Kamis, 03 April 2014

selimut selasa

Ahh... ahh... Rasanya pagi ini terlalu nyaman buat tidurku. Aku ingin menyambung mimpiku dari jum’at sore kemaren. Tetapi waktu memaksaku untuk bangun dan memulai aktifitas perkuliahan. Walau rasanya kamarku masih cukup gelap untuk melanjutkan tidur panjang ini. Aku harus tetap bangun dari belaian mimpi indah.

Lika liku cerita mimpi semalam mungkin surgaku, ya, surga imajinasiku yang terus membungbung jauh diatas empuknya bantal biru. Meski semua pernah
merasakan rasanya tidur tetap saja tidurku ini tidur spesial. Dikarenakan aku tidur tanpa ada beban cinta, hutang, cita-cita dan sejenisnya. Pokoknya inti dari semua mimpi panjang tadi menikmati gelora sensasinya. Bukan hanya sampai disitu, nyatanya pada alam imjinasi aku benar-benar sorang dalang atas duniaku. Seolah apa yang menjadi kehendak bisa terwujud dengan jalan indah seperti alur cerita film. Tidak berlangsung lama karena panasnya suhu di pulau garam ini memutus semua dunia khayalan. Sampai akhirnya benar-benar membawaku dalam kesadaran sesungguhnya. Apalagi deringan alarm jam di phonsel menunjukkan pertanda sudah pukul 07:00 wib.

Sekilas tidak ada yang aneh dari rutinitas ini. Sampai begitu dalam rasa kenikmatannya. Pada sisi lain sebuah keinginan-keinginan seperti berontak melawan keadaan. Kesadaranku sepenuhnya membawa keyakinan kalau aku sekarang berada disini untuk mencari ilmu, dan hasrat menyenangkan diri ingin sepenuhnya tercapai untuk memuaskan. Kemalasan yang katanya musuh pertama, demi pemuasan malah aku jadikan dia sahabat terbaikku. Aku senang tidak membaca buku-buku, aku senang tidak menulis, aku senang melihat hiburan-hiburan audio visual, mereka semua ibarat candu yang telah memanjakan.

Menjilat ludah sendiri bisa jadi sesuatu yang menjijikkan. Apa itu haram? Mana aku tahu, karena sangat jarang secara realita kejadian itu ada. Alhasil sampai sekarang kurang lebih sebatas pepatah. Mengapa menjilat ludah sendiri masih pada tataran ucapan kiasan? Dari segi fungsinyapun tidak jauh untuk mengingatkan pentingnya konsekuensi perkataan maupun tindakan dengan perilaku aslinya. Jadi topeng-topeng menjadi balutan esensial apabila pantangan itu harus dilanggar. Topeng merupakan sebuah perwujudan manifestasi penutup realitas secara aman. Secara topeng bisa digunakan sebagai penutup kekurangan, alat pencitraan, meninggikan derajat, mempertahankan kedudukan, atau sebagai fungsi pokok estetika. Yang jelas apapun modusnya itu tetaplah sebuah alasan sebagai jalan dewa penyelamat. Bayangkan sendiri apabila penghianatan terang-terang dilakukan secara terbuka tentu banyak pertanyaan besar menyerangn kemudian disusul justise ketidakpercayaan. Masa bodoh siapa dia? Mengapa dia begitu? Apa yang melatarbelakangi? tidak akn pernah diungkit seorang komentator. Komentator secara mudahnya mengatakan apa dilihat saat itu.

Kembali kepada mimpi yang telah merasuk pada ruas-ruas tulang sumsum terdalam. Mimpi telah mengendalikan semuanya. Tetapi serasa cukup aneh bila dipikir ulang mengapa aku seolah menjadi dua. Aku sebagai dalang yang menentukan jalan cerita dan secara bersamaan aku sebagai tokoh utama dalam mimpi. Akankah ini juga bagian jebakan rutinitas tidak tentu yang terbawa pada alam bawah sadar?

Keteraturan menjadikan sebuah transformasi candu dalam alam bawah sadar. Seperti halnya ritual membuka facebook sebelum tidur. Suatu saat terasa ada yang kurang apabila rutinitas itu tiba-tiba terputus, misalkan kehabisan pulsa. Sekarang kecurigaan ditambah perasaan was-was semakin bertambah. Jangan-jangan aku telah terjebak pada rutinitas hidup. Seolah aku menjilat sendiri semua ludah tulisanku. Pertentangan, solusi, kritik, tidak ada gunanya lagi dan terasa hampa. Aku benar-benar telah dikuasai tekanan tugas-tugas kuliah maupun tuntutan memperoleh nilai terbaik.

Kebebasanku tidak lebih jauh dari pada dibawah selimut tipis, beralaskan matras Pinotio warna-warni. Pandangan lain tentang kebebasan juga menyangkut segala aspek perilaku. Apabila semua orang-orang ramai-ramai mengomentari foto nggilani yang sempat aku apload 24 jam, tidak apa-apa. Mereka semua tidak lebih dari menggunjingkankku, mencemoohku, dan dijadikan bahan tertawaan sesama teman gosip. Sedikitpun aku tidak menyesali tingkah konyol mengapload foto tadi. Secara dari awal memang ada unsur kesengajaan.


Ekspresi kebebasan sudah tersalurkan melalui media sosial sangat tidak etis kata mereka semua. Anggapan paling dangkal semacam mempermalukan diri sendiri. Jika dibulatkan pada sebuah kalimat tanya, ”kamu letakkan dimana harga diri, kewibaan, serta persepsi baik semua orang tentang dirimu?” Itulah rata-rata yang bisa aku tangkap dari persepsi mereka. Rasanya memang bermacam, toh nasi sudah menjadi bubur. Bagiku sekarang semua fenomena buruk masih bagian selimut tidur dari mimpiku.

Disini aku mahasiswa, dan masih muda tentunya. Tekadku aku bisa hidup bebas dari pola konstruksi semua lingkungan tentangku. Memang berat awalnya tetapi alangkah miris nasibku, seandainya sejak kuliah semester dua kepribadianku sudah divonis. Mereka menuntutku seperti keinginannya

Kendalanya sekarang bagaimana saya menciptakan aktualisasi diri. Ya, benar aktualisasi. Aku tidak pernah berfikir sedikitpun membuang unsur itu walau melakukan pebuatan kegialaan. Pembangunan aktualisasi untuk menumbangkan beberapa ketakutan lain.

Seandainya suatu saat saya menjadi orang besar beberapa foto tadi bisa mengancam eksistensiku. Tetapi disisi lain saya merasakan suatu aura berbeda dari semua temanku. Entah apa dalam bayangan mereka sesungguhnya tentangku sekarang. Tetapi faktor kuat mendorongku melakukan kegilaan tadi ingin membangkitkan aktualisasi dari sudut lain. Rasanya saat ini seperti beku ide-ideku, gagasan-gagasan terperangkap dalam tempurung kepala, kepekaan sangat tumpul. Apabila keadaan ini berlangsung terus menerus sampai kapan saya bisa menikmati rasanya berkuliah.

Buktinya disaat waktu kita membaca, menulis, dan facebookan tidak pernah ada waktu memikirkan waktu itu sendiri. Kesibukan itu rupanya telah mengkompresi waktu menjadi sangat padat. Apa jadinya kepadatan waktu bila semua yang telah kita lakukan sehari-hari tidak bersifat merubah.

Hingga pada suatu saat apabila kita telah jauh dimasa depan akan menemukan kesulitan mengingat masa indah yang terjadi. Sebabnya tidak lain jalan kita lalui tidak pernah menemui konflik. Kedataran cerita sama dengan manejemen waktu salah. Sama seperti saya yang senang tidur dan bermimpi. Sepuluh tahun mendatang dapat dipastikan apa yang telah menjadi mimpi indahku kemarin pagi tidak ingat. Lain lagi ceritanya dengan fenomena foto itu. Siapa bisa lupa akan sesuatu nyeleneh dan menyimpang dari kebiasaan normal. Jadi saya bisa benar-benar hidup dimasa sepuluh tahun mendatang.

 Pengkontradiksian tingkah laku adalah penciptaan sebuah keseimbangan semata. Semuanya tidak akan ada kata terlanjur dan terlambat. Terlanjur bila waktu itu tetap tidak bergulir. Secara ekstrim fenomen foto nggilani berdengung kencang tanpa henti dibelakang telinga. Keterlambatan juga tidak pernah ada, yang ada hanya kesempatan memanfaatkan peluan belum pas sama keberuntungan. Kata Andri Wongso ”waktu akan selalu baru, dan diperbarui,” dalam video motivasinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar