Senin, 26 Mei 2014

Pers di Masa Orde Baru

Jas merah, jangan engkau melupakan sejarah. Kalimat diawal adalah penggambaran umum tentang apa yang disampaikan buku ini. Sejarah telah terukir dalam masa lalunya menyimpan sebuah kenangan dan saksi. Jika ada pembohongan atas apa telah terjadi adalah bagian dari sifat ketamakan manusia. Untung sebuah celah – celah lain semakin lama semakin banyak sehingga membawa cerita baru untuk mengisyaratkan pada pendekatan kebenaran. 

Kebenaran sejarah akan terungkap jika ada catatan otentik, sumber pelaku dijamanya, maupun sumber kedua sebagai saksi terjadinya peristiwa. Semuanya berkat kebebasan berbicara, tetapi kebebasan berbicara sendiri pada masa orde baru dianggap sebagai suatu pemicu masalah situasi keamanan, dan stabilitas nasional. Sebuah rezim dengan kekuatan militernya telah melangsungkan sistem itu berpuluh – puluh tahun. Imbalan untuk para pelanggar adalah beredel yang siap mencabut SIUUP.

Itulah sekelumit tentang seputar pembahasan buku “Pers Dimasa Orde Baru”. Buku ini karya dari David T. Hill yang aslinya berjudul “The Pers in New Order Indonesia” diterjemahkan oleh Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo, kemudian Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Anggota IKAPI DKI Jakarta, bekerja sama dengan LSPP menerbitkan untuk pertama kalinya. Buku ini terbit di Indonesia tahun 2011 dengan 252 halaman tebal 15,5 x 23 cm. 

Muatan buku ini tidak akan cukup menarik bagi yang tidak benar – benar ingin mengetahui dunia pers. Rasanya agak berat meski bahasa yang digunakan sederhana. Ini karena tuntutan untuk membawa pikiran kita membayangkan tabir masa lalu media – media kini bertengger atau sejarah pesaingnya dulu. Banyak menyebutkan nama – nama sebagai rujukan narasumber dan pengisahan yang menjadi semakin memutar otak berfikir siapa orang – orang ini? keadaan ditambah dengan banyaknya catatan kaki pada setiap babnya. Hal ini sangat menyulitkan pembacaa karena harus membolak – balikkkan halaman demi melihat penjelasan yang ada catatan kakinya. 

Efeknya setelah membaca timbulah sebuah kesadaran akan media, dan bagaimana seharusnya mempersepsi sebuah berita. Faktanya media dan lingkaran bisnis bisa mempengaruhi sikap indepent terhadap sudut pemberitaan. Berita menarik bukan sekedar melaporkan kejadian atau peristiwa yang lagi hangat atau baru terjadi. Tidak jauh dari itu berita menarik adalah berita yang membuat pembacanya cerdas menanggapi persoalan sedang panas – panasnya melalui sajian berbagai data, narasumber, dan fakta lalu akhirnya terbentuk opini. 

Lain bentuk tulisan, pengemasan, proporsi isu, data, dan fakta akan menjadi beda serapan diterima pembaca. Dari pandangan atau opini yang di pikirkan atas sajian berita telah dibaca akan membentuk pola pikirnya. Pola pikir mempengaruhi bagaimana seharusnya kita menyikapi keadaan, bertindak melawan kejadian – kejadian dihadapan mata. Kepekaan dirilah yang menjadi nahkoda akhir bagamana nanti dia membawa dirinya. Sebut saja pada bagian paragraf ini saya sedang berbicara dampak penting melek media dan menelanya. 

Dibagian akhir disebutkan bahwa ini adalah buku pengantar awal untuk mengetahui sejarah perjalanan pers. Untuk melanjutkan pemahaman lebih dalam disebutkan banya judul buku untuk dibaca selanjutnya. Sayang karena awalnya saja berbaha inggris, rujukanya mengarah kesana juga, sedang terbitanya apa ada terjemahanya? Beginilah tidak enanya membaca buku bahasa orang, jauh dari itu isinya sangat mantap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar