Kambing diatas adalah hewan kesayanganku dan
sangat aku cintai melebihi nama - nama orang suka menaruh komentar di blog ini.
Ikatan emosional diantara kami sangat dekat. Terlalu susah aku untuk melupakan
kenangan masa – masa bersamanya. Sampai aku memutuskan untuk menaruh dalam
keabadian blog ini, meski sekarang dia sudah beranak 3.
Sedikit cerita, sewaktu awal – awal liburan
sekolah memasuki kelas tiga SMK kambingku beranak. Karena setiap hari aku
sering nonton acara sirkus, itu lho acara hewan yang berperilaku selayaknya
manusia. Inspirasi itu muncul dalam benak untuk menerapkan padanya.
Biarlah dia menjadi kambing percobaanku
, dengan pertimbangan seandainya
berhasil aku akan mempunyai kambing unik, dan jika tidak pengaruhnya juga tidak
ada karena masih laku dijual.
Percobaan saya mulai dengan memberikan kulit
pisang kepadanya. Sebelum mulutnya berhasil meraih aku tinggikan dan tinggikan
lagi sampai dia posisinya berdiri. Aku ingin kambingku berdiri, biar keren dan
kaki depanya digaruk – garukan kepada orang untuk pertanda komunikasi meminta sesuatu
selain mengembik. Ritual memberikan kulit pisang terus dilakukan sampai
kambingku terlatih. Respons dia menjadi sangat cepat, ketika ada kulit pisang
langsung berdiri. Semakin hari badanya semakin besar dan harus segera
dikandangkan agar tidak merusak tanaman tetangga sekitar.
Kupeluk dia, ternyata kambing kecil ini
rasanya seperti boneka. Hanya saja dengusan nafas keluar dari tubuhnya
menjadikan lain. Kulitnya halus, tubuhnya tidak empuk tetapi sintal atau persamaan kata yang intinya berotot tetapi tetap halus. Ditambah tanduknya setiap ketemmu
pasti aku pelirit lurus agar nanti tumbuhnya tidak bengkok.
Setelah dikandangkan timbulah keanehan dari
kambing kecil ini, mengapa selalu saja berhasil keluar. Usut – diusut si
kambing bisa memanjat kandang untuk keluar dari lubangnya ( dampak latihan berdiri ). Menjadi masalah
karena ketika waktunya menyusu bingung dan mengembik sekeras – keras sampai berisik banget, hal itu mesti
merepotkan ayah atau saya untuk mengandangkan kembali. Rupa – rupanya perilaku kambing kecil membuat ayahku geram atas perlakuannya yang selalu merepotkan. Ditutup rapatlah kandang kambing itu dengan bambu – bambu seukuran 3 jari untuk
mengantisipasi celah mana saja yang bisa membuatnya melarikan diri. Tetapi
tetap saja dia satu minggu satu kali bisa keluar.
Ditengah semua kesibukan itu aku tetap saja
melakukan ritual memberi makan kulit pisang. Sampai terbangun nalurinya, jika
ada saya mengembik lalu berdiri sambil memandang dari balik kandang sebagai isyarat meminta kulit
pisang. Menanggapi keadaan seperti ini hatiku tak tega dan langsung mengambilkan
pisang atau kulitnya. Perlu diketahui stok pisang dirumahku jarang sekali habis
karena punya kebun sendiri dan tidak dijual atas dasar alasan nilainya terlalu
murah. Bayangkan satu tandan Cuma dihargai lima ribu rupiah, padahal isinya banyak,
bila dibuat industri keripik sale beredar di pasaran bisa 5 kali lipat
harganya.Maklum sajalah disini sumber daya manusianya masih kurang memadai dan
banyak kualitas hidup warganya dibawah rata – rata. Sumber penghidupan sangat
tergantung dari hasil pertanian, setelah kebutuhan gizi dan perut terpenuhi
biasanya baru dijual.
Dari situlah keterikatan diantara kita mulai
muncul. Opss... sebelumnya jangan berfikir aneh – aneh dulu. Aku tiba – tiba
saja sering menyambangi kambingku dan membayangkan kehidupan sebagai kambing
yang ayem, tentrem. Tidak usah memikirkan yang lain adanya Cuma tidur dan
berkumpul serta bercengkerama santai bersama keluarga. Tampa aku sadari
kegiatan melamun itu terjadi berulang kali disaat aku kesepian. Aku yang lagi memikirkan
keindahan dunia binatang di tengah hambaran bumi yang masih perawan rasanya
sungguh nikmat, ditambah sedikit terpaan angin sepoi – sepoi pegunungan.
Kambingku sekarang telah dewasa saatnya aku
kawinkan dengan pejantan berkelas mahal biar anaknya nanti punya nilai jual
tinggi. Aku kalungkan seutas tali yang kuambil dari jemuran pakaian untuk mengikat
lehernya, kemudian kutuntun ke rumah tetangga yang punya pejantan. Sampai disana
tidak sepatutnya kambing perkawinan berlangsung antara pejantan dan betina. Prosesi ho
ho hi he berjalan alot, bukanya kambingku pasrah malah dia menanduk pejantan
itu. Perkelahian tidak dapat terhindarkan, berlangsung sengit, sementara aku masih membiarkan saja. Akhirnya sang
pejantan kalah, apabila dibiarkan tidak mungkin dia berani mengawini kambingku.
Aku putuskan untuk mengikat saja di sebuah pohon, ikatan simpul kubuat sangat pendek dengan
lehernya. Kambingku sekarang tidak dapat duduk, atau sekedar membalikkan badan. Akhirnya
berhasilah ho ho hi he itu meski merepotkan.
Kenangan – kenangan seperti ini kemudian
terbangun dalam ingatanku. Seakan aku menyimpan sebagian cerita hidupnya. Sebelum
akhirnya aku berpisah karena melanjutkan studi di Madura. Sempat aku
kemarin pulang dan ternyata sudahn beranak tiga.
Pose bersandar dan menghadapkan kepala keatas
menandakan adanya kesantaian, kebebasan akan beratnya masalah hidup. Memikirkan
beban hidup itu penting, tetapi jangan lupa untuk melihat kepada lingkungan
sekitarmu. Bisa jadi disana terdapat sepihan pengalaman manis yang Tuhan
selipkan untukmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar