Jumat, 04 Oktober 2013

BUMI MANUSIA "(Pramoedya Anantatoer)"

Sebenarnya ini lebih seperti benang merah yang menelisik cerita roman secara otodidak saja, karena buku ini sangatlah tebal menggunakan bahasa yang mendayu - dayu agak sulit memahaminya.

Dikisahkan ada sebuah pemuda bernama Minke, biasa dipanggil Sinyo, oleh penulisnya lebih banyak disebut sebagai Aku. Dia adalah seorang pemuda berpendidikan tinggi bersekolah disekolah HBS, yang terkenal karena murid - muridnya sebagian besar konglomerat Eropa dan sedikit orang - orang pribumi keturunan bangsawan.

Suatu hari Minke diajak untuk datang pada sebuah keluarga temanya Robert mellema oleh Robert suurhof di Wonokromo Surabaya. Keluarga Mellema adalah keluarga pengusaha besar, perusahaanya bernama "BOERDERIJ BUITENZORG". Disana Minke diperkenalkan pada anggota keluarga. Pertama Nyai Ontosoroh seorang wanita pribumi ibu dari Annelies gadis cantik adil Robert Mellema, sedang tuan Mellema tidak ada dirumah. Pertemuan pertama inilah menimbulkan rasa kekaguman dan cinta antar Minke dan Annelies.

Setelah pertemuan itu membuat Minke diundang kembali yang posisinya sebagai tamu keluarga. Dari kedatangan - kedatangan itu membuat Minke semakin mengenal keluarga itu, yang kemudian menimbulkan rasa kekaguman pada Nyai karena ia pribumi, pribumi yang menyamai Eropa bahkan munkin melebihi. Wanita ini pandai berbahasa Belanda, dan pengetahuannya luas, ia juga sebagai wanita karier yang mempunyai karyawan beratus - ratus jumlahnya.

Rasa cinta pada Annelies harus ia beri pengorbanan mahal. Minke akan secara otomatis melawan ketakutan - ketakutan, kebencian, paradigma, tekanan, orang tua dia. Beberapa persoalan berat muncul membuat kerenggakan jarak antara mereka.
Annelies jatuh sakit karena rindu Minke. Sejak kedatangan Minke untuk menemani gadis itu, Minke tinggal serumah.

Keluarga Nyai yang kaya raya menjadikan dia duduk pada golongan kelas atas. Kemewahan pada kehidupannya tidak sejajar dengan perjalanan hidupnya, ternyata dalam keluarga ini tengah terjadi konflik. Meski sudah punya anak dua Nyai statusnya sebagai gundik dan tidak pernah dinikahinya oleh Mellema. Diskriminasi dalam keluarga juga muncul dengan beranggapan orang pribumi itu rendah, sehingga Nyai dipandang sebelah mata oleh keluarganya sendiri kecuali Annelies yang lebih suka menjadi pribumi. Persoalan hidup dan konflik beberapa kali mengancam status Minke sebagai seorang siswa HBS, bahkan ia sempat dikeluarkan dari sekolah.

Minke yang pandai menulis dalam bahasa Belanda menjadikan namanya semakin dikenal publik. Kepopuleranya juga membuat masyalahnya tesekspose media. Masyalah besar terjadi saat Tuan Mellema meninggal keracunan ditempat plesir (prostitusi) Ah Tjong. Semua anggota keluarga disidang termasuk Ah Tjong. Banyak media yang mengabarkan berita sumbang tentang kejadian ini. Posisi Minke yang bukan sebagai anggota keluarga membuat pandangan masyarakat akan dirinya hina.

Sidang dapat terlewati, tanpa terasa Minke juga telah lulus dengan peringkat 2 se Hindia Belanda (indonesia). Selang beberapa hari Minke meminang Annelies. Perayaan pestanya sangat mewah. Ucapan selamat dan kado - kado pernikahan tidak terhitung jumlahnya. Perlu diketahui pada saat malam pertama ternyata Annelies sudah tidak perawan.

Kehidupan tenang bahagia tidak berlangsung lama. Setelah beberapa minggu kemudian datang seorang yang menjemput Nyai dan Annelies kepengadilan putih di Surabaya. Bagaikan dihantam bencana besar saat mendapat kabar bahwa istri almarhum Tuan menggugat hak waris dan meminta semua anaknya dibawa ke Belanda, lewat keputusan pengadilan amsterdam . Nyai dan Minke kebingungan mencari bantuan hukum demi mempertahankan keutuhan keluarganya. Mencari advokad menulis dikoran - koran belanda dan koran lelang dia lakukan. Akhirnya menimbulkan simpati masyarakat. Sempat terjadi pertumpahan darah antara masyarakat simpatisan dan anggota keamanan Belanda. Annelies jatuh sakit karena tidak sanggup menerima kenyataan. Usaha yang mereka lakukan sia - sia saja seperti perkiraan sebelumnya jika orang Eropa konflik dengan pribumi akan dimenangkan Eropa.

Ketidakadilan hidup membawa kenyataan bahwa Minke harus dipisahkan cintanya oleh lembaran - lembaran kertas sedang Nyai harus merelakan anak dan seluruh jerih payah usaha mengembangkan perusahaan selama dua puluh tahun tidak bisa menikmati. Sungguh menyedihkan sekali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar