Kamis, 29 Mei 2014

Teman yang Sepi

Kalut, hatiku sedih ketika sendirian tanpa ada manusia yang bisa diajak untuk berkomunikasi. Aku merasa perlu untuk membuka mulut sekedar berbagi cerita hari ini. soal apapun yang diperbincangkan tidak masalah bagiku, pokoknya bisa melepas kesendirian ini. Padahal disini aku sedang bersama teman – teman setia seperti buku, laptop, kamera, dan handpone. Rasa kesendirian ini muncul karena semua teman tadi tidak lain dari kesibukan diri sendiri. 

Kepuasan yang dirasakan sebenarnya ada, hanya saja seorang manusia tidak mungkin digantikan oleh benda. Aku yang jelas makhluk sosial tidak bisa selamanya mengurung diri dalam sesaknya kamar kost. Munculnya rasa kekawatiran merupakan dampak dari gelombang inkubasi belajar. “sudah kebelet pinter” inginya menjadi seorang jenius plus prestisius yang sukses dunia akherat. Meski sukses itu sendiri adalah pengaburan dari harapan terbaik bagi diri sendiri, toh aku tetap mempercayainya sebagai suatu capaian akhir. 


Aku coba langkahkan Kakiku ke kota Surabaya untuk sekedar refresing dan cari buku. Sesampai disana hatiku malah bingung untuk menentukan apa – apa yang harus dibeli. Permasalahanya bukan lagi menentukan judul apa saja yang mau dibawa pulang, tetapi cukupkah uang dalam genggaman ini untuk ditukarkan. Lagi – lagi masalah kekerean, hal ini membuatku benci akan keadaan. Hasilnya Cuma bisa berandai – andai merebutkan kedudukan strata sosial kalangan atas. 

Teman, dimanakah engkau? Bukankah sekarang aku sedang sendirian menghadapi kegalauan hidup. Engkau yang berwujud manusia ternyata tiada kesetian dihatimu. Kecewa, aku kecewa melihat kenyataan ini. harusnya kamu datang disaat aku kekeringan ilmu seperti ini, harusnya kamu mau menanyakan semua tentangku. Ahh, agaknya aku terlalu berlebihan menuliskan, temanpun bukan budak yang bisa kita minta untuk memuaskan hasrat. 

Lelah, saat ini. Teman yang aku dambakan ternyata tidak pernah hadir dalam kehidupanku. Mungkin semua bisa terwujud ketika sudah menikah nanti, ya semoga saja. Benarkah aku ingin menikah dan mencari teman hidup? Ternyata jawabanya belum. Untuk saat ini pikiranku tentang perempuan dan hasrat cintanya sedang mati. Disini perempuan serasa tidak ada yang cantik lagi, aku pandang tidak ubahnya seonggok daging berjalan dengan beberapa bagian agak berlebih. 

Ohh, temanku ternyata tidak lain diriku sendiri. Meski aku tidak bisa menjadi dua sosok tetapi cara berfikirku lebih dari dua sosok. Kalau ada yang bilang sudah gila, biar aku timpuk dia pakai sandal, sebagai pembuktian aku masih waras . Susah, sedih, senang dan tingkah lainya dikomunikasikan pada diri melalui secoret tulisan. Kemudian aku review kembali semuanya coretan tadi, maka timbullah sebuah tanggapan akan sebuah arti, tujuan, makna, maupun maksud pemikiran tertulis tadi. 

Duniaku bebas, sebebas batasan aku berfikir. Meski ngantuk, lelah, capek akan tetap saya sempatkan bercengkerama sebentar dengan diri ini. Siapa lagi yang mau peduli kalau bukan diriku sendiri. Seperti terpeen sepinya rasa, pikiran, dan hati akan semakin stress ketika berkecambuk bersamaan. menjadikan ini sebuah tantangan untuk menyongsong hari esok lebih mandiri. Temanku telah menjadi bagian jiwa yang sepi sekarang istirahatlah, aku menggantungkan semua padamu. “Semoga Allah selalu menjaga setiap insan yang berteman dengan kesendirianya”, aku lantunkan doa ini sebagai penutup hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar