Rabu, 28 Mei 2014

Berbagi dan Berbagianlah

Cuaca mendung menjadi hal awal aku paling perhatikan ketika akan menulis. Belum sampai melihat untuk memastikan keluar tiba – tiba ada sebuah pesan masuk. Tanpa disengaja terlintas sebuah kata “berbagi” dalam otakku. Kata itu tidak kunjung hilang dan terus terngiang – ngiang dalam kepala. Sampai merasa kesal karena terus terpikirkan, maka ditulis saja siapa tahu semua akan keluar dan rontok seperti rambutnya Diyan. 


Berbagi memumungkinkan kita untuk melakukan pengurangan beban terhadap apa yang telah kita miliki. Misal, kamu memiliki uang seratus ribu maka yang separuhnya kamu bagi buat aku biar lebih ringan angkanya. Dengan berbagi pula menuntun pada jalan keikhlasan hati nurani. Nah, kalau sudah begitu secara tidak langsung telah beramal untuk tabungan hari akhir kelak. 

Kalau tadi berbagi benda sekarang berbagi rasa kepada sesama. Hal ini perlu dilakukan hanya kepada orang – orang yang kita anggap dekat saja. Kamu tidak usah curhat kepada orang yang kamu tidak kenal atau orang yang kamu kenal tetapi tidak dekat. Simpelnya ini bisa dibilang curhat. Contoh, jika suatu ketika kamu habis diperkosa sama kambing, sebaiknya kamu curhatkan kejadian itu. Mungkin hatimu di awal akan merasa hancur sebab niat kamu ingin memperbaiki spesies malah mendapat ras sama. Hihihihihi.... 

Untungnya berbagi secara nyata tidak dapat diungkapkan melalui indra tetapi bisa dirasakan. Mungkin lebih mirip – mirip angin atau kentut. Sekarang berbicara untung maka harus ada ruginya biar seimbang. Kerugian didapat ketika kita terlalu belebihan berbagi, sampai tidak ada sesuatu bersifat pribadi lagi. Kamu tentu tidak mau membayangkan seandainya berjumpa dengan orang anymouse, lalu orang itu berbicara semua tentang pribadimu. 

Tujuan dari berbagi tidak lain untuk meringankan beban, maka saya sebut ini berbagianlah. Dunia ini penuh kemajemukan dan heterogenitas yang pada akhirnya melengkapi menjadi kesatuan. Sekarang kembalikan pada diri kita sendiri, posisi kita sebenarnya menjadi bagian mana? Hal bodoh untuk berfikir tidak menentukan masuk bagian mana. Pengakuan netral daripada bagian – bagian itu sebenarnya tidak pernah ada. Orang – orang yang menganggap tidak mempunyai bagian sekalipun telah membentuk kelompok bagian apatis. 

Setiap insan terlahir telah menjadi bagian dari heterogenitas. Saat dewasa pilihan menjadi bagian sekte mana ada pada tangan kita. Pada bagian itu kita dipaksa untuk berbagi oleh keadaan. Seberapa protektif apapun tidak akan pernah bisa melawan arus berbagi. Sebab berbagi adalah bagian output dari setiap apa yang masuk menjadi pandangan sumber referensi kita. Jadi orang yang tidak berbagi itu ada dua kemungkinan, pertama dia memang kosong, kedua di sedang tahap meletuskan otaknya dalam representasi kegilaan. 

Kini berbagi harus dilakukan oleh semua, dan diimbangi rasa keikhlasan. Ilmu itu untuk kehidupan manusia menuju kesejahteraan yang lebih baik. Seharusnya tidak ada lagi rasa pelit berfikir dalam keilmuan. Serapan dan pertanggungjawabannya tidak perlu difikirkan karena Allah telah mengetahui segala hal yang ada di langit dan bumi. Maka ayo kita berbagi untuk rasa sayang umat manusia di kehidupan ini. eehmm...

2 komentar :