Jumat, 05 September 2014

Jalan tak ada ujung

Berlatarkan pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia menjadi alur utama dari cerita “jalan tak ada ujung” . Guru Isa, merupakan tokoh utama dalam cerita. Dimana guru Isa pada waktu pergerakan bangsa menuju kemerdekaan telah menyeret kehidupanya dalam dilema yang cukup pelik. Semua menjadi berbanding 360 derajat, ketenangan dan kedamaian hidup dirasanya ketika masa penjajahan tidak dirasakan lagi. Posisinya sebagai akademisi diminta untuk pertanggungjawabanya membantu kelancaran pemberontak penjajah. Panggilan ibu pertiwi ternyata menyeretnya pada keadaan – keadaan diluar dugaan, sehingga sepanjang waktu ketakutan menjadi kabut hitam yang selalu menyelubungi hari – harinya. Uraian diatas adalah sinopsis menurut versiku.



Sedikit cerita, awal membaca buku ini karena tertarik dengan cerita mas Citra. Beliau mengatakan kalau jalan tak ada ujung menceritakan kepedihan hidup guru Isa. Guru isa yang berprofesi pengajar mempunyai istri cukup muda tapi sayang dia impotensi. Karena impotensi itulah maka, istrinya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Setelah selesai membaca, saya baru sadar kalau kadar ketertarikan pada seksologi masih tinggi. Hahaha....

Semua cerita dan lika – liku konflik seakan – akan biangnya ketakutan. Pesanya diakhir cerita saya masih ingat betul kalau masuk dalan salah satu soal ujian nasional (unas) bahasa indonesia. Kutipanya seperti ini... ”semua orang, pikirnya, hidup dan mempunyai dan menyimpan ketakutan – ketakutan sendiri. Orang kaya takut hartanya akan habis, orang besar takut dikalahkan orang lain. Salim takut pada hantu dan setan – setan. Tiap orang punya ketakutan sendiri, dan meski belajar hidup dan mengalahkan ketakutanya”... kembali mengingat apakah jawaban waktu kemarin benar atau salah.

Kelebihan dari novel 167 halaman ini sangat menyentuh hati nurani. Pesan – pesan moral dan gambaran peliknya kehidupan sosial benar – benar bagus. Sebagai pembaca dihadapkan langsung susahnya perjuangan para pendahulu yang telah gugur. Mereka mungkin tidak terkenal, tidak dimakamkan di taman makam pahlawan, atau namanya telah benar – benar hilang dari catatan sejarah. Kebenaran, kebaikan, dan keadilan sosial haruslah menjadi pondasi berlandaskan nilai - nilai kemanusiaan. Itu beberapa petikan manfaat pengetahuan yang saya dapat ambil diantaranya.

Untuk kekayaan eksplorasi lika – liku cerita terkesan kurang kaya. Apa ini karena pengaruh fokus cerita, atau efek dari penempatan sudut padang pembaca. Kemungkinan lain adalah penempatan guru Isa yang sangat ditekankan kepada pembaca untuk merasakan empati padanya.tetapi tidak diragukan lagi kalau gelombang permainan emosi saat menikmati kata demi kata dari isi buku jalan tak ada ujung. Sebagai penambahan terakhir atau perombakan yang agaknya perlu dilakukan adalah spasi antar huruf lebih renggang sedikit supaya lebih nyaman dimata.

Dimensi sejarah wajib dipelajari karena kita tidak selamanya punya waktu mengukir pengalaman sendiri. Ibarat sebuah siklus kehidupan ini. katakan saja dari awal dimualai dari pembuahan dan diakhiri dengan kematian. Bedanya ada proses di sepanjang hembusan nafas itu, kemudian menentukan peran untuk takdirnya masing – masing. Dimana saya? Bagaiamana nanti? Seperti apa? Merupakan corong kecil mengapa merasakan perasaan orang lain itu perlu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar