Hari ini masih jauh dari tanggal pemilu president yang katanya akan dilaksanakan 9 juli mendatang. Seperti fenomena pemilu pada umumnya maka banyak kejadian - kejadian mengiringi pesta demokrasi memilih pemimpin RI 1 itu. Bagi berita – berita online dan cetak maupun elektronik sudah menjadi agenda tetap subjek pemberitaanya. Sambutan animo masyarakat juga sangat besar untuk menanti kabar – kabar tentang capres mereka setiap hari. Begitu juga dengan saya yang selalu membuka situs online untuk sekedar mengetahui berita dari Prabowo. Akhirnya saya jadi tahu kalau hari ini calon president sedang mengikuti test kesehatan, psikologi, dan semacamnya.
Suatu ketika di sore yang cerah aku tiba – tiba diajak diskusi sambil ngopi bersama mas Ilham dan mas Robbi. Disitu kita sempat menyinggung bagaimana pandangan kita terhadap kedua calon president ini. Semua mengatakan dukunganya untuk memilih kepada prabowo yang manduduki kursi RI 1. Mereka berdua tidak asal mengatakan itu, karena diikuti berbagai macam asumsi dari analisis pemikiranya.
Pada perkuliahan – perkuliahan beberapa dosen juga membahas masalah president ini. Ada yang mengatakan bahwa pola pemikiran sebagian besar rakyat terutama kalangan bawah telah disesatkan media. Permasalahanya Jokowi tidak pernah mendapat pemberitaan dari sisi negatif. Akibatnya tibullah asumsi bahwa jokowi terbaik, hal ini didukung oleh dukungan media dari pemodal media rekan koalisi. Bayangkan saja televisi – televisi berita tanah air milik Aburizal bakri, dan Surya Paloh sangat jelas mendukung Jokowi. Ada lagi dosen yang mengatakan bahwa negara kita saat ini butuh renegosiasi aset – aset asing agar kita tidak terjajah lagi dari sektor ekonomi. Hanya Prabowolah calon president yang beretekat untuk itu. Secara ekonomi saat ini kita hanya sebagai penonton dinegeri sendiri, contoh sektor pertambangan nyatanya saat ini sebagian besar masih milik asing. Pengembalian kepada penduduk sekitar hanya pembohongan, buktinya daerah – daerah yang dikeruk sumber daya alamnya masih saja rakyat sekitar belum menemukan titik kesejahteraan, padahal ada nilai yang dikeruk sungguh luar biasa. Namun informasi di sebagian masyarakat salah berkembang dengan menanggapi bahwa akan dilakukan nasionalisasi.
Disaat tengah sendirian saya kemudian memikirkan hal ini. Apakah benar Prabowo adalah president terbaik untuk saat ini? Keraguanku lalu muncul, apakah ini sebuah bentuk perlawanan kepada media dan lembaga survei yang selalu memenangkan Jokowi? Atau jangan – jangan ini dampak dari isu beredar di kalangan luas bahwa Jokowi akan meninjau ulang sertifikasi guru dan dosen , lalu akan mencabutnya jika dianggap tidak sesuai. Berbanding terbalik dengan prabowo yang akan meningkatkan gaji Guru dan Dosen.
Keyakinanku untuk memilih salah satu calon pasangan akhirnya menemui kebimbangan. Golput sepertinya masih menanti sebagai jalan cerah. Tidak, aku ingin memilih untuk menentukan pilihan bangsaku. Mungkin sekarang aku juga korban pemikiran orang – orang disampingku yang mengarahkan memilih Prabowo. Pemahaman - pemahaman itu secara tidak sadar aku turut sebarkan supaya memilih Prabowo.
Perlahan – lahan aku sadar, jika akhir – akhir ini timbul sikap fanatisme dari dalam diriku. Menjijikkan sekali, saya dijadikan salah satu bagian unsur dari komoditas politik sebagai pemuja salah satu kadidat. Lahirlah sebuah kebimbangan sebab masih belum ada kepastian. Satu – satunya kejelasan adalah berdoa kepada Allah semoga esok Indonesia bisa lebih baik. Baik untuk perkuliahanku, baik untuk keluargaku, baik untuk teman – temanku dan bisa menghantarkan pada pintu gerbang kebahagiaan. Oke, selamat datang Indonesia Baruku, banyak rakyat menaruh harapan besar padamu entah siapa presidenya kelak aku akan tetap bersikap sebagai diriku sendiri.
enake milih aku aja,,hahahah puthut
BalasHapusjiaahhaaaa...
Hapusyo harus koalisi dulu, ntar setelah dapat bagian kursi tak Cuplek gabare.
kwkwkwkkwkkwkk