Jumat, 04 Oktober 2013

UANG

Gambar

JUM'AT, 20 SEPTEMBER 2013

Sudah seperti bagian dari kehidupan, sebagai alat tukar dan pemuas kebutuhan hidup. Siapa yang tidak mengenal uang. Uang yang telah menjadi teman hidup manusia yang mempunyai hubungan spesial. Bila uang menjauh seakan kehidupan akan segera berakhir, sebaliknya jika rejeki banyak uang dalam dompet penuh rasa dalam pikiran menjadi tenang karena sudah barang tentu tidak akan kelaparan. Dalam sebuah buku yang pernah aku baca tetapi lupa judul dan pengarangnya masih teringat dengan jelas kata - katanya " dunia penuh dengan kesetimbangan jika ada baik ada buruk, ada hitam ada putih, dsb yang akan terus berlangsung selama masih ada kehidupan.

Benarkah uang telah menjadi tuhan kedua manusia? Ingatanku kembali pada kampung halaman, disana banyak sekali teman - teman saya yang tidak bisa melanjutkan sekolah karena keterbatasan biaya. Maklum perkonomian di daerah saya ( desa Karangtengah, kecamatan Panggul kabupaten Trenggalek) mayoritas mengandalkan dari hasil pertanian tradisional. Rasa benci pada pekerjaan mulia ini hampir ada dalam semua kaum muda didesa saya. Beberapa alasanya bahwa dalam anggapan kaum muda pekerjaan tani itu identik dengan kesengsaraan hidup, pandangan bahwa hidup dikota itu akan lebih beradap, dorongan dari cerita - cerita pendahulu yang merantau dan ketika pulang lebaran bawa motor baru.

Perkataan para caleg saat kampanye mengenai pendidikan gratis bagi orang yang tidak mampu, hanya akan menjadi isapan jempol belaka. Alangkah buruknya negeri Indonesia ini jika saya memandang dari program bantuan, penyuluhan, sosialisasi kebijakannya. contoh bukti nyata hampir dalam setiap bantuan yang disalurkan dimanfaatkan olek kaum kaya untuk mengatur sedemikian rupa agar dapat untung. Mereka yang punya uang mempengaruhi penguasa agar memanipulasi sedemikian rupa sehingga  selalu mendapat jatah atau bagia dari bantuan yang turun dari pemerintah. Misalkan saja pada saat pemerintah melaksanakan  program "BALSEM" dimana sebagian yang memperoleh bantuan malah orang - orang yang dianggap mampu secara ekonomi dibandingkan rata - rata di kalangan masyarakat itu. Alhasil pada sebagian wilayah demi pemerataan rasa keadilan uang BALSEM dikumpulkan jadi satu dan dibagi sama rata.

Uang, uang, uang semua perkara tentang uang. Apakah uang telah menjadi sumber ketidak adilan bagi rakyat kecil? Entahlah sepertinya aku masih cukup dini untuk menjawab pertanyaan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar