Ia, hari ini adalah hari kamis. Pada jadwal pelajaran tertempel dibinder kuliah tertulis ada kuliah pukul setengah delapan pagi. Binder aku masukkan kembali ke dalam tas yang tidak pernah rapi. Karena sesak dengan barang-barang dan sudah usang, terlihat dari warnanya telah memudar dimakan waktu.
Sedikit kurang menarik untuk mengikuti perkuliahan hari ini. Dan Jam phonsel menunjukkan angka setengah delapan pagi. Keterlambatan ini mengusik kesantaian, mengingat pentingnya formalitas presesesnsi dan pengetahuan baru. Kegusaran saya rasakan tersebut tidak timbul berlebih, sebab teringat bahwa kebiasaan sang dosen pengampu mata kuliah ini sering terlambat. Kalau sedang terlambat tidak tanggung-tanggung bahkan bisa sampai satu jam. Sangat berbeda dengan kontrak-kontrak kuliah diawal yang hanya 15 menit.
Permasalahan keterlambatan tidak pernah sekalipun mengundang persolan. Mahasiswa senang bersantai tanpa tugas berfikir, sedang dosen biasanya mempunyai kesibukan lain lebih padat. Sudah selayaknya bagi saya untuk setia menunggui sampai datang keterangan bahwa ada halangan tidak hadir. Kemudian kita baru bubar meninggalkan kampus setelah ada kepastian.
kekosongan waktu biasa dimanfaatkan mengobrol sesama mahasiswa. Isinya mencangkup persoalan ruang lingkup pendidikan, sampai masalah sosial kaum proletar. Tidak akan ada habisnya selama pokok perbincangan seperti itu, selama berkumpul pasti ada mulut terbuka memulai perbincangan.
Matahari semakin tinggi saja, terik dihujamkan ke bumi begitu menyengat kulit. Sang dosen belum juga menunjukkan tanda-tanda kedatanganya. Sebagian dari kami lama—lama merasa sangat bosan. Kebosanan itu diluapkan dengan berbagai ekspresi. Bentuknya ada berupa keluhan, gerutu, hujatan, dan sedikit makian.
Satu jam sudah, dari jadwal masuk kuliah resmi dosen tersebut baru datang. Dengan tergopoh-gopoh langsun dia menuju ruang kelas menjalankan tugas profesinya. Menit demi menit terus mengalir bersama ceramah-ceramah materi perkuliahan. Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, dan jam kuliah hampir habis.
Dimulailah sesi tanya jawab, mahasiswa dipersilahkan bertanya apapun berkaitan dengan pembahasan kuliah. Awalnya semua diam, entah diam karena sudah paham, tidak mengerti, atau baru mengerti, dan tiada yang tahu. Satu-satunya kepastian dari tidak munculnya sebuah inisiatif pertanyaan, mengisaratkan pada agar jam kuliah lebih pendek dari jadwal normal selesai perkuliahan.
Keadaan tiba-tiba berubah menjadi sunyi seperti kuburan. Sesaat setelah hening sebentar dipojok ada seorang mahasiswa mengacungkan tangan. Munculah satu pertanyaan tentang persoalan berkaitan dengan ilmu perkuliahan, tetapi sedikit yang mendengar apa jelasnya yang ia tanyakan.
Prasangka saya menuduh kalau pertanyaan yang diajukan tadi tidak lebih ingin mencari muka, penarik perhatian. Alasanya bisa di rasakan apabila ditimbang dari bobot pertanyaan berupa jawaban subjektif dosen. Analisa, dan pandangan, tentu semua akan bisa menjawab. Mungkin tidak ada kepercayaan diri sehingga jawaban-jawaban dalam benak kepala dirasa kurang memuaskan. Intinya jawaban dosen bisa memberi pembenaran lain atau mendelegitimasi pendapat sendiri.
Jawaban diberikan dengan pengantar cerita diarahkan menuju kompleksitas permasalahan dimasyarakat. Dan tanpa disengaja cerita tersebut agak ada singkronisasi dengan gosip tentang si dosen. Dari bisik-bisik atau celetukan mengiringi, intinya sedikit sorak-sorai sindiran dari mahasiswa. Rupa-rupanya kegaduhan kecil tersebut ditanggapai dosen. Lantas si dosenpun mulai berbagi cerita pribadi. Ia mulai menceritakan bagaimana sedihnya melihat orang yang ia cintai ternyata mencintai orang lain tanpa sepengetahuanya.
Nada keluar dari mulut sang dosen berubah menjadi turun, turun, dan semakin melemah. Ditengah-tengah curhatan kadang berhenti sesaat sambil menampilkan tawa semu, tetapi air matanya jatuh menetes. Sepertinya dia agak malu, tetapi kemudian ia membiasakan rasa malunya dan terus lanjutkan curahan hati. Antara kasihan, empati, dan kik kuk melanda seluruh perasaan mahasiswa berada di dalam kelas. Siapakah kiranya telah bersalah, sampai membuat derai air mata dosen? Aku tidak tahu.
Air mata yang bercucuran itu sekali-kali ia seka dengan tisu. Cerita sedih pengingkaran dan tipuan cinta benar-benar menyentuh nurani. Jauh berbeda dengan cerita-cerita cinta sedih di FTV.
Telah dikaruniakan dua orang buah hati hasi dari kembang cinta dengan bekas pasangan hidupnya. Sebuah bukti bahwa keduanya berada pada kemapanan pengukuhan cinta. Orang lain ketika memandang mungkin tiadalah kekurangan dari pasangan tersebut. Materi berkecukupan, ilmu pengetahuan tiada kurang, serta kewibawaan telah diakui oleh masyarakat sekitar.
apa kata, ketidakpuasan telah menggugat mereka menghantarkan pada jurang perceraian. Keterpisahan menjadi jalan terakhir harus dia terima. Di satu sisi dia sangat mencintai betul pasanganya, disisi yang lain ia tidak bisa menghentikan kehendah pasangannya untuk berpisah. Dulunya ia menutup telinga rapat-rapat saat ada cerita lain hati dari pasanganya. kini realitas bersama waktu membenarkan semua cerita-cerita tersebut.
Sesaat aku berfikir, bagaimana sebenarnya ketulusan cinta itu ada, sampai janji sucipun ia patahkan. Mungkin juga sebuah kuasa perempuan terlalu besar adalah salah satu wujud ketidaksetiaan. Tak heran kalau penduduk neraka paling banyak adalah perempuan.
Pikiranku kembali teralihkan oleh kata-kata sang dosen “Sebagai umat beragama telah aku lakukan apa seharusnya dikerjakan. Namun kebenaran agama itu tidaklah dapat dipaksakan, melainkan cukup disampaikan,” ungkapnya di tengah-tengah isakan air mata. Dia mengatakan hari ini benar-benar merasa merindukan saat momen-momen kenangan mesra bersama mantan pasangannya. Dari situ bisa dilihat bagaimana kenangan itu benar-benar menyiksa batin, dan merobek-robek hati.
Nilai bisa saya ambil dari ini semua ialah ketika kita benar-benar mencintai seseorang maka harus diikhlaskan jika dia menentukan pilihan lain. Proses cinta mungkin berawal dari tahu, kemudian mengenal, terus menyukai dan menjadikan sebuah pilihan. Apa benar? Tanyakan dalam hati sendiri. Dari semua siklus cinta itu terkadang tidak bisa disamakan tempo harus dijalani, sebab dari segi intensitas sangatlah mempengaruhi.
Perbincangan perkuliah ditutup dengan kalimat pesan bahwa “Kepemimpinan yang baik tidak pernah menciptakan standart baik bagi dirinya sendiri, melainkan terbentuk standart baik itu datang dari siapa yang dipimpinnya. Walaupun kenyataan itu terkadang begitu pahit untuk diterima.” Andai saja langkah telah diambil merupakan bentuk kesalahan sudah menjadi kewajaran sebagai seorang manusia. Namun kejujuran itu perlu harus tetap diungkapkan kapanpun waktunya.
Kuliahpun berakhir, semua berhamburan keluar sambil membawa perasaan empati kepada dosen. Diluar kelas aku melihat hijaunya langit dan terbayangkan masa depan.
“ah kamu lagi...”
:-D
Madura, 02-10-2014
iskak

mantap
BalasHapus