Sendi – sendi ini rasanya ngilu, walau badan sudah tidak panas lagi. Sudah dua hari aku tidak berani mandi karena takut akan kesakitan ini datang lebih sakit lagi. Bau keringat menempel di baju mulai menyengat, hanya saja aku tak menghiraukan karena rasa sakit tubuh ini masih mencengkeram tubuhku. Hari – hari lebih banyak kulewati dengan merebahkan badan sambil memejamkan mata dan berharap ketika bangun sakit ini sudah enyah dari tubuh.
Dunia tetap bergerak seperti semestinya hanya saja aku saat ini hanyut didalamnya tanpa bisa mengampil pelajaran banyak. Katanya kemarin ulang tahun, karena diriku sakit tidak bisa mengekspresikan kesenangan itu. Berbagai ucapan selamat datang di dunia maya aku sempatkan untuk membalas satu per satu. Rasanya terharu, karena temen – temenku ternyata masih banyak yang peduli sama diriku. Coba seandainya mereka ada disini sekarang pasti aku tepuk dadanya sebagai ucapan trimakasih kembali. Tetapi kayaknya tidak ada yang mau karena mereka kebanyakan cewek.
Setelah sibuk menghabiskan waktu duduk dikampus aku kembali ke kamar untuk melanjutkan ritual hibernasi lagi lagi. Berada diluar seharian bukan membuatku senang tetapi membuat badanku lebih panas lagi. Kepanasan tubuh ini sungguh menyiksaku untuk melakukan aktifitas normal. Entah kenapa sampai saat ini aku belum pernah berfikir untuk pergi ke dokter memeriksakan tubuhkku. Kalau mengira tidak punya uang itu salah karena uangku masih banyak. Apabila ada ocehan temen yang mengatakan karena ingin memelihara kesakitan ini aku akan tertawakan dia. Namanya saja sudah sakit kenapa harus dipelihara, meski begini aku tetap mengkonsumsi obat sebagai peningkat daya tahan tubuh.
Setelah mataku mulai gelap aku melihat kehidupan dunia mimpi. Disana aku lebih aktif, dan lebih dibutuhkan dari pada disini. Setiap satu kali tidur berarti satu kali episode dunia mimpi. Alur ceritanya sangat bagus dan berakhir happy ending. Lagi – lagi muncul pertanyaan, “kenapa dengan peranku di dunia nyata? Sampai tuhan menunjukkanku pada dunia mimpi.” Jika saya memang ditakdirkan untuk tidak menjadi siapa – siapa, haruskah aku berbicara dengan ceermin siapa aku ini?
Kedua pundakku kembali ngilu lagi walau badanku seakarang sudah tidak panas lagi. Lagi –lagi pikiranku hilang setelah merasakan kesakitan ini. kemudian mataku melihat surat tergeletak dari president RI kemarin. Kucoba untuk kuraih dan kubaca lagi, sesaat setelah itu air mataku seperti akan tumpah. Pada paragraf empat tertulis “ saya ingin pada saatnya nanti, ikutlah mengubah jalanya sejarah. Bayar dan tebuslah apa yang telah negara berikan kepada kalian semua, dengan cara ikut berjuang mengurangi kemiskinan, keterbelakangan, dan ketertinggalan. . .”
Hatiku tergugah kembali untuk cepat –cepat sembuh, perasaanku menjadi seperti orang penting yang dibutuhkan negara. Secara bersamaan pula aku menjadi seorang pro pemerintah dan menganggap semua kebijakan pemerintah itu baik. kemudian aku semakin mantap untuk meyakini bahwa pemerintahan SBY adalah baik, jika banyak kasus menjerat kader – kadernya itu tidak lain niat mereka sebagai seorang politikus.
Dunia tetap bergerak seperti semestinya hanya saja aku saat ini hanyut didalamnya tanpa bisa mengampil pelajaran banyak. Katanya kemarin ulang tahun, karena diriku sakit tidak bisa mengekspresikan kesenangan itu. Berbagai ucapan selamat datang di dunia maya aku sempatkan untuk membalas satu per satu. Rasanya terharu, karena temen – temenku ternyata masih banyak yang peduli sama diriku. Coba seandainya mereka ada disini sekarang pasti aku tepuk dadanya sebagai ucapan trimakasih kembali. Tetapi kayaknya tidak ada yang mau karena mereka kebanyakan cewek.
Setelah sibuk menghabiskan waktu duduk dikampus aku kembali ke kamar untuk melanjutkan ritual hibernasi lagi lagi. Berada diluar seharian bukan membuatku senang tetapi membuat badanku lebih panas lagi. Kepanasan tubuh ini sungguh menyiksaku untuk melakukan aktifitas normal. Entah kenapa sampai saat ini aku belum pernah berfikir untuk pergi ke dokter memeriksakan tubuhkku. Kalau mengira tidak punya uang itu salah karena uangku masih banyak. Apabila ada ocehan temen yang mengatakan karena ingin memelihara kesakitan ini aku akan tertawakan dia. Namanya saja sudah sakit kenapa harus dipelihara, meski begini aku tetap mengkonsumsi obat sebagai peningkat daya tahan tubuh.
Setelah mataku mulai gelap aku melihat kehidupan dunia mimpi. Disana aku lebih aktif, dan lebih dibutuhkan dari pada disini. Setiap satu kali tidur berarti satu kali episode dunia mimpi. Alur ceritanya sangat bagus dan berakhir happy ending. Lagi – lagi muncul pertanyaan, “kenapa dengan peranku di dunia nyata? Sampai tuhan menunjukkanku pada dunia mimpi.” Jika saya memang ditakdirkan untuk tidak menjadi siapa – siapa, haruskah aku berbicara dengan ceermin siapa aku ini?
Kedua pundakku kembali ngilu lagi walau badanku seakarang sudah tidak panas lagi. Lagi –lagi pikiranku hilang setelah merasakan kesakitan ini. kemudian mataku melihat surat tergeletak dari president RI kemarin. Kucoba untuk kuraih dan kubaca lagi, sesaat setelah itu air mataku seperti akan tumpah. Pada paragraf empat tertulis “ saya ingin pada saatnya nanti, ikutlah mengubah jalanya sejarah. Bayar dan tebuslah apa yang telah negara berikan kepada kalian semua, dengan cara ikut berjuang mengurangi kemiskinan, keterbelakangan, dan ketertinggalan. . .”
Hatiku tergugah kembali untuk cepat –cepat sembuh, perasaanku menjadi seperti orang penting yang dibutuhkan negara. Secara bersamaan pula aku menjadi seorang pro pemerintah dan menganggap semua kebijakan pemerintah itu baik. kemudian aku semakin mantap untuk meyakini bahwa pemerintahan SBY adalah baik, jika banyak kasus menjerat kader – kadernya itu tidak lain niat mereka sebagai seorang politikus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar