Kamis, 22 Mei 2014

Cerita Logo Kambing

Kambing diatas adalah hewan kesayanganku dan sangat aku cintai melebihi nama - nama orang suka menaruh komentar di blog ini. Ikatan emosional diantara kami sangat dekat. Terlalu susah aku untuk melupakan kenangan masa – masa bersamanya. Sampai aku memutuskan untuk menaruh dalam keabadian blog ini, meski sekarang dia sudah beranak 3.
 
Sedikit cerita, sewaktu awal – awal liburan sekolah memasuki kelas tiga SMK kambingku beranak. Karena setiap hari aku sering nonton acara sirkus, itu lho acara hewan yang berperilaku selayaknya manusia. Inspirasi itu muncul dalam benak untuk menerapkan padanya. Biarlah dia menjadi kambing percobaanku
, dengan pertimbangan seandainya berhasil aku akan mempunyai kambing unik, dan jika tidak pengaruhnya juga tidak ada karena masih laku dijual.

Percobaan saya mulai dengan memberikan kulit pisang kepadanya. Sebelum mulutnya berhasil meraih aku tinggikan dan tinggikan lagi sampai dia posisinya berdiri. Aku ingin kambingku berdiri, biar keren dan kaki depanya digaruk – garukan kepada orang untuk pertanda komunikasi meminta sesuatu selain mengembik. Ritual memberikan kulit pisang terus dilakukan sampai kambingku terlatih. Respons dia menjadi sangat cepat, ketika ada kulit pisang langsung berdiri. Semakin hari badanya semakin besar dan harus segera dikandangkan agar tidak merusak tanaman tetangga sekitar.
Kupeluk dia, ternyata kambing kecil ini rasanya seperti boneka. Hanya saja dengusan nafas keluar dari tubuhnya menjadikan lain. Kulitnya halus, tubuhnya tidak empuk tetapi sintal atau persamaan kata yang intinya berotot tetapi tetap halus. Ditambah tanduknya setiap ketemmu pasti aku pelirit lurus agar nanti tumbuhnya tidak bengkok.

Setelah dikandangkan timbulah keanehan dari kambing kecil ini, mengapa selalu saja berhasil keluar. Usut – diusut si kambing bisa memanjat kandang untuk keluar dari lubangnya ( dampak latihan berdiri ). Menjadi masalah karena ketika waktunya menyusu bingung dan mengembik sekeras – keras sampai berisik banget, hal  itu mesti merepotkan ayah atau saya untuk mengandangkan kembali. Rupa – rupanya perilaku kambing kecil membuat ayahku geram atas perlakuannya yang selalu merepotkan. Ditutup rapatlah kandang kambing itu dengan bambu – bambu seukuran 3 jari untuk mengantisipasi celah mana saja yang bisa membuatnya melarikan diri. Tetapi tetap saja dia satu minggu satu kali bisa keluar.

Ditengah semua kesibukan itu aku tetap saja melakukan ritual memberi makan kulit pisang. Sampai terbangun nalurinya, jika ada saya mengembik lalu berdiri sambil memandang dari balik kandang sebagai isyarat meminta kulit pisang. Menanggapi keadaan seperti ini hatiku tak tega dan langsung mengambilkan pisang atau kulitnya. Perlu diketahui stok pisang dirumahku jarang sekali habis karena punya kebun sendiri dan tidak dijual atas dasar alasan nilainya terlalu murah. Bayangkan satu tandan Cuma dihargai lima ribu rupiah, padahal isinya banyak, bila dibuat industri keripik sale beredar di pasaran bisa 5 kali lipat harganya.Maklum sajalah disini sumber daya manusianya masih kurang memadai dan banyak kualitas hidup warganya dibawah rata – rata. Sumber penghidupan sangat tergantung dari hasil pertanian, setelah kebutuhan gizi dan perut terpenuhi biasanya baru dijual.

Dari situlah keterikatan diantara kita mulai muncul. Opss... sebelumnya jangan berfikir aneh – aneh dulu. Aku tiba – tiba saja sering menyambangi kambingku dan membayangkan kehidupan sebagai kambing yang ayem, tentrem. Tidak usah memikirkan yang lain adanya Cuma tidur dan berkumpul serta bercengkerama santai bersama keluarga. Tampa aku sadari kegiatan melamun itu terjadi berulang kali disaat aku kesepian. Aku yang lagi memikirkan keindahan dunia binatang di tengah hambaran bumi yang masih perawan rasanya sungguh nikmat, ditambah sedikit terpaan angin sepoi – sepoi pegunungan.

Kambingku sekarang telah dewasa saatnya aku kawinkan dengan pejantan berkelas mahal biar anaknya nanti punya nilai jual tinggi. Aku kalungkan seutas tali yang kuambil dari jemuran pakaian untuk mengikat lehernya, kemudian kutuntun ke rumah tetangga yang punya pejantan. Sampai disana tidak sepatutnya kambing perkawinan berlangsung antara pejantan dan betina. Prosesi ho ho hi he berjalan alot, bukanya kambingku pasrah malah dia menanduk pejantan itu. Perkelahian tidak dapat terhindarkan, berlangsung sengit, sementara aku masih membiarkan saja. Akhirnya sang pejantan kalah, apabila dibiarkan tidak mungkin dia berani mengawini kambingku. Aku putuskan untuk mengikat saja di sebuah pohon, ikatan simpul kubuat sangat pendek dengan lehernya. Kambingku sekarang tidak dapat duduk, atau sekedar membalikkan badan. Akhirnya berhasilah ho ho hi he itu meski merepotkan.

Kenangan – kenangan seperti ini kemudian terbangun dalam ingatanku. Seakan aku menyimpan sebagian cerita hidupnya. Sebelum akhirnya aku berpisah karena melanjutkan studi di Madura. Sempat aku kemarin pulang dan ternyata sudahn beranak tiga.

Pose bersandar dan menghadapkan kepala keatas menandakan adanya kesantaian, kebebasan akan beratnya masalah hidup. Memikirkan beban hidup itu penting, tetapi jangan lupa untuk melihat kepada lingkungan sekitarmu. Bisa jadi disana terdapat sepihan pengalaman manis yang Tuhan selipkan untukmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar