakuan akan menjadi di atas angin karena merasa lebih tinggi, dan pasanganya besar kepala.
Ungkapan dan luapan persepsi sendiri sebenarnya adalah sebuah sebuah kritik terhadap keadaan sedang berlangsung. Intinya itu adalah sikap tidak terima karena tidak ada kesesuaian terhadap nilai, ajaran, norma dianggap baik untuk saat ini. Keras lembutnya sebuah kritik berkaitan dengan nyali seseorang. Apabila dia merasa mampu untuk menggugat hal tersebut dengan kekuatan lebih besar. Pada lain sisi tidak jarang prespektif benci, dendam, dan iri mengaburkan batasan antara kritik murni dan penjatuhan serta penghinaan.
Pendekatan ideologi kebenaran memang perlu dilakukan untuk menata menjadi lebih baik. tapi apa jadinya bila hal itu malah membakar diri kita sendiri akibat kekonyolan kritik. Niat awal menjadi kritis berubah menjadi bumerang ketika mendapat respon negatif. Pihak yang dikritik tiba – tiba merasa terhina akan datangnya kritikan. Pencarian solusi terbaik dengan pendekatan pembenaran tidak lagi tercapai, keadaan berubah menjadi adu emosi.
Berkaca kepada diri sendiri dan masa lampau dan menyerah begitu saja bukanlah pilihan tepat, melainkan menjerumus kepada sifat pengecut. Dengan matinya sikap terbuka menerima kritik seorang yang akan memberikan kritik harus maju lebih cepat. Kemajuan dimaksud adalah penguasaan dasar keilmuan yang membantah paradigma mereka. Jalan lain bisa ditempuh melalui penggalangan dukungan pihak sekiranya mempunyai kekuatan besar.
Apabila sekiranya tidak mampu memberikan kritik atau persepsi terhadap orang lain seperti diatas lebih baik mengalihkan jalan kritik. Sebagai pribadi seseorang manusia kita harus memikirkan dulu lebih jauh sebelum menempuh jalan yang akan dilewati. Penempatan posisi menjadi kunci utama bagaimana dia bisa berada dititik aman. Sebenar apapun pemikiran ketika dipublish atau di lontarkan secara langsung bisa tidak menjadi benar. Alasanya dikembalikan lagi kepada serapan persepsi apakah sudah bisa menerima apa belum. Untuk pengawalan ideologi dan hasil buah pemikiran haruslah tetap hidup. Bayangkan anda mempunyai teori sosial tetapi tiba – tiba dirimu dibunuh. Setelah itu ada sebagian dari mereka berusaha mengkajinya lalu menyimpulkan semua tentangmu. Keselamatan itu penting untuk menghindarkan dari kesesatan. Maka mulai hidupkanlah seluruh indramu untuk menerima dan menelaah lalu kamu menjadi lebih penting ( menghargai diri sendiri ) serta tidak lupa harus sadar diri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar