Hanya ia yang menjadikan semua berjalan mudah. Tidak butuh banyak pertentangan dan perlawanan untuk melakasanakan perintah. Tujuanya tidak lain agar cepat - cepat selesai. Semuanya berlaku karena pengaruh yang lebih kuat. Kekuasaan, kepandaian, dan kebaikan adalah yang menjadi penakhluk paling mujarab. Setelah engkau mendapat kucuran kata dari mulutnya, badanmu akan lemas, pikiranmu tiba – tiba berubah bodoh, otot - ototmu serasa menghilang. Apabila melakukan timbalan jawaban untuk membantah, kesesatan akan melingkarimu karena setiap kata – katamu adalah sampah serapah baginya. Semakin tidak berguna, tetapi dirimu merasa mendapatkan sesuatu paling berguna. Ketika tubuhmu tidak lagi sanggup membalas semuanya, maka tinggal menunduk dan mengatakan ia lalu berakhirlah.
Kekalahan bukanlah kata yang cocok untuk disandingkan dengan keadaan ini. karena tidak pernah ada genderang perang, yang membawa pada sebuah penaklukan. Disini adanya Cuma mencari sesuatu paling relevan, waras, obat ambigu, dan pendekatan kebenaran paling besar. Sangat besar energi otak dikeluarkan untuk saling beradu menggodok argumen. Hanya saja ini tidak akan pernah terjadi bila ketimpangan ilmu cukup jauh. Akhirnya siapa yang harus memaklumi sangat jelas tanpa ada hal berarti.
Manajement bunglon akan mematahkan kesetiaan kata ia diawal. Sekarang boleh jadi sangat ambisius menampilkan keseriusan dalam pelaksanaan. Tetapi apa yang terjadi besok berpeluang berubah 180 derajat akibat berada pada lingkungan berbeda. Ia telah dijadikan sebagai penyenang bagi semuanya tampa berfikir mengisi diri sendiri dulu untuk yang di dalam tempurung kepala.
Transformasinya paling mengerikan adalah sebuah penghianatan. Ia digunankan untuk menghina ketika berada di pihak pilihanya. Seandainya bangunan kepercayaanya sudah sangat kokoh haruslah sisi ia yang lain dihancurkan. Meski bukan rivalitas menjadi pokok permasalahan utama. Masalahnya paling kuat berangkat dari kesakitan hati masa lampau yang kemudian semua jasa masa maupun kenangan hilang begitu saja.
Akhirnya kecondongan sebuah ia mengarah kepada kebaikan dan keburukan. Jika saja sebuah permen ditabur siapa cepat ia dapat, sangat beda dengan kesepakatan kata ia. Menumbuhkan kata ia itu butuh pertarungan dalam diri sendiri. Disitu diperhitungkan secara matang betul dari berbagai aspek keuntungan maupun kerugian. Walau terkadang proses itu dituntut cepat, tetapi tetap saja alur berfikir itu ada.
Keterpaksaan adalah jalan pahit harus ditempuh untuk mengiyakan. Inilah bibit – bibit pemberontakan muncul untuk mengalahkan si pemerintah. Entah jalanya dengan menunjukkan ideologi lain lebih masuk akal atau sekedar bermodal nekat, ngotot, dan kepengkuan tidak diperhitungkan lagi. Kalau sudah begini ia gimana lagi, apa semakin maju karena kritis, atau kembali kepada masa purba yang semua main sikat main embat.
Disaat terlanjur mengatakan ia rasakan itu. Bagaimana tubuh, hati, serta pikiranmu menyerapnya. Bila melanjutkan harus ada kekuatan besar pendorong untuk melaksanakan semuanya. Totalitas dan loyalitas menjadi penentu segalanya. Namun terkadang hati kecil membisikan untuk meninggalkan saja. "Biarkan semua janji itu lepas bersamaan waktu, jangan engkau siksa dirimu akan sebuah pemaksaan dari orang lain".Ketakutan akan jalan atau tidaknya sebuah sistem bukanlah salahmu. Gunakan pikiranmu untuk memerdekakan dirimu sendiri, tegakah engkau menjadi mesin penunduk.
Biar mentari senja itu tenggelam tampa awan menutupi, hanya saja kita tidak selamanya memaksakan kehendak itu karena demi sebuah kebaikan. Begitu juga dengan Tuhan yang memerintahkanmu ibadah untuk kebaikanmu juga, dan sekali – kali engkau harus berkata ia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar